Bab 42 - Terjadi Lagi

840 63 2
                                        

Arlo: Maaf baru ngabarin kamu, sayang. Tadi aku sibuk menyiapkan dokumen-dokumen untuk perpindahan KTP.

Aku membaca pesan itu, saat mobil tiba di rumah sore hari, kulihat Surti berdiri di depan rumah dengan masih menggendong anaknya yang baru lahir itu.

"Loh, Pak. Itu Surti? Kenapa dia ada di luar?" Aku segera turun dari mobil.

Kulihat, Surti baru saja menangis lagi. Karena pipinya masih basah, astaga ada apa? Kok dia tiba-tiba saja seperti ini. Bahkan barang bawaanya dari rumah sakit juga masih ada di depan pintu.

"Ibu," Surti tiba-tiba menangis lagi. "Mas Tejo, bu. Mas Tejo tega."

"Tega kenapa?"

"Ibu lihat sendiri di kamar Ningsih." Surti menyuruhku dengan sesenggukan.

Penasaran, akhirnya kuajak Pak Andika juga ikut ke dalam menuju kamar Ningsih. Surti juga berjalan paling belakang dengan air mata yang kian berderai.

Segera kubuka, pintu yang ternyata tidak terkunci itu dengan cepat. Seketika aku melihat pemandangan yang sangat-sangat membuatku ikut terpukul.

Tejo dan Ningsih, mereka sedang melakukan suatu hubungan yang terlarang. Aku melihat punggung Tejo, telanjang bulat. Membelakangi pintu, sedang asik beraksi dengan Ningsih.

Hati istri mana yang tidak sakit, melihat suaminya berhubungan dengan orang lain. Tanpa sepengetahuan dia.

"Te-tejo, Ni-ningsih," aku mencoba berkata tegas tetap tidak bisa.

Mendengar suaraku, Tejo langsung menoleh ke belakang. Mencabut punyanya dari dalam milik Ningsih. Segera dia menutupi tubuhnya dengan selimut, begitu juga dengan Ningsih.

"Bu--Bu Stefa. Sayang? Ka-kamu sudah pulang?" Tejo duduk dan berbicara terbata-bata.

"Tejo dan Ningsih, silakan pakai baju kalian. Habis itu bertemu dengan saya di ruang tamu," aku berkata sambil meninggalkan Tejo dan Ningsih.

Kuajak Surti untuk masuk ke dalam kamarnya. Dia masih perlu beristirahat karena jahitannya juga belum kering.

"Sabar ya, biarkan Ibu selesaikan dengan Pak Andika." Aku memeluk Surti pelan-pelan. Tidak terasa air mataku ikut menetes.

Aku berjalan kembali menuju ruang tamu, padahal tubuh ini sangat letih aslinya telah melakukan perjalanan jauh. Tetapi, mau bagaimana lagi. Ini menyangkut masalah baru di rumah.

Fano? Dia masih belum pulang masih ada jadwal les. Untung juga Fano tidak ada di rumah, dan tidak melihat hal yang tidak pantas dilihat dan didengar oleh anak seusia dia. Apa jangan-jangan mereka mencari celah untuk melakukan itu?

Tejo dan Ningsih ketika aku datang mereka menunduk. Tidak berani melihat aku. Tuhan, hatiku ikut sakit melihat kejadian tadi.

"Coba jelaskan dengan rinci kepada saya, Tejo." Aku berbicara lirih.

"A-anu, anu Bu Stefa. Sa-saya."

"Saya apa?!" Aku menggebrak meja. Pak Andika ikut terlonjak.

"Saya khilaf," Jawab Tejo enteng.

"Tejo dan perempuan biadab itu dulunya sepasang kekasih Bu Stefa!" Surti tiba-tiba sudah di belakangku.

Surti yang berjalan perlahan itu ikut duduk di sebelah Pak Andika. Menghadap kedua orang yang baru saja melakukan hal yang tidak pantas itu.

Tidak terasa air mataku ikut menetes lagi ketika menyaksikan Surti yang masih menahan sakit jahitan, karena persalinan tadi secara normal. Kini, malah dia ditambah rasa sakit hati yang kejam.

"Sayang, sayang, sayang maafkan aku," Tejo berjalan dan berjongkok di depan istrinya itu.

"Saya, aslinya, tidak, setuju sejak awal ketika Ningsih akan bekerja di sini. Atas dasar rekomendasi Tejo.

Tetapi, Tejo sudah menjelaskan kepada saya kalau dia tidak memiliki rasa kepada perempuan ini." Surti menunjuk Ningsih yang hanya menunduk.

Memang, orang yang mendesakku untuk membantu mencarikan asisten baru saat Surti akan cuti selesai melahirkan adalah Tejo.

Aku tidak menyangka bahwa ada maksud tersembunyi Tejo merekomendasikan Ningsih kepadaku, hanya karena ingin 'nostalgia' dengan mantan kekasihnya itu.

Ningsih yang kulihat sangat lugu, pertama kali datang ke sini. Ternyata dia menyimpan sesuatu yang sama busuknya seperti Indri dulu. Sungguh tidak menyangka.

"Akhirnya, saya percaya bahwa suami saya ini tidak mungkin memiliki rasa dengan Ningsih. Maka saya ikut setuju kalau Ningsih kerja di sini." Sambung Surti.

"Lalu, apa bedanya kamu Tejo dengan Elano? Tidak ada." Tejo menatapku dengan air mata yang menetes.

Tejo berjalan ke arahku, dia menunduk memegang kakiku. Ningsih juga ikut melakukan hal yang sama. Ucapan maaf terus terulang dari mulut keduanya. Tetapi aku tidak bersuara sama sekali.

Pak Andika menarik keduanya untuk kembali duduk, jika Arlo di sini mungkin dia sama-sama marahnya denganku. Tetapi dia masih di Surabaya.

"Tejo dan Ningsih, kalian mau jalan ke kantor polisi sendiri? Atau saya antar?" Ucapku datar ke arah keduanya.

"Ceraikan aku, Mas." Surti berbicara lagi.

Aku terkejut mendengar kata cerai dari mulut Surti. Sangat tidak menyangka bahwa ini keputusan yang ingin diambilnya. Lagian, tidak mungkin juga Surti bertahan saat mengetahui kebangsatan Tejo.

"Jangan gini, sayang. Kamu gak kasian sama anak kita?"

"Ya karena saya sayang sama anak saya, makanya saya ingin berpisah dengan kamu." Ucap Surti sambil berjalan menuju ke kamarnya.

Aku berjalan ke kamar Tejo dan Surti. Kulihat dia sedang memeluk anaknya yang tengah tertidur lelap. Dia masih meneteskan air mata. Aku duduk di sebelahnya. Mengelus bahu Surti agar dia kuat. Memang alur hidup itu tidak diduga-duga.

"Bawa dia ke kantor polisi, Bu," Surti menatap iba ke aku.

Aku menangguk, "pasti, Ibu akan membawanya ke sana sekarang."

---

Sekarang di sini aku, bersama Pak Andika. Tejo dan juga Ningsih. Ketika hendak berangkat kemari, Fano baru saja pulang. Untunglah, dia datang di waktu yang tepat.

"Pak, saya mau melaporkan asisten rumah tangga saya karena dia melakukan hubungan intim. Tanpa ikatan suami istri." Ucapku saat sampai di meja untuk melaporkan.

"Baik, akan saya urus." Jawab polisi yang sedang bertugas di meja ini.

Akhirnya langsung dilakukan investigasi saat itu juga kepada Tejo dan Ningsih, aku dan Pak Andika melihatnya dari jauh. Sudah hilang rasa peduliku dengan Tejo. Tidak habis pikir.

Biarlah, Surti akan menjadi tanggung jawabku, dia sudah seperti keluarga sendiri yang sudah membantu banyak di rumah.

"Bu, serius saya tidak menyangka. Bahwa Tejo pemain juga." Pak Andika yang berdiri di sampingku mengungkapkan kekagetannya.

"Sama, Pak. Tapi biarkan terbuka secepat ini. Daripada nanti-nanti, kasian Surti malah. Tejo dan Ningsih pasti akan melakukan hal yang sama

Apalagi mereka setiap hari bertemu pastinya. Mereka pasti akan mencari waktu luang untuk melancarkan aksi bejatnya kembali." Aku berbisik ke Pak Andika.

Ini adalah kedua kali aku datang ke kantor polisi sebagai seorang pelapor kasus yang hampir mirip dengan sebelumnya.

Bersambung...

Kamu sudah vote?

Kamu sudah komentar?

Kamu sudah follow akunku?

Terima kasih banyak ya,
Sayang kalian.

Hadiah Istimewa Untuk Suamiku (Dewasa)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang