Bab 29 - Pengadilan Negeri (2)

2.6K 112 1
                                        

"Tolong yang kooperatif, jangan membuat suasana ini semakin sulit Pak Elano!" Hakim ketua menatap Elano.

Tetapi lihatlah! Dia masih bisa tersenyum ke arahku yang duduk dibelakangnya. Seketika aku melotot membuang muka.

Jika Fano di sini, mungkin aku akan malu sekali---melihat ayahnya tidak penah jujur. Padahal selama ini aku selalu menggaungkan kejujuran kepada Elano.

Ibu yang disebelahku sampai menggeleng, mengetahui kalau Elano yang sudah benar-benar terbukti bersalah masih membela diri.

Aku menoleh ke arah Arlo, dia melipat tangannya di depan. Entah apa yang dipikirkannya. Apa sama sepertiku? Emosi?

"Saya ulangi lagi, apa motif anda menghabisi korban dengan sebuah gelas?" Hakim terus mencecar Elano dengan pertanyaan-pertanyaan.

"Saya menyuruhnya untuk mengecat rumah bagian depan di Jalan Emerald, tetapi yang bersangkutan tidak bisa. Karena korban tidak bisa melihat," pernyataan Elano membuat para 'Wakil Tuhan' ini terlonjak.

"Apa pada saat itu anda dalam pengaruh minuman keras?" Hakim lain mencoba menggali informasi lagi.

"Iya," jawab Elano.

Untungnya Elano jujur---akan perbuatannya. Mungkin dia telah sadar bahwa sepenuhnya Elano tidak bisa berbohong, apalagi dalam kasus ini semua bukti semua tertuju kepada dia.

Hakim terus menggulirkan, pertanyaan-pertanyaan selanjutnya.  Secara bergantian, seperti aku dulu saat sidang perceraian seorang diri---ketika Elano tidak hadir.

---

"Ibu Stefa, ketika anda di sana. Pertama kali yang anda lihat apa?" aku sudah berada di kursi tempat Elano duduk tadi---dengan selang waktu tujuh menit.

Apa yang aku lihat? Ya Elano dan Indri sedang bermesraan di ruang tamu. Jika memang istri yang cinta dengan suaminya, tidak mungkin membiarkan suaminya dipukul hingga meregang nyawa.

"Saya melihat hal yang tidak pantas dilihat oleh semua orang, setelah dia telah melancarkan aksinya.

Saya datang dengan niatan ingin bertemu dengan Elano, karena saya butuh tanda tangan untuk berkas perceraian. Tetapi yang saya lihat malah lain," aku berbicara tanpa terbata, sambil kedua mataku ke empat hakim di depan.

Aku menceritakan semua dengan rinci kronologi semula sejak aku menginjakan kaki di Jalan Emerald dulu, sampai akhir---saat Elano dan Indri dibawa juga Pak Santo divisum.

Hasil visum Pak Santo, pada waktu itu memiliki sebuah luka pukulan di leher bagian belakang. Hal itu membuat Pak Santo langsung tidak sadarkan diri.

"Lantas, kenapa setega itu Bapak Elano terhadap korban?" tanya hakim dengan kepala botak---duduk sebelah kiri.

"Karena, Saudari Indri adalah selingkuhan Saudara Elano. Yang masih berstatus suami saya,

Mereka berselingkuh sudah lebih enam tahun. Bapak dan Ibu sekalian." air mataku tiba-tiba menetes---dengan kata-kata yang aku lontarkan dengan tegas.

Dalam tetes-tetes tangis yang mulai deras kurasakan. Hati kecilku berkata, bahwa telah menyesali sebuah pernikahan suci dengan berakhir sebuah perselingkuhan yang pedih ini.

Kenapa semua terjadi kepadaku? Padahal aku percaya dengan cinta---hidupku akan lebih penuh semangat. Nyatanya layaknya benang kusut, tidak beraturan.

Aku menyeka air mata dengan tisu yang aku genggam hingga tidak berbentuk rapi. Aku tidak mau melihat ke belakang. Ke arah Arlo.

"Pada waktu kejadian, anda melihat Pak Elano dan Ibu Indri sedang apa?" cecar salah satu dari mereka lagi.

"Sedang tertawa di meja makan, sambil menikmati kudapan yang ada di meja. Benar-benar bukan seorang manusia yang memiliki jiwa tanggung jawab tinggi," ucapku sambil melihat ke arah Elano yang duduk di belakang---tempatku tadi.

Hingga hampir sepuluh menit, aku sudah selesai ditanya. Giliran Indri dan terakhir ibu yang menjadi saksi kunci itu.

---

"Akhirnya Elano divonis hukuman sepuluh tahun kurungan ya, Ste. Gimana perasaan kamu? Lega?" Kita baru saja keluar dari gedung Pengadilan Negeri.

Setelah penjatuhan hukuman itu, ada kelegaan yang aku rasa dalam hati. Satu beban terangkat lagi. Tinggal menghitung jam juga---untuk aku bebas, dari sosok Elano.

Ibu-ibu yang rumahnya di Jalan Emerald itu ternyata ditunggu oleh suaminya di warung kopi dengan gedung pengadilan. Padahal, aku sudah memiliki niatan untuk mengantarkan sampai ke rumah.

"Jelas lega, sebenarnya itu tidak sebanding dengan apa yang dialami oleh Pak Santo." Jawabku---sambil menatap ke arah Arlo.

Entahlah mungkin ini takdir atau nasib bagaimana Pak Santo harus pergi dengan cara yang mengenaskan.

Jalanan siang ini sangat lengang, entahlah. Tetapi bagus, aku bisa segera sampai ke makam orangtua Arlo dengan cepat.

Lagu dengan judul Kemesraan terputar dari radio yang ada ditengah-tengah kami. Milik penyanyi lawas, Iwan Fals.

"Hatiku damai jiwaku tentram bersamamu," aku tiba-tiba ikut bersenandung.

Lagu ini benar-benar tidak membosankan diputar setiap waktu bahkan saat sekarang ini, 2015. Kebanyakan orang mulai menyukai lagu-lagu terbaru, tetapi juga ada yang masih setia mendengarkan lagu-lagu lama. Yang bagi mereka penuh dengan memori di setiap lirik.

Iwan Fals adalah salah satu musisi legenda yang aku suka selain Nike Ardilla dengan suara menggelegar yang indah dan sedap didengar.

"Kemesraan ini, janganlah pernah berlalu," Arlo yang masih sibuk mengendarai mobil juga ikut bernya nyi.

"Dengan era yang terus maju, lagu-lagu lawas ini masih enak didengar ya Ste." Arlo tertawa sambil melihat ke arah keramaian di jalan.

"Itulah yang namanya legenda, orang akan terus memutar dan mendengar lagu-lagu lawas.

Ringan, tetapi penuh dengan makna. Ada banyak kenangan yang terukir bersama lagu-lagu yang mereka suka saat itu," jawabku sambil mencari sesuatu di tas kecil---gawai.

Kami kemudian diam sambil mendengarkan lagu yang sama, hingga selesai. Jalanan di Malang siang ini sudah mulai padat.

Arlo menepuk-nepukan jari tangan kiri dibalik kemudi mobil. Sesekali bersiul. Entah kenapa aku melihat Arlo lebih damai sekarang---setelah apa yang dia perjuangkan saat telah tidak lama berjumpa.

"Besok, setelah sidang langsung balik ke Surabaya Ste?" tanya dia lagi.

"Stefa, jangan ngelihatin aku seperti itu. Aku jadi gak fokus nyetirnya nanti," Sambungnya.

Aku terbahak---berada didekat Arlo benar-benar membuatku lupa akan usia yang sebenarnya. Serasa masih belum menikah, belum ada Fano.

Masih bersama Mas Ulya dulu, aku sedikit rindu dengan kebersamaan kita bertiga dulu. Bercanda seperti sekarang.

"Mungkin jika Mas Ulya masih hidup, aku tidak akan sesakit ini sekarang," aku tiba-tiba melihat ke arah awan biru dan pepohonan sebelah kiri.

"Tetapi kita juga tidak mungkin sedekat ini, Ste," Arlo memberi sanggahan.

Itu memang benar, jika Mas Ulya masih hidup aku tidak akan mungkin bisa mencoba membuka hati untuk Arlo. Bertahan kepada orang yang baik luar dan dalam.

Kedua, bahkan anak kesayanganku sekarang. Mungkin tidak akan lahir ke dunia. Garis kehidupan yang sangat susah ditebak ya.

"Kita tidak boleh menyesali apa yang sudah dijalani serta dilewati Ste, waktunya kita berbenah untuk semua yang lebih baik ke depan." Arlo mengelus tanganku.

Bersambung..

Maafkan udah menunggu lama ya, jangan lupa seperti biasanya.

Sayang kalian,
Al.

Hadiah Istimewa Untuk Suamiku (Dewasa)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang