29

67 1 0
                                        


"Malu banget aku ahh." Ucap Jio dengan nada kesal sambil melempar tubuhnya ke ranjang.

"Yahh mau gimana? Kamu juga. Itu burung kenapa harus tegak di depan ayah sih?"

"Lah, emang udah berdiri dari sebelum ayah datang kan."

Rista hanya diam, ia duduk di kursi depan meja rias menatap wajahnya.

"Perasaan, dari cerita malam pertama yang sering gua denger kok asik banget yah. Kok gua nggak sih. Malah sial jatuhnya." Batin Rista.

Lamunan tentang indahnya malam pertama Rista tiba tiba buyar karena Jio memeluknya dari belakang sambil mengecup lehernya.

"Kita ulang yuk." Ucap Jio manis.

Rista hanya mengangguk sambil tersenyum. Mereka akhirnya melanjutkan adegan yang seharusnya panjang tadi.

Saat itu, mereka benar benar melakukan adegan yang mereka dambakan di malam pertama. Hampir 1 jam mereka melakukan hal sensitif itu. Hebat juga Jio dalam hal goyang menggoyang. Mereka benar benar melakukan hal itu hampir sejam lama nya dengan banyak gaya. Meskipun Rista merasa sakit, karena baru pertama kali, ia tetap menikmati setiap goyangan yang di lakukan Jio dan menuruti setiap Jio meminta nya mengubah posisi. Benar benar malam pertama yang panas.

Setelah lelah dan mengeluarkan banyak cairan di rahim Rista. Jio akhirnya berhenti dan berbaring di sebelah Rista yang sedang sedikit meringis karena masih merasakan sakit.

"Kok sakit banget yah?" Tanya Rista sambil memeluk selimut yang menutupi mereka.

"Yah emang gitu. Kan punya mu belum pernah di masukin. Jadinya masih sempit, kalau dimasukin pasti sakit karena akan melebar." Jawab Jio sedikit terengah engah.

"Kamu kok tau banyak?" Tanya Rista menatap Jio curiga.

"Yah, itukan termasuk edukasi seks sayang. Pastilah aku tau."

Setelah mendengar jawaban meyakinkan dari Jio, Rista hanya mengangguk kemudian menutup mata nya dan tertidur pulas bersama sang suami.

Karena lelah semalam dan kepuasan yang telah mereka dapat, pagi nya pukul 8 kurang mereka terbangun bersamaan dengan perasaan lega dan segar.

"Good morning my preety wife." Ucap Jio mengecup kening Rista lembut.

"Hmm, laper." Ucap Rista to the point sambil mengusap mata nya.

"Hahaha, baru aja bangun udah laper kamu. Yaudah gih, sana cuci muka ganti baju abis itu kita ke resto hotel."

"Mmm."

....

Suasana restoran hotel itu tidak begitu ramai, mungkin karena hari itu bukan weekend dan tentu saja bukan jam makan orang orang. Hanya ada beberapa meja yang terisi di restoran yang berukuran luas dan cukup mewah dengan perabotan perabotan yang berkelap kerlip.

Mereka duduk tepat di pinggir jendela kaca yang memperlihatkan pemandangan kota yang begitu ramai. Yah, Rista yang memilih tempat itu karena ia ingin menatap betapa ramainya kota tempat tinggal nya itu.

Tidak selang beberapa lama, pelayan datang memberikan buku menu dan menunggu sepasang pengantin baru itu untuk memesan makanan kemudian berlalu.

"Tuhan benar benar adil yah? Dia ngasih kita ide untuk tetap bersama tanpa mengorbankan apa pun." Jio menggenggam tangan Ana yang duduk di hadapannya.

"Yah, tapi aku masih memikirkan sesuatu sebenarnya. Emm, tentang anak kita nanti. Gimana dia? Apa agama nya harus ikut aku atau kamu?"

"Gini aja. Kalau anak kita perempuan, dia ikut agamaku dan kalau dia laki laki, dia ikut agamamu."

MBA(RISTA)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang