Bab 45 - Menjelang Bakti Sosial

570 43 1
                                        

Tiga hari menjelang acara bakti sosial di Perusahaan Efano, sembako-sembako dari semua karyawan sudah berada di rumah. Tertumpuk rapi pada sudut ruang tamu.

Sofa dan meja sudah dipindahkan untuk sementara di bawah anak tangga yang menuju lantai dua. Karena ada ruangan kosong di sana.

Inilah alasan yang membuat Arlo datang pagi sekali ke rumah, yakni ingin membantu aku. Termasuk juga dengan Pras---akan segera datang.

"Banyak sekali, Bu. Saya bantuin ya nanti," Surti datang sambil menggendong anaknya.

"Boleh, Sur. Nanti dulu ya, nunggu Pras datang sama Fano bangun."

Aku belum pernah menggendong anaknya Surti---jadi sekarang kuputuskan untuk menggendong dia yang belum berusia satu bulan ini.

Arlo yang dari dapur, dia mendekat ke aku dan membawa secangkir kopi bikinan sendiri. Padahal, tadi aku sudah menawarkan untuk membuatkan dia kopi.

"Ste, coba gantiin Surti gendong anaknya," Arlo memegang pinggangku.

Aku segera menepisnya, karena ada Surti juga. Bukan kita berdua. Aku tidak tahu isi hati Surti seperti apa, terlebih lagi melihatku dan Arlo saling romantis-romantisan.

Tidak, jika kamu membayangkan kalau aku di rumah memakai pakaian mewah. Itu salah, setiap di rumah---aku paling-paling mengenakan daster atau baju santai. Baik sendiri atau ada orang lain.

"Ah, jangan Pak. Kasian Ibu pasti lelah." Surti mencoba menolak.

"Gak masalah, lebih lelah kamu kali Sur. Gak ada yang gantikan gendong." Aku mengambil anak itu dari gendongan Surti.

Mungkin, menjelang pernikahanku nanti Surti juga yang kuminta untuk membungkus souvenir. Aku dan Arlo sepakat memilik cangkir sebagai hadiah dari pesta pernikahan kita.

Sempat aku berdebat kecil di tempat souvenir dulu dengan Arlo, karena Arlo memilih untuk souvenirnya kipas tangan---sedangkan aku yang cangkir.

"Surti, nanti bantuin bungkus-bungkus juga ya." Aku menatap Surti.

Surti mengangguk, "Iya, pasti Bu. Mohon maaf, Surti cuma bisa bantu tenaga."

"Gak masalah, yang penting itu sebuah kebaikan kok." Aku menggoyangkan badan perlahan.

Fano tiba-tiba sudah bangun dia berjalan perlahan ke bawah. Aku melihatnya dia sangat lelah sepertinya. Apa tadi malam dia begadang? Walau memang kali ini sudah masuk musim liburan.

Arlo mencium punggung tangan Arlo yang masih berdiri di ruang tamu. Aku tidak bisa memeluknya sekarang. Karena dia langsung berlari ke dapur. Minum air putih, sebagai rutinitas setelah tidur.

"Assalamualaikum," Pras mengetuk pintu yang terbuka.

"Masuk, Pras." Aku menyuruhnya masuk.

Pras membawa dua kresek merah besar, ada beberapa bungkus mi instan dan kopi instan di sana. Dan, satu lagi sebuah kado yang dibungkus dengan cantik.

"Ini kadonya buat anaknya Mbak Surti, turut prihatin ya Mbak." Pras memberikan kado itu---langsung kepada yang bersangkutan.

"Alhamdulillah, terima kasih banyak Mas." Surti tersenyum merekah saat menerima kado itu.

Memang, berita Tejo langsung menyebar di lingkungan kantor. Untung saja, tidak menyebar ke media seperti Elano dulu. Sempat aku mendengar perbincangan-perbincangan tentang Tejo.

Entahlah, mungkin itu semua ada pesan tersembunyi. Yakni setia pada satu pasangan dengan semua kekurangan dan kelebihan yang ada sangatlah wajib.

"Sama-sama."

Hadiah Istimewa Untuk Suamiku (Dewasa)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang