Bab 6 - Pubertas Kedua

4K 204 4
                                        

Jangan landasi pernikahan dengan janji palsu, karena sesuatu yang 'palsu' dari dahulu tidak pernah bagus.

Stefa Azika Isabella

Malam harinya---setelah makan malam dan melihat persiapan Efano besok. Aku segaja ingin berbicara dengan Elano berdua. Kali ini soal perempuan gadis itu, bukan Indri.

Karena aku sangat takut masa depan anak itu jadi rusak ketika kenal dengan Elano---yang notabene suka berhubungan intim.

"Mas," aku menghampiri Elano yang duduk di ruang tamu. Dia hanya menoleh. "Kita perlu bicara, jangan di dalam rumah. Di luar saja, berdua."

Elano menatapku kebingungan, kemudian dia bangkit dan mengekoriku ke luar. Menuju taman komplek perumahan, tidak mungkin juga berbicara di depan rumah. Takut Efano mengintip atau tetangga mendengar.

Jarak rumah ke taman lumayan jauh, jadi aku meminta untuk naik motor saja. Supaya cepat sampai dan tidak memakan waktu lama bila berjalan kaki.

"Efano, Ibu dan Bapak pergi dulu ya," aku berteriak dari luar dalam posisi sudah di atas motor.

Kami berjalan tanpa ada obrolan sama sekali, Elano juga tidak menanyakan sesuatu kenapa malam-malam aku mengajaknya ke taman. Dasar tidak peka!

Setelah sampai, kami duduk di sebuah bangku panjang di tengah taman. Bukan di gazebo. Benar-benar sepi, hanya aku dan Elano berdua. Juga di seberang taman---ada satpam yang sedang berjaga di posnya.

"Ada apa?" Tanya Elano menatapku.

"Tolong, tolong kali ini jujur saja kepadaku," aku membuka gawai dan menunjukan foto itu dihadapannya.

Elano sedikit kaget, karena ada seseorang yang mengambil gambar dirinya dengan perempuan masih muda. Dalam diamnya, aku bisa membaca kebingungan dia.

"Jawab," aku berbicara dengan tenang.

Elano masih bergumam sendiri, tidak bisa menjawab pertanyaan yang aku berikan. Mungkin dia memikirkan bagaimana caranya untuk berkelit lagi.

"Engg---itu keponakanku," dia memperhatikanku.

Keponakan? Sejak kapan? Perempuan itu keponakanku? Aku saja tidak mengetahuinya! Serius! Selama puluhan tahun menikah dengannya.

"Tunggu, keponakanmu? Kenapa aku tidak tahu?" Aku menarik mukanya supaya menatapku.

"Dia-dia anak dari si..."

"Aku tidak percaya ya Mas! Tolong kamu jangan main-main gila! Dengan anak masih kecil ingat umurmu, Mas! Kamu bisa dianggap pedofilia!" Aku sedikit berteriak supaya dia sadar.

Elano hanya diam kemudian bangkit---berjalan menuju kendaraan yang kami tumpangi tadi. Dan, meninggalkan aku sendiri. Laki-laki sialan!

Aku terpaksa berjalan kaki, kembali ke rumah. Tidak mungkin juga minta diantar satpam. Tadi, dia menawarkan tetapi aku tolak. Takut mengganggu dia bekerja.

Awas saja Elano! Aku tidak tinggal diam soal ini! Kamu akan mengetahui semua kebusukan sendiri.

"Ada masalah, ya Bu?" Satpam itu tiba-tiba berada sebelah kananku, dia berjalan menaiki motor perlahan.

"Tidak Pak Sobri," ya, namanya Sobri satpam terlama yang ada di komplek perumahan.

Pak Sobri kemudian berpamitan dan meninggalkanku pergi---ingin berkeliling komplek katanya. Aku kembali berjalan sendiri, untung masih banyak mobil yang sedang pulang ke rumah masing-masing.

Lagi-lagi aku harus mengambil sikap tegas tentang perilaku Elano yang seperti seorang tengah mengalami pubertas kedua. Padahal usia yang mengalami pubertas kedua itu sekitar usia empat puluh tahun ke atas.

Tetapi ciri-ciri seorang yang sudah atau sedang mengalami pubertas kedua itu telah dimiliki oleh Elano, salah satunya perubahan penampilan.

Aku baru sadar. Bahwa suamiku ini lambat laun merubah penampilannya, sering memakai wewangian, baju yang seperti anak muda. Mengikuti style katanya.

Dari dulu Elano tipikal orang yang suka sekali mengenakan jas, tapi beberapa bulan ke belakang. Elano sudah sering mengenakan baju beraneka motif.

Bodohnya aku, tidak melihat ciri-ciri orang yang mengalami pubertas kedua dari dulu. Baru kali ini---setelah membaca di internet.

Juga ketika urusan ranjang, dia sangat agresif sekali terkadang. Sampai-sampai aku dibuat kuwalahan karena permainannya.

Aku akan segera mengulik siapa perempuan muda ini, dan menghentikan supaya dia tidak menyesal pada kemudian hari.

---

Aku membuka pintu ruang tamu, tanpa diduga aku sudah sampai di rumah, setelah berjalan sambil melamun. Cara apa lagi yang ingin kupakai untuk melepaskan gadis itu dari pelukan Elano?

Ternyata Efano belum tidur, dia sedang menonton satu film box office---film luar. Padahal dia besok harus bangun pagi untuk mempersiapkan diri.

"Fano, masuk kamar sekarang. Kamu besok harus ikut cerdas cermat, jangan sampai fokus kamu terpecah." Aku mengelus kepala Efano. Dia mendongak, dan mematikan televisi datar di depannya.

Efano bangkit dan memelukku, serta mencium kedua pipiku. Aku juga membalasnya dengan mencium kening anak kesayanganku ini.

"Selamat malam, Bu," Efano berjalan menuju kamarnya.

Aku tidak langsung ke kamar, berjalan menuju dapur. Karena haus ini mengganggu dari tadi, mengambil air putih dan menghabiskan segera.

Sambil berdiri aku membuka gawai dan mengirimkan pesan ke Pak Andika lagi, ya, asisten pribadiku ini sungguh membantuku.

Stefa: Pak Andika, besok ikuti Bapak lagi ya! Kalau bisa cari tahu juga soal perempuan gadis itu. Saya takut masa depannya rusak, kasihan masih kecil.

Aku menutup gawai setelah pesan itu berhasil terkirim ke Pak Andika. Dan, kemudian mematikan lampu yang ada di bawah. Menuju ke kamar untuk beristirahat. Karena besok harus menghadiri cerdas cermat Efano.

Masuk ke dalam kamar, Elano sudah tertidur pulas. Dengan tubuh dibalut oleh selimut berwarna merah, senada dengan sprei dan sarung bantal juga guling.

Berjalan ke kamar mandi di dalam kamar pribadi, untuk sikat gigi dan sekadar cuci muka. Tidak menunggu lama, aku juga ikut tidur sebelah Elano.

Laki-laki yang bergelar suami ini ternyata dia tidak tidur, merangsek mendekati tubuhku. Menaruh tangannya di atas perut, aku merasakan dia tidak mengenakan apa-apa. Sejak kapan Elano jadi binal seperti ini? Dia tidak pernah sekali saja 'polos' ketika tidur.

Bersambung...

Update lagi
.
.
.
.
.
Jangan lupa vote, dan memberikan komentar serta mengikuti akunku
.
.
.
Supaya kalau ada bagian baru tidak ketinggalan
.
.
.
See you!

Hadiah Istimewa Untuk Suamiku (Dewasa)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang