Bab 23 - Tidak Sengaja atau Sengaja?

3K 121 2
                                        

Hari pertama di Surabaya, aku sedang berada di sebuah rumah sederhana. Ini adalah dua minggu setelah sidang pertama perceraianku dengan Elano.

Aku sewa rumah ini selama satu bulan ke depan. Untuk Fano, dia akan datang satu minggu sekali. Ditemani oleh Tejo dan Surti.

Ya, sengaja memang aku menyewa rumah. Karena ingin melihat kesiapan pembukaan cabang di sini. Juga untuk mewawancara, semua calon karyawan.

Lamaran pekerjaan mereka sudah mulai berdatangan, sebelumnya mereka sudah menghubungiku melalui pesan. Bertanya, di mana bisa meletakan surat lamarannya?

Pembukaan semua outlet dan toko di Surabaya, satu bulan lagi dari sekarang. Entahlah, mungkin jika ada panggilan sidang kedua. Aku harus meninggalkan sementara, kembali ke Malang.

"Sepi juga gak ada Fano," aku bergumam sendiri seraya berjalan keluar.

Rumah yang aku sewa ini benar-benar di dekat jalan raya---tidak masuk ke dalam gang. Pantas saja, harga sewa lumayan naik.

Karena memang, sesuatu yang berada di depan jalan raya. Baik itu kanan dan kiri jalan, pasti bisa menguntungkan. Dengan membuka usaha dan bisnis.

Aku membuka pintu ruang tamu. Tepat di depan rumah yang aku sewa ini---ada satu toko dan outlet yang sedang tahap renovasi. Aku sengaja menyandingkan outlet dan toko. Supaya monitornya cepat dan mudah.

Ada lima titik yang sedang dilakukan renovasi secara bersamaan. Entahlah, semakin ke sini. Aku lebih suka seperti ini---sibuk, tetapi menghasilkan uang.

Aku mengerjapkan mata berulang kali, ketika melihat seorang laki-laki yang melintas dan juga menoleh serta tersenyum ke arahku.

"Hei! Tunggu!" Aku mencoba berlari, mengejar dia yang terus berjalan. Tetapi sial, gerbangku terkunci.

Aku sudah mengenalinya, dia adalah seseorang yang dekat denganku sejak lama. Teman Mas Ulya. Dia masih saja mengenakan kalung tali pemberianku saat dia merayakan hari jadi kelahirannya.

Kalung dari tali itu berwarna hitam dengan ada huruf 'A' yakni Arlo. Ya, nama dia Arlo Rubin Yahya. Masih teringat jelas nama lengkapnya diingatanku.

Aku terakhir bertemu dengan dirinya sejak baru menikah dengan Elano, tepat tiga tahun pengajian meninggalnya Mas Ulya. Memang, aku menikah dengan Elano itu belum genap seribu hari meninggalnya Mas Ulya.

Jadi, Elano juga tahu bahwa aku pernah menikah. Oh iya, aku belum cerita kepadamu bagaimana hubungan atau awal perkenalanku dengan Elano dulu.

Saat itu, dia sedang belanja di toko yang sudah mulai aku urus. Aku masih ingat, dia membeli rokok kretek dengan harga masih tiga ribu rupiah. Dan, itu terbuat dari jagung.

Makanya, orang-orang penikmat rokok jenis itu menyebutnya sebagai rokok jagung. Termasuk Elano.

Elano remaja dulu memang berbeda dari sekarang, dia dulu benar-benar selayaknya primadona. Banyak perempuan yang tergila-gila dengannya. Padahal, untuk perekonomian dia bisa dibilang kurang.

Mereka menyukai fisik Elano, karena tampan seperti aktor tahun 90-an. Dengan celana jeans pada masanya dipadukan dengan turtleneck dan blazer berwarna coklat yang membuat Elano semakin kelihatan karismanya.

Termasuk aku, masih ingat. Saat itu aku mengenakan kemeja kotak-kotak dengan perpaduan warna merah dan hitam, dengan dalaman putih. Serta celana jeans komprang berwarna abu-abu.

Tidak dipungkiri, aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Jadi, pada akhirnya. Sejak saat itu juga Elano sering datang untuk sekadar membeli rokok bahkan hanya dengan tujuan mendekatiku.

Hadiah Istimewa Untuk Suamiku (Dewasa)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang