"Jadi, kesimpulannya. Tahun ini, tidak ada liburan akbar. Kita pakai untuk berdonasi, bakti sosial." Aku berbicara lantang.
Memang Tahun 2015, akan segera sirna. Biasanya aku mengajak semua karyawan untuk berlibur santai. Tidak mewah, hanya melakukan outbond di Batu.
Outbond ini sebagai ajang mempererat semua karyawan dari semua cabang. Karena---biasanya dari cabang A, B atau C. Mereka jarang mengenal satu sama lain.
"Untuk penghargaannya bagaimana, Bu?" Sambung Pras.
Penghargaan yang dimaksud Pras adalah pemberian hadiah bagi mereka-mereka yang memiliki nilai kerja baik. Entah itu etos dan ketepatan waktu.
Kasir, pramuniaga, pelayan restoran, bagian dapur. Pokoknya semua ada penghargaannya masing-masing. Ya, semacam ajang bergengsi nasional.
"Untuk itu, silakan koordinasi dengan Pak Andika dan para managernya ya.
Kalau yang di Surabaya jangan dulu, tetapi kita harus memilih manager. Akhir tahun nanti," jelasku kepada dua orang laki-laki di depan.
Aku terus membaca laporan-laporan outlet Surabaya, pemasukan resto lebih rendah beberapa digit dibanding toko. Padahal, jam buka belum penuh 24 Jam.
Pras dan Pak Andika mulai berunding sendiri, sepertinya mulai sekarang kalau aku keliling harus membawa Pras juga. Dia sangat sigap memasok data-data.
"Di Surabaya, nanti setelah pergantian tahun. Usahakan sudah buka terus ya. Nanti Pras dan Pak Andika bantu proses seleksi karyawan baru." Itulah perkataan terakhir sebelum aku meninggalkan ruang kerja.
"Ibu tidak bisa ikut?" Pak Andika mengejarku.
"Tidak, Pak. Sibuk menyiapkan pernikahan saya dengan Pak Arlo," jawabku sambil menatap jam tangan.
Sudah pukul sepuluh, itu berarti setengah jam lagi Arlo akan tiba di rumah. Ya, aku sudah janjian dengannya untuk segera menentukan tanggal pernikahan kita segera.
Sebelum pekerjaan kantor sangat menumpuk dan tidak bisa ditinggal. Karena 2016 nanti, aku ingin membuat investasi baru. Aku ingin membangun rumah kos dengan banyak pintu.
Menurutku, Malang dengan kampus-kampus unggulannya sudah pasti menjadi ajang rebutan para calon mahasiswa baru untuk berkuliah di sini.
Hitung-hitung rumah kos ini nanti bisa dilanjutkan Fano saat sudah dewasa. Aku memang berharap seperti itu.
"Antar ke rumah ya Pak," Aku masuk dari pintu kiri belakang mobil.
---
"Loh, kenapa gak masuk?" Ucapku setelah selesai membuka mobil.
Arlo, dia sudah sampai di rumah. Tetapi tidak masuk, Arlo menunggu di teras depan. Sembari mengecek sekitar rumah.
"Nggak sayang, di dalam cuma ada Ningsih saja gitu." Arlo berdiri---aku mengulurkan tangan. Bermaksud ingin salaman---mencium punggung tangan Arlo.
Arlo nampak senyum-senyum sendiri saat aku melakukan hal tersebut, ini baru pertama kali. Aku mencium punggung tangan calon suamiku.
Arlo mengenakan celana panjang hitam dan kaus berwarna biru muda. Apa sih pakaian seorang pria selain kaus dan kemeja saja? Ya, kalau wanita banyak motif dan gayanya.
"Kenapa, Mas?" aku memandanginya yang masih tersenyum.
Arlo menggeleng, "Mungkin aku masih belum terbiasa diginikan sama kamu Ste."
Pintu terbuka, Tejo keluar dengan membawa sebuah tas ransel berwarna hitam. Dia di rumah? Surti dan anak laki-lakinya sama siapa?
Oh iya, anak Tejo dan Surti berjenis kelamin laki-laki. Wajahnya lebih mirip ke Surti. Beratnya kata dokter dua kilogram lebih sedikit.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hadiah Istimewa Untuk Suamiku (Dewasa)
General FictionVOTE DULU SETELAH BACA! FOLLOW JUGA! "Bangkai itu tidak bisa ditutupi, Mas!" Stefa Azika Isabella, pemilik Toko 29 sedang menyelidiki secara diam-diam perselingkuhan suaminya Elano Kenzo Gautama---dibantu oleh asisten pribadinya. Perselingkuhan Elan...
