Bab 41 - Terkejut

714 43 1
                                        

Hasil dari obrolanku dan Arlo kemarin sudah disepakati, yakni 16 Februari 2016. Kita akan melaksanakan prosesi akad nikah. Arlo---dia sudah berangkat ke Surabaya, tadi pagi.

"Bu, untuk rumahnya ini memang sangat prospek?" Pak Andika berkata sambil melihat ke spion tengah.

Masih pukul delapan pagi, aku dan Pak Andika sudah berangkat untuk menuju ke rumah yang tidak sengaja kujumpai dengan Arlo kemarin malam. Saat itu juga aku mengatur janji dengan pemilik rumahnya.

Katanya, jika memang aku berminat membeli rumah ini. Supaya segera dilakukan, karena pemilik rumah sebelumnya akan pindah ke Jakarta dengan anaknya.

"Pastinya prospek, saya aja sudah niat dan yakin membeli rumah ini sebagai investasi jangka panjang Pak." Jawabku.

"Rencananya digarap kapan, Bu? Supaya kita bisa segera cari tukangnya."

"Masih awal tahun, mungkin setelah acara pernikahan saya dan suami. Supaya tidak bentrok."

Aku sangat memikirkan untuk masa depan Fano dan adik-adiknya nanti, karena usia seseorang tidak ada yang mengetahui.

Gawaiku sekarang sepi, absensi pindah ke nomor kantor dan dipegang oleh Pras. Pras memang kerjanya sekarang hanya menghadap komputer---kerja otak istilahnya.

Tetapi orang-orang seperti Pras ini lebih rawan mentalnya. Makanya, aku dan staf lain benar-benar menjaga mental Pras. Sekalinya rusak, pasti akan rusak semua.

"Pak Andika dan Pras itu sekarang orang-orang terpenting di perusahaan saya." Aku berkata sendiri.

"Saya akan bekerja semaksimal mungkin, Bu." Pak Andika tersenyum ke arahku.

Oh iya, aku lupa. Surti dan Tejo serta bayinya akan pulang siang nanti. Aku tidak bisa ikut menjemputnya, karena jadwalku dan Pak Andika lumayan padat hari ini.

Setelah membeli rumah, aku akan ke distributor. Karena barang-barang di toko sudah mulai habis. Kemudian, pergi ke petani cabai di Kabupaten Malang. Untuk meminta memasok cabai dengan jumlah banyak.

Aku jarang sekali datang ke distributor langganan dan ke petani cabai. Semua itu dilaksanakan oleh tim-tim kantor.

Mobil yang kukendarai dengan Pak Andika sudah sampai di depan rumah di kawasan padat penduduk yang bangunan-bangunannya juga dipakai sebagai rumah kos juga.

Aku disambut dengan ramah oleh sepasang suami istri---saat aku tiba di rumah tiga lantai ini. Pak Andika berdiri dibelakangku.

"Bu Stefa? Mari silakan dilihat-lihat dulu rumahnya," ucap perempuan di depanku.

"Dilantai satu ini ada enam ruangan, dan dapur ada di bagian paling belakang." Suaminya juga ikut menjelaskan.

"Ini sepertinya prospek Bu, kalau untuk dipakai buat kos-kosan mungkin letaknya bisa dirubah dulu." Pak Andika membisikanku.

Ya, aku setuju. Perlu ada pemugaran di lantai satu. Bukan, bukan untuk tempat parkir motor. Melainkan harus ditata supaya tidak jadi enam ruang saja. Untuk halaman parkirnya juga luas di depan.

Tinggal ditambah pagar dan kamera pengawas saja. Supaya para penyewa betah, saat fasilitas di dalam kos-kosan ini memadai.

"Kita ke lantai dua sekarang?" ajak perempuan itu.

"Pak Andika saja ya, saya pasti membeli rumah ini kok. Pak, Bu, sebentar saya ada urusan."

Tiga orang itu menangguk-angguk dan melanjutkan perjalanannya ke lantai dua. Karena ada panggilan masuk dari Surti.

"Bu, mohon maaf mengganggu." suara Surti terlihat cemas di sana.

"Iya halo Surti, ada apa?" aku berkata dengan nada sedikit penasaran.

Surti nampak diam beberapa saat, entah kenapa aku tiba-tiba teringat kegugupan Tejo dan Ningsih kemarin.

"Lho, Tejo tidak ada di rumah sakit? Kok bisa? Hah? Sudah dibolehkan pulang pagi ini?" Kagetku bukan soal Surti diperbolehkan pulang. Melainkan tidak adanya Tejo di rumah sakit.

Jika aku pergi ke rumah sakit sekarang, membuat pekerjaan jadi terbengkalai lagi. Tejo ke mana sih? Dia tidak seperti biasanya seperti ini. Aku memegang keningku mencoba mencari cara.

"Kamu sudah mencoba menghubunginya? Hah? Tidak diangkat?" Aku kembali kaget.

Istrinya baru melahirkan anaknya, malah suaminya menghilang entah ke mana. Kata Surti tadi Tejo sudah tidak ada di rumah sakit sejak dia tersadar dari tidurnya.

Itu berarti, Tejo tidak pamit ke Surti saat hendak pergi. Kulihat Pak Andika dan sepasang suami istri itu sudah kembali ke bawah.

Aku merogoh cek berisi nominal sesuai kesepakatan di awal, untungnya sudah mendapatkan harga potongan dari pemiliknya. Cek itu aku berikan ke Pak Andika---sedangkan panggilanku dan Surti masih berlangsung.

"Bapak, Ibu, ini ceknya bisa dicairkan ya. Surat-surat dan sertifikat rumah ini bisa saya bawa?" Pak Andika memberikan cek itu.

"Oh, tentu. Silakan, ini beserta kuncinya ya. Terima kasih banyak, Pak Andika dan Ibu Stefa." mereka berdua menyalamiku dan pamit pergi.

---

"Pak, Tejo kok belakangan ini berubah ya?" Aku bertanya kepada Pak Andika.

Mobil kami sudah berlalu meninggalkan rumah baruku. Sekarang waktunya menuju ke Kabupaten Malang. Ke tempat pemasok cabai untuk restoran.

Pak Andika sedikit bingung saat aku menanyakan hal itu secara tiba-tiba. Tanpa menjelaskan sedikit pun asal permasalahannya.

Entahlah, aku malah semakin berpikiran yang tidak-tidak kepada Tejo. Padahal aku mengerti berpikiran buruk itu tidak baik. Sama sekali.

"Maksudnya bagaimana ya, Bu?" Tanya Pak Andika yang masih fokus mengemudikan mobil.

"Kemarin."

Aku mulai menjelaskan secara rinci saat aku memergoki Tejo gugup bersama Arlo, juga tingkah laku asisten baruku yang sedikit tidak masuk akal. Ningsih.

Kedua, tentang menghilangnya Tejo hari ini. Padahal dia dicari Surti untuk membantunya beres-beres sebelum pulang ke rumah.

"Tumben ya Bu? Apa gara-gara ada Ningsih dia jadi berubah?" Pak Andika menebak yang sama denganku.

Kemarin aku juga berpikir demikian, ketika Ningsih datang. Tejo sangat berubah, yang tadinya kukira dia sangat menyayangi istrinya. Tetapi sekarang dia pergi saja tanpa seizin belahan jiwanya itu.

Aku sampai belum minat untuk membahas apa saja yang dilihat Pak Andika di lantai dua dan tiga di rumahku yang baru saja dibayar tadi. Pak Andika juga demikian, dia tidak menceritakan apa saja yang terjadi di atas tadi.

Kucoba menghubungi lagi Surti, kali ini bukan panggilan suara---melainkan panggilan video. Langsung terhubung.

"Halo, Surti. Bagaimana suamimu sudah bisa dihubungi?" Aku melihat mata Surti sembab.

Dia sepertinya habis menangis, saat-saat penting ini. Dalam momentum bahagia, Surti malah ditinggal sendiri oleh Tejo di rumah sakit.

"Belum, Bu," jawab Surti lemas.

"Kamu naik taksi saja, pulang ke rumah. Minta bantuan suster untuk bawa barang. Ibu masih mau ke Kabupaten ini," aku menunjukan jalan raya di depan.

"Baik, Bu."

Aku mematikan panggilan video, perjalanan ke tempat petani cabai itu masih jauh dari kota. Mobilku masih dalam lingkungan kota. Dalam menghabiskan perjalanan aku hanya diam sambil sesekali menghubungi Arlo.

Arlo memang dari tadi belum menghubungiku, mungkin sibuk menyelesaikan agar satu hari jadi. Tetapi rasanya tidak mungkin. Estimasiku sekitar tiga hari.

Bersambung...

Kamu sudah vote?

Kamu sudah komentar?

Kamu sudah follow akunku?

Terima kasih banyak ya,
Sayang kalian.

Hadiah Istimewa Untuk Suamiku (Dewasa)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang