Bab 21 - Sidang Pertama

3K 155 1
                                        

Aku sudah berada di Pengadilan Agama. Dua hari yang lalu---tiga hari setelah Pak Santo meninggal dunia. Surat panggilan sidang datang ke rumah, dikirim oleh pihak pengadilan.

Aku akan ceritakan kepada kamu, kejadian beberapa hari kemarin. Saat surat itu tiba.

"Bu apa benar? Bahwa Pak Elano, tergugat, sekarang masuk penjara ya?" Tanya dia sebelum pergi---selesai memberikan surat.

"Iya, untuk surat pemberitahuan sidang. Biar saya yang mengantarnya ke sana," aku berbicara sedikit memohon.

Pria itu tampak ragu, mungkin dia berpikir aku tidak mungkin mengirimkan itu ke penjara. Supaya proses persidanganku berjalan cepat dan lancar.

"Ibu yakin akan memberikan suratnya?" Tanya dia ragu-ragu.

Nah! Benar bukan apa kataku tadi? Kalau tidak Fano yang merengek minta bertemu ayahnya. Mungkin aku tidak memberikan sungguhan panggilan ini.

"Pasti akan saya berikan, tenang saja. Soalnya anak saya, minta bertemu dengan ayahnya." Jawabku sambil menadahkan tangan kanan.

Dengan tidak yakin, petugas itu memberikan surat untuk Elano kepadaku. Seburuk-buruknya pasangan kita, dia adalah tetap orangtua kandung dari keturunannya. Aku tidak bisa menampiknya.

Selepas petugas itu pergi. Aku segera masuk untuk beres-beres bersama Fano, ini hari Senin. Dia terpaksa minta izin untuk tidak masuk satu hari. Karena kepentingan ini.

Surat izin yang ada tanda tanganku, langsung saat itu juga dikirimkan oleh Tejo ke sekolah.

"Ayo, jangan lama-lama Fano. Katanya mau bertemu sama Bapak," aku berteriak di depan kamar Fano.

Entah apa yang disiapkan oleh anakku ini, lama sekali aku berdiri di depan sini. Ketika keluar, aku terkejut dia membawakan Fano sebuah sertifikat hasil menjuarai lomba terbarunya beberapa hari yang lalu.

"Buat apa kamu bawa itu?" Aku memegang sertifikat berlatar belakang putih.

"Buat ditunjukan ke Bapak, Bu. Supaya dia tahu, kalau anaknya ini sedang berjuang menuju sebuah kesuksesan," Fano menampilkan giginya ke arahku.

Aku kagum dengan ucapan dia barusan, benar-benar seperti bukan anak masih remaja. Tegas, berwibawa. Untungnya, dia menurunkan sifat dariku. Jika dari ayahnya, apa jadinya?

"Kenapa Ibu menggeleng sendiri?" Aku tersadar---ya, aku baru saja membayangkan jika sifat dan watak Fano diturunkan dari ayahnya.

"Enggak, kepala Ibu kaku," Aku mencubit pipinya. "Sudah siap, ayo kita ke tempat ayah!" Sambungku.

Ngomong-ngomong tentang berita Elano ditangkap oleh polisi, Fano sudah tahu langsung dari televisi lokal yang menayangkan penangkapan ayahnya.

Dia, kata Surti saat itu, langsung kecewa. Bahkan tidak mau berangkat sekolah. Entah, mungkin anakku malu, mempunyai ayah sebagai seorang tahanan.

Tetapi setelah bujuk rayu Surti, karena pada saat kejadian aku berada di rumah duka. Akhirnya Fano mau sekolah. Untungnya, ketika pulang dia bercerita tetap diperlakukan dengan baik oleh kawan-kawannya. Dari mereka, juga lebih banyak empatinya. Baguslah.

Aku minta dijemput Pak Andika, karena dia juga penasaran dengan keadaan Elano di sel sekarang.

"Ayo, Pak Andika jalan," anakku lebih bersemangat ketika dekat dengan mobil.

---

Di dalam kantor polisi, aku bertemu dengan petugas jaga. Untungnya langsung diberikan izin. Dengan catatan waktu kunjungan hanya sepuluh menit, lumayanlah.

Hadiah Istimewa Untuk Suamiku (Dewasa)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang