Happy Reading Guys,
Vote dan Komen yaa
.
.
*******
Geffie dan Dakka sepulang sekolah menuju tempat kecelakaan Libra dan Abil. Mereka melajukan motor dengan kecepatan sedang.
Tibanya di sana, mereka menghentikan laju motor masing-masing. Melihat tempat kejadian yang sudah ramai oleh pihak berwajib. Mereka melepas helm dan turun dari motor.
Di tempat kejadian tersebut, ada Om Nugra yang sedang berbicara dengan rekan kerjanya di samping mobil.
Geffie dan Dakka berjalan menghampiri Om Nugra.
"Om," Geffie menyapa dengan tersenyum.
Om Nugra dan Pak Adhi menoleh, melihat dua orang yang masih memakai pakaian sekolah menyapa mereka.
"Kalian temannya Libra yang kemarin menghubungi Pak Nugra?" tanya Pak Adhi.
Geffie mengangguk. "Iya, om."
"Gimana hasilnya, om?" tanya Dakka.
"Kemungkinan kecelakaan tunggal." Om Nugra menjawab dengan sedikit keraguan.
"Yang benar aja, om? Motor Libra bagian belakang rusak parah." Dakka membantah ucapan Om Nugra.
Geffie mengangguk. "Gak mungkin kalau kecelakaan tunggal."
Pak Adhi tersenyum melihat kedua anak itu membantah ucapan Om Nugra. "Gimana keadaan Libra?"
Geffie menoleh. "Masih koma, om. Belum ada tanda-tanda membaik."
Dakka menatap Om Nugra. "Om percaya ini kecelakaan tunggal?"
Om Nugra balik menatap Dakka. "Gak ada kejanggalan di sini."
"Om gak lihat jejak roda mobil yang di rem di depan situ?" Dakka menunjuk jalan depan.
"Gak ada jejak roda yang kamu maksud."
Dakka melotot tak percaya dengan jawaban Om Nugra. "Ada."
Dakka melangkahkan kaki menuju jalan yang di tunjuk. Kedua mata Dakka semakin melotot, di jalan tersebut tidak ada jejak roda mobil yang direm. Bahkan, jalan tersebut rata seperti jalan pada umumnya. "Di sini kemarin malam masih ada bekas roda mobil, om."
Om Nugra dan Pak Adhi menatap Dakka dengan pandangan tak percaya.
"Lo ngelihat kan kemarin malam?" tanya Dakka ke Geffie.
"Gue gak begitu ngelihat jalanan."
Dakka menggeram frustasi. Sia-sia saja jika hanya dirinya yang melihat salah satu bukti tersebut.
"Sebaiknya kalian pulang saja, biar kami yang mengurus hal ini." Pak Adhi memberi saran dengan tenang.
Dakka menggeram kesal, sebelum melangkahkan kaki pergi, Dakka menendang aspal di bawahnya.
Geffie terkejut menunjuk ke bawah.
Begitu juga dengan Om Nugra dan Pak Adhi yang langsung melihat ke bawah. Terlihat krikil aspal tersebut menampakkan sedikit celah jejak roda mobil.
Om Nugra berteriak memanggil pihak penyidik.
Dakka dan Geffie disuruh untuk menepi terlebih dahulu.
"Sialan, hampir saja kita kehilangan bukti." Kesal Dakka.
Handphone Geffie berdering. "Bentar," Geffie merogoh saku celana seragam sekolah, mengambil handphone dan melihat siapa yang menghubungi dirinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
LIVE 19.00
Teen FictionSekumpulan anak terpilih yang bekerja sama dengan seorang jaksa penuntut umum untuk menyelidiki kasus. Namun, sesuatu yang janggal terlihat ketika mereka menyelidiki satu kasus dimana itu mengungkap kebenaran yang telah terkubur lama. ******* "Se-te...
