Efano Corporation
+6287541619××××: Teman-teman ada yang mendapatkan pesan dari orang tidak dikenal?
+6289111333××××: Iya, aku juga dapet.
+6289333111××××: Dia memang mengancam suruh aku keluar dari tempat ini.
+6282688888××××: Loh kok sama?
+6283000011××××: Siapa ya? Padahal aku tidak perah menyebarkan nomor.
Pras: Ada apa ini?
+6287541619××××: Ada orang yang meneror kita, pakai nomor asing Mas Pras.
Aku dibangunkan oleh gawai yang masih berbunyi menjelang tengah malam, menyimak obrolan yang ada di grup Efano Corporation membuat aku terkejut.
Tadi sore, ada teror tomat dan telur busuk. Ternyata masih berlanjut dengan menyasar para karyawanku tanpa terkecuali. Pesan lain terus bermunculan masuk.
Aku membaca sambil duduk di atas ranjang. Tubuh kubalut dengan jaket---karena malam ini cuaca lumayan dingin.
Entahlah, siapa yang kurang ajar berani-berani menyuruh mereka untuk keluar dari perusahaan, tempat mereka telah lama bernaung.
Pikiranku tertuju hanya pada satu orang, Elano. Tetapi kenapa dia menggunakan nomor asing? Apa laki-laki ada di luar? Uang dari mana? Sedangkan seluruh aset dan kartu rekening sudah kembali ke tanganku! Aku segera mengetikan sesuatu di grup.
Anda: Kalian tetap tenang ya, jangan takut. Ibu akan selidiki ini secepatnya.
Terkirim, mereka yang kebanyakan masih belum tidur. Dan, ada yang shift malam. Langsung merespon dengan 'baik, Bu.'
Aku beralih menuju ke pesan Pak Andika, mulai mengetik juga. Dia aktif delapan jam yang lalu. Ah, biarlah! Supaya besok pagi dia langsung membaca pesan ini.
Stefa: Pak Andika, besok bantu saya selidiki teror yang menyasar anak-anak ya.
Terkirim juga, aku segera memejamkan mata. Supaya besok pagi, pikiran menjadi segar dan bisa mencari ide-ide cemerlang.
Hingga pukul empat pagi, aku tidak bisa tidur dengan nyenyak. Dengan dua kali terbangun dari mimpi. Aku bangkit menuju dapur untuk mengambil air minum.
Surti ternyata sudah berada di dapur, dia bekerja ditemani oleh Tejo. Karena perutnya yang terkadang menganggu aktifitasnya. Ya, setelah dicek Surti hamil. Usia kandungannya baru empat minggu.
"Bu, butuh apa?" Surti bertanya sambil mencuci beras.
"Nggak, cuma mau minum kok." Aku mengambil gelas yang ada di atas meja dapur.
"Saya bantu masak Surti? Kamu kuat?" Sambungku sambil mulai menandaskan minum.
Surti menggeleng, "tidak bu. Lagian sudah ada Mas Tejo."
Tadi malam---sebelum aku masuk ke kamar. Melihat ke belakang---tempat Surti dan Tejo tinggal. Surti tampak lemas, dengan suami yang siaga di sampingnya.
Persis saat aku hamil Fano dulu, kehamilan muda memang harus dijaga benar-benar. Karena merupakan hal yang rentan.
Dulu, saat Fano masih berupa janin. Elano sangat memanjakanku---siaga 24 jam penuh, takut-takut kalau tiba-tiba pengin sesuatu.
Ya saat Fano masih ada di dalam, ayahnya ini sering sekali menjengguk. Waktu itu aku takut kalau dia 'jajan' di luar---alhasil, meski hamil. Aku tetap mau disentuh oleh dia.
"Ayolah, bantuin sayang," Rengek Elano saat itu---masih kuingat dengan jelas.
"Oke, tetapi pelan-pelan ya." Jawabku. Seperti diberi hadiah lebih dari satu triliyun---Elano bersemangat melucuti pakaiannya sendiri. Kemudian, dia melakukan hal yang sama terhadap diriku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hadiah Istimewa Untuk Suamiku (Dewasa)
Ficción GeneralVOTE DULU SETELAH BACA! FOLLOW JUGA! "Bangkai itu tidak bisa ditutupi, Mas!" Stefa Azika Isabella, pemilik Toko 29 sedang menyelidiki secara diam-diam perselingkuhan suaminya Elano Kenzo Gautama---dibantu oleh asisten pribadinya. Perselingkuhan Elan...
