Efano dan Surti pulang pada sore hari, entah mereka habis ke mana? Aku benar-benar tidak ke toko hari ini, darahku masih mendidih melihat dan merasakan ditampar oleh Indri tadi.
"Bapak, ke mana?" Efano yang baru saja berganti pakaian. Datang, menghampiriku di ruang kerja. Sedang merekap laporan pergantian shift.
Ruang kerja ini memang memiliki dua meja besar dan setiap meja ada kursi empuk yang memiliki sandaran. Tempat ini, adalah tempatku dan Elano letaknya di lantai bawah, persis di bawah kamar Efano. Tetapi, jarang sekali dia ada di sini.
Nah? Aku harus menjawab apa? Apa aku berbohong saja? Atau jujur? Jika jujur aku takut Efano berpikiran yang tidak-tidak. Juga, kalau berbohong. Aku akan terus-terusan berbohong kepada anakku.
"Bapak, tinggal di rumah Nenek untuk sementara," aku memperhatikan Efano yang duduk di meja ayahnya.
Aku tidak berbohong, bukan? Meski tidak langsung tanya Elano sekarang ada di mana? Tetapi, aku yakin bahwa laki-laki itu berada di rumah orangtuanya. Mau tinggal di mana lagi? Di rumah jalang itu juga tidak mungkin.
"Untuk apa? Apa Ibu sama Bapak bertengkar?" Efano melihatku dengan tatapan tajam.
"Sementara di sana, Efano. Bukan selamanya," aku bangkit dan membawa sofa ke depan Efano. Duduk berhadapan.
"Jawab aku, Bu. Kenapa?"
"Ya, Bapak sama Ibu tadi habis bertengkar," aku menunduk. Tidak berani menegakkan kepala. Takut melihat raut muka anakku.
Jika kamu bertanya, apa hubungan rumah tangga kami baik-baik saja? Kamu salah. Rumah tangga kami seperti kebanyakan orang di luar sana. Sering beradu argumen, emosi, perang dingin. Sudah pernah aku alami. Tidak ada pasangan suami istri yang hidupnya lancar saja, pasti ada pekara walaupun kecil.
Tetapi aku dan Elano jarang sekali memamerkan pertengkaran kami di depan Efano takut dia ingin tahu, seperti sekarang. Terkadang, pertengkaran itu kami luapkan di luar rumah atau di kamar dengan suara televisi yang tinggi.
"Bertengkar? Lalu kenapa Bapak tinggal di rumah Nenek? Apa Ibu mengusirnya?" Efano masih menatapku, tanpa berkedip.
"Tidak, Nak. Ibu sama Bapak masih mendinginkan kepala," aku bangkit dan mendekat ke Efano.
Mengelus rambutnya. Ketika aku hendak mendaratkan tangan. Efano berdiri dan tanpa menggubrisku yang hendak memeluknya.
"Ibu jahat! Ibu tega-teganya mengusir Bapak. Ibu ngusir Bapak, berarti Ibu tidak sayang ke Bapak!" Efano berteriak di dekat pintu sebelum pergi.
Aku yang mengerti keadaan ini, segera kukejar Efano. Dia mulai menaiki anak tangga, dipanggil-panggil tetapi tidak ada respon dari Efano.
Inilah, yang kutakutkan terjadi. Anakku memberontak, tanpa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Walau dia masih SMP---daya serapnya tinggi sekali.
"Fano, buka pintunya. Ibu mau ngomong," aku mengetuk pintu bercat biru yang tertutup rapat ini.
Aku tidak mendengar suara kegaduhan di dalam sana, apa Efano sedang tidur? Namun, setelah aku berdiri sepuluh menit di depan pintunya. Pintu itu langsung terbuka lebar. Efano muncul dengan membawa tas ransel berwarna hitam.
"Aku mau nyusul ke rumah Nenek," pernyataan Efano membuatku terlonjak.
"Ngapain?"
"Aku mau bicara sama Bapak, mau seminggu berada di rumah Nenek" Dia berbicara lirih sama menunduk.
Ingin kucegah dengan cepat, aku tidak tahu Efano nanti diperhatikan apa tidak sama bapaknya? Kalau sama nenek dan kakeknya, aku tahu dia pasti terjamin kehidupannya. Tetapi aku tidak mau pisah dengan Efano.
"Nak, sini. Ibu mau menjelaskan sesuatu ke kamu," aku mengekori dia yang sudah berada di lantai bawah.
"Apalagi Ibu?"
"Kamu katanya sayang sama Ibu? Pasti menurut dong?" Aku berhasil memegang kedua pundaknya.
Efano nampak diam tanpa kata, dia menunduk dan suara tangisan yang sangat membuatku ikut sakit. Efano menangis, dengan kencang. Dia berbalik badan dan berlari ke arahku. Tenggelam dalam pelukan. Aku juga tidak kuasa menahan air mata.
Bagaimana perilaku Elano kepadaku, bahwa yang bersangkutan memang anaknya. Darah daging dia, ada dua darah yang mengalir dalam tubuhnya. Darah dari keluarga Elano dan keluargaku. Siapa saja tidak dapat merubahnya.
Pertikaian ini, memang Efano tidak tahu. Tetapi, aku yakin dia sudah melihat dari kamera pengawas. Yang terhubung di gawainya juga.
"Kamu sudah lihat CCTV di hp?" Aku mengelus rambutnya, dengan air mata yang menetes.
Efano mendongak, kemudian mengangguk. "Tadi, aku melihat sebentar. Perempuan itu siapa, Bu?"
Aku mengerti perempuan yang dimaksud oleh Efano adalah Indri, Efano sama sekali tidak pernah bertemu dengan Indri secara langsung. Hanya saja, Indri sering mengirim makanan-makanan untuknya beberapa tahun lalu. Hampir setiap hari, dia titipkan kepada Elano.
Aku mengetahui ini ketika salah satu kurir datang mengantar satu paket pizza dua tahun yang lalu.
"Ini dari siapa, Mas?" Tanyaku sambil menerima kotak bersusun lima itu.
"Ini dari Ibu Indri, katanya minta dikirim ke alamat ini untuk Efano." Jelas dia.
Efano yang sedang bermain mobil-mobilan di belakangku dia langsung berlari ke arahku dan mengambil pizza itu. Tersenyum senang dan kembali ke tempat semula---mulai membukanya.
"Terima kasih, Mas," aku tersenyum ke arahnya.
Efano tidak bertanya. Perihal kiriman pizza itu, yang dia tahu hanya bagaimana cara untuk menghabiskan satu kotak mini pizza paling atas. Efano kecil, tidak secerdik sekarang, tetapi kepintarannya sudah terbukti sejak dia berada di kelas satu sekolah dasar.
Tetapi untuk soal-soal masalah berat dia masih belum mengerti. Perihal mengapa dan bagaimana itu terjadi.
"Itu pacarnya Bapak, namanya Indri," aku berlutut sambil memegang pipinya.
"Pacar? Bapak sudah punya Ibu. Kok dia masih punya pacar ya?" Dia dengan polosnya bertanya seperti ini.
Aku hanya tersenyum. Tidak mau menjelaskan dengan panjang, takut konsentrasi belajar dan mengejar mimpinya terganggu. Dan Fano jadi mati-matian membenci Elano.
"Jadi, bukan Ibu yang jahat Fano. Ibu seperti ini, supaya Bapak kamu sadar," aku melanjutkan perkataanku.
Diamnya Efano bisa kuartikan sebagai paham, dia memelukku lagi. "Maafkan Bapak ya, Bu," katanya tulus.
Kuelus punggung kecil anakku yang dibalut kaos berwarna merah ini, sebegitu sayangnya dia kepada Elano. Sampai-sampai mewakili untuk meminta maaf kepadaku. Demikian dengan Efano, dia juga mengelus punggungku.
"Fano, masih ingin jadi penulis bukan?" Aku berbicara sambil tetap memeluknya. Kurasakan kepalanya naik, turun. Mengangguk.
"Nah, kalau mau jadi penulis. Kamu juga harus rajin belajar dan mencoba menulis sejak sekarang, jangan tunggu besar nanti. Tulis saja cerita anak-anak," imbuhku.
"Begitu ya, Bu? Apa Efano bisa?" Nah, sikap tidak percaya dirinya ini memang sering muncul.
"Tidak ada sesuatu yang tidak mungkin, Nak. Semua itu didasari dengan ini dan ini," aku menyentuh dada dan kening Efano.
"Kalau kamu niat dari hati, pasti kamu akan mudah berpikir untuk mencari jalan guna mewujudkan cita-citamu," jelasku kembali tersenyum ke arahnya.
Fano kemudian menciumku dan berjalan ke arah kamarnya kembali. Kuperhatikan tubuh yang mulai besar itu berjalan maju ke atas. Sesuai dengan doaku, semoga dia selalu naik ke atas dan tetap menunduk bila berjalan.
Untungnya dia sudah disunat ketika naik ke kelas lima, jadi tugasku lunas satu. Tinggal melihat tumbuh dan berkembangnya untuk meraih mimpi-mimpinya.
Bersambung...
Hadiah Istimewa Untuk Suamiku sudah update. Jangan lupa spam vote setiap bab ya, sama bom komentar. See You Next Time.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hadiah Istimewa Untuk Suamiku (Dewasa)
General FictionVOTE DULU SETELAH BACA! FOLLOW JUGA! "Bangkai itu tidak bisa ditutupi, Mas!" Stefa Azika Isabella, pemilik Toko 29 sedang menyelidiki secara diam-diam perselingkuhan suaminya Elano Kenzo Gautama---dibantu oleh asisten pribadinya. Perselingkuhan Elan...
