•Happy reading•
Vote and komen jangan lupa....
"Kemana sii bos cepet banget ngilang nya." Ucap Damian di benarkan oleh Morgan.
"Bolos." Satu kata yang keluar dari mulut Nerios membuat dua sahabatnya saling pandang.
"Maksudnya?" Tanya mereka berdua dengan bersamaan.
"Qila bolos." Jelas Nerios dengan sangat singkat.
"Lo tau dari mana?" Tanya Damian pada Nerios sambil menyisir rambutnya yang basah oleh keringat membuat laki-laki itu terlihat begitu tampan.
Nerios tidak menjawab pertanyaan Damian, memilih meninggalkan dua manusia tengil itu dari pada membuatnya stres dengan tingkah laku mereka yang bisa membuat orang lain istighfar.
"Tu orang napa si? Pms apa gimana?" Tanya Damian pada Morgan.
"Kaga tau, iya keknya. Yaudah ah gue mau carinya cewek dulu mo ikut kaga lu?"
"Gak baik cok otak lu cewek mulu, tapi hayukk gass keunn."
"Si anjing kaga jelas."
•••
"Bang makan dulu." Qila membuka pintu kamar Arthan saat mendengar jawaban dari pemilik kamar itu.
"Iya, gue mau mandi dulu. Lo bisa liat-liat isi kamar ini kalo bosen nunggu gue." Qila hanya menganggukkan kepalanya.
Ia berjalan menyusuri setiap bagian kamar Arthan, ia memang jarang memasuki kamar saudaranya. Karena waktu ia masih di benci, ia dilarang oleh Arthan untuk memasuki kamarnya.
Sambil menunggu Arthan mandi, Qila melihat isi kamar itu, setelah bosan melihat-lihat Qila merebahkan tubuhnya di kasur milik Arthan. Merentangkan tangannya sambil memejamkan matanya. Tak sadar Qila tertidur pulas di atas kasur dengan wajah yang terlihat begitu lelah.
Arthan keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang sudah lengkap, matanya tertuju pada adik perempuan yang tertidur dengan posisi terlentang dan juga arah kepala yang asal.
Arthan menghembuskan nafasnya, berjalan ke arah Qila sambil menaruh handuk yang ia gunakan untuk mengeringkan rambutnya ke sofa.
Ia membenarkan posisi tidur gadis itu dengan sangat hati-hati agar tidak mengusik tidur adiknya. Terlihat wajah Qila begitu lelah walah yang sedikit pucat namun tak mengurangi kecantikannya. Setelah selesai, Arthan keluar dari kamar itu tanpa membangunkan Qila.
"Hai ma, pa." Sapa Arthan saat sudah sampai di meja makan.
"Halo sayang." Saut Rita tersenyum ke arah Arthan.
Rafa hanya melirik sekilas dan kembali melihat handphonenya.
Berbeda dengan yang lain, Rian malah terlihat sedang mencari seseorang dengan ekor matanya. "Pa? Kenapa?" Tanya Arthan membuat Rian tersadar dengan panggilan Arthan.
"Ah engga."
"Yaudah ayo kita makan." Ucap Rita tanpa bertanya dimana anak bungsunya, sudah biasa, tidak heran lagi.
Mereka makan dengan tenang tanpa ada yang berbicara. Setelah selesai makan, Arthan mengambil nasi dan beberapa lauk untuk dibawakan ke atas dimana Qila yang belum makan.
KAMU SEDANG MEMBACA
AQILA(ON GOING)
Teen FictionREVISI KALO UDAH TAMAT! DIVOTE!! JANGAN BACA DOANG ELAH! JAN PLAGIAT! HARGAIN AUTHOR YANG BIKIN YE!!! PLAGIAT JAUH-JAUH DARI LAPAK SAYA, SAYA GAK BUTUH PLAGIAT🚫 ⚠️⚠️⚠️ JANGAN BAWA-BAWA CERITA LAIN KE LAPAK INI KALO GAK MAU DISEMPROT AUTHOR ✔️✔️ IYA...
