Kata orang, dunia itu sempit. Dulu aku tidak percaya, tetapi itu semua berubah detik ini.
Stefa Azika Isabella
Satu minggu sudah Surti dan Tejo berlibur ke Yogyakarta, saat ini mereka sudah kembali kerumahku dengan perasaan yang sumringah.
Surti tugasnya di sini adalah masak, bersih-bersih dapur dan belanja keperluan rumah.
Sedangkan Tejo, bersih-bersih area luar seperti ruang tamu, kamar-kamar dan teras serta halaman belakang. Ya, walau Tejo seorang pria. Kerjanya sangat rajin dan tepat. Usia Surti dan Tejo ini sama-sama dua puluh enam tahun.
Dia tinggal di belakang rumah, kamar sederhana tetapi mereka sangat nyaman. Aku menghembuskan napas lega, karena tugas memasak kembali ke Surti.
"Sur, hari ini masak sayur sop, sama goreng tempe tahu saja ya." Aku menghampirinya yang sedang sibuk mencuci piring.
"Baik, Bu. Sambel tomat juga nggak?" Tanyanya menatapku dengan senyum.
"Boleh, Sur. Jangan lupa goreng kerupuk ya."
Surti kemudian mengangguk dan mulai mengikuti perintah, aku berjalan meninggalkan dapur menuju taman kecil di depan rumah.
Ingin mengecek tanaman-tanaman kesayanganku, ya, walau masih sedikit koleksinya. Dan, harga-harga yang tidak tergolong mahal.
Tidak mahal asal bisa mempercantik ruangan dan rumah, juga membuat sirkulasi oksigen jadi lancar. Karena ya, hidup diperkotaan itu memang tidak bisa jauh dari yang namanya polusi udara.
Besok waktunya pembukaan cabang pertama toko sembakoku, untuk cabang ini murni dari hasil jerih payahku sendiri---bukan hasil warisan dari orangtua, di toko utama.
Lamaran-lamaran sudah masuk, dan hari ini waktunya aku wawancara mereka satu per satu di rumah. Tejo sudah pergi, membeli teh kemasan yang siap minum. Buat suguhan mereka.
Jadinya hari ini, kesibukanku di rumah. Karena jadwal wawancara dari pagi hingga sore secara bertahap. Sekitar dua puluh pelamar yang masuk. Entah berapa yang datang untuk interview.
"Bu," Efano datang menghampiriku yang sedang mengganti salah satu tanaman.
"Iya, Nak. Mau berangkat kamu?" Aku memperhatikannya yang sudah siap mengenakan seragam sekolah.
Efano mengangguk, aku tidak mungkin bersalaman dengan dia. Karena tanganku masih kotor. Elano dia sedang mandi, sebelum berangkat ke kantornya.
Setelah anakku benar-benar pergi dengan sepeda kayuhnya, aku segera melanjutkan pekerjaan dan lekas mandi untuk sarapan dan bersiap-siap interview orang.
---
Aku sudah berada di meja makan dengan masakan yang sudah dihidangkan oleh Surti, Elano duduk berhadapan denganku.
Surti dan Tejo juga makan di dapur, sudah menjadi tradisi ketika kami makan. Mereka berdua juga harus makan.
Aku mengambilkan nasi beserta lauk pauk yang ada, tempe dan tahu goreng, sambal tomat, sayur sop. Sama kerupuk rambak kesukaanku.
Elano mengenakan kemeja berwarna biru muda polos, sedangkan aku menggenakan baju batik dengan rok hitam panjang selutut. Rambut kugerai.
"Kamu gak ke toko?" Tanya Elano ketika memberikan piringnya.
Aku menggeleng, dia masih menatapku dengan tenang. "Sebentar lagi, ada interview. Buat pembukaan toko besok."
"Semoga menemukan pegawai yang bagus ya," dia bergumam sambil mengunyah.
Ya, aku selalu berharap tidak salah dalam memilih pegawai. Yang rajin dan loyalitas tinggi itu dua poin utama serta ada poin-poin selanjutnya yang masuk kriteria.
Termasuk on time, jujur, tidak suka berbohong dan terlebih lagi bisa bekerja sama.
Aku mengangguk dan kami mulai makan dalam diam, sebuah keharusan yang sudah jadi kebiasaan. Karena kebiasaan baik harus terus dilanjutkan.
"Besok hadir ya pembukaan toko," aku berbicara setelah menelan satu sendokan terakhir sebelum minum.
Selepas makan, Elano berangkat kerja diantar oleh Tejo. Tejo baru saja kembali setelah membeli minuman teh. Elano tidak mengunakan motor, katanya sedikit mengantuk.
---
Beberapa menit kemudian, seorang pelamar pria sudah datang. Mereka yang akan wawancara mengenakan pakaian bebas asalkan rapi---sesuai pesan yang dikirim Pak Andika di WhatsApp kepada para pelamar.
Ya, sejak dua minggu yang lalu. Kami sudah menyebar informasi lowongan pekerjaan di grup media sosial lowongan pekerjaan, dan akun pribadiku juga Pak Andika.
Aku dan pria yang duduk dihadapanku ini sama-sama berkacamata. Dia menyunggingkan senyum sebelum memberikan sebuah map kertas yang berisikan surat lamaran pekerjaan.
"Asta Dariawan ya?" Aku menatap dia---pria ini bisa kutangkap sedang deg-degan.
Ya, sudah menjadi hal lumrah kalau seseorang yang melamar pekerjaan ini seperti itu. Entah, mungkin karena takut salah bicara atau bisa juga grogi bertemu calon atasannya jika keterima bekerja.
"Ya, Bu. Saya Asta. Bisa Ibu lihat di surat lamaran saya, bahwa saya baru saja lulus sekolah menengah atas. Dan ingin sekali bekerja dengan giat, sebagai pengalaman atau pegangan saya ke depan." Asta menjelaskan sambil aku membaca lembar demi lembar lamaran dan prestasi-prestasinya.
Asta ini sangat berjiwa pemimpin, ketika aku melihatnya. Gaya bicaranya yang tegas tetapi tenang. Itu bisa menjadi cadangan ketika nanti, jika keterima.
Aku bertanya-tanya soal kehidupannya dan menjelaskan perihal jam kerja, gaji, dan sistem-sistemnya. Setelah semua selesai, Asta berpamitan dan digantikan oleh pelamar selanjutnya.
Hingga pukul tiga sore, sudah ada dua belas dari dua puluh pelamar yang dipanggil untuk wawancara datang. Tinggal satu orang lagi yang baru datang, sedang membuka jas hujan---sebab di luar sangat deras.
Dia masuk, dan menyapaku dengan anggun.
"Selamat sore, Bu." Sapanya dengan senyum yang sangat manis.
"Kamu!" Tiba-tiba aku teringat sesuatu, untungnya aku berteriak dalam hati.
Bersambung...
.
.
.
HIUS sudah update. Tetapi sedikit saja, ya.
.
.
.
Siapa perempuan yang ditemui Stefa? Hingga dia kaget?
.
.
.
Follow, vote semua bab, dan komentar ya.
.
.
.
See you!
KAMU SEDANG MEMBACA
Hadiah Istimewa Untuk Suamiku (Dewasa)
General FictionVOTE DULU SETELAH BACA! FOLLOW JUGA! "Bangkai itu tidak bisa ditutupi, Mas!" Stefa Azika Isabella, pemilik Toko 29 sedang menyelidiki secara diam-diam perselingkuhan suaminya Elano Kenzo Gautama---dibantu oleh asisten pribadinya. Perselingkuhan Elan...
