Bab 20 - Lelah

2.7K 149 0
                                        

Aku masih berada di rumah duka, menunggu jenazah Pak Santo kembali dari visumnya. Sudah memasuki jam kedua---kepergian jenazah Pak Santo ke rumah sakit.

Aku duduk di lantai yang sudah digelar tikar oleh para tetangga, untungnya Tejo bisa mengirimkan baju ganti dari rumah ke Jalan Emerald. Tidak, aku tidak mengenakan celana panas saat menuju kemari.

Rok kain hitam panjang dengan kemeja berwarna merah hati, memang bisa saja aku meminjam kerudung dari ibu-ibu sini. Tetapi rasanya segan untuk merepotinya.

Terlebih mereka sedang memasak untuk makan para pelayat di pemakaman dan juga penggali kubur. Mereka juga harus menunggu sampai jenazah Pak Santo datang.

"Bu, mohon maaf. Kapan ya jenazah kembali?" Seorang tetangga pria bertanya kepadaku.

"Sebentar saya buka hp dahulu," aku mengambil gawai yang ada di saku kemeja.

"Sedang menuju ke sini. Mereka baru saja mengabari saya, Pak." Aku menunjukan pesan itu kepada dia.

Ya, memang sebelum jenazah Pak Santo pergi ke rumah sakit. Pihak rumah sakit meminta nomorku untuk memberikan perkembangan kabar. Karena, memang tidak ada keluarga di sini. Pak Santo---kata warga, dia berasal dari Medan.

Tempat untuk memandikan jenazah juga telah disiapkan, juga kain kafan telah ditata rapi. Bunga-bunga sudah dirangkai menjadi beberapa buah.

Aku sangat senang melihat kekompakan mereka semua, tidak memandang ras dan strata sosial. Bukankah memang kita ini sebenarnya telah terlahir sama? Hanya berbeda status saja, bukan?

"Bu, ada teman-teman wartawan di depan. Katanya hendak bertemu dengan Ibu." Pak Andika datang dari luar, berbisik di telingaku.

"Oke, saya ikut ke depan," aku berdiri mengikuti Pak Andika.

Ini pasti mereka datang, karena sudah mendengar sentilan tentang Elano tega memukul Pak Santo sampai tidak sadarkan diri. Hingga meregang nyawa.

Aku juga heran, hanya beberapa jam berita ini sudah menyebar kepada kalangan juru warta. Elano memang sudah terpandang sejak outlet pertamanya buka dahulu.

Karena begitu restoran itu buka---langsung mendapat respon positif dari kalangan penikmat kuliner. Tak ayal, memang sampai saat ini sepuluh restoran ini masih ramai setiap harinya. Dengan tambahan menu-menu lain.

Saat aku sampai di luar, para juru warta mulai menyambutku dengan mengabadikan foto. Disampingku, Pak Andika mengikuti. Hampir dua puluh media lokal baik dalam jaringan atau tidak telah berdiri di depanku.

"Bu Stefa, mohon maaf saya menganggu waktunya. Apa benar, Pak Elano sudah menghabisi seseorang?" Tanya satu juru warta yang sudah menyodorkan gawai.

"Itu benar, tetapi sebentar lagi saya sudah berpisah dengan Elano. Dan, nama Gautama dalam nama saya akan dihapus." Jawabku seraya menatap satu persatu mereka---sibuk mencatat dan merekam.

Aku memang tidak mencantumkan 'Gautama' dalam kartu tanda penduduk dan juga kartu keluarga. Cuma kebanyakan orang sudah memanggilku Nyonya Gautama. Saat dulu, kami sering menghadiri acara berdua.

Semua juru warta juga tampak kaget. Memang, aku merahasiakan hal ini sejak keputusan berpisah kamar dan kemudian rumah dengan Elano. Toh, sekarang mereka juga tahu.

Mereka kali ini langsung mendapatkan berita sebanyak dua topik, pertama Elano yang melukai Pak Santo. Kedua, perpisahanku dengan Elano.

Untungnya beberapa kali masuk media lokal, tidak ada berita buruk tentang aku. Baru kali ini---dalam sejarahku membeberkan berita buruk dan tragis.

Hadiah Istimewa Untuk Suamiku (Dewasa)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang