Rumah Pengacara
Emil Darwan Iskandar, S.H
Surel: emildarwanlawyer@gmail.com
Aku membaca papan nama yang terpampang di depan salah satu rumah megah, atas rekomendasi Pak Andika. Akhirnya aku memutuskan untuk memilih Pak Emil sebagai lawyer guna mengurus hak asuh Efano.
Selepas kakek dan nenek Efano pulang, lekas-lekas aku berangkat bersama Pak Andika yang sudah siaga. Seperti biasa, Efano tidak menanyakan sesuatu. Hanya melambaikan tangan.
"Kita masuk, Bu," Pak Andika berjalan terlebih dahulu, mengetuk pintu berwarna putih.
"Semoga Pak Emil ada ya," aku harap-harap cemas.
Ternyata yang membuka pintu adalah yang bersangkutan, dia menyambut kami berdua dengan senyuman. Kami besalaman kemudian masuk.
"Silakan duduk," Pak Emil yang aku tebak usianya sekitar setengah abad ini duduk berhadapan dengan aku dan Pak Andika.
"Maaf, Pak. Tidak membuat janji dahulu," Pak Andika tersenyum.
"Tidak masalah, saya sedang tidak ada klien lain, kok."
Menurut cerita dari Pak Andika, banyak kasus-kasus perceraian, perebutan hak asuh anak, serta pembagian harta gono-gini---berhasil diselesaikan oleh Pak Emil.
Walau memang bayaran cukup mahal, tetapi tidak masalah bagiku. Supaya anakku masih tetap bisa kupeluk.
"Jadi bagaimana?" Tanya Pak Emil.
"Ini Ibu Stefa, atasan saya. Pemilik Efano Ayam Telur Asin dan Toko 29, Pak Emil," Pak Andika mengenalkanku kepada si pengacara, aku hanya tersenyum.
Kemudian Pak Andika bercerita tentang rentetan kejadian dalam permasalahanku dengan Elano, aku hanya mendengarkan dia yang memaparkan maksud dan tujuan kita datang kemari.
Sama seperti aku, Pak Emil juga mendengarkan tanpa bertanya. Hingga Pak Andika selesai dengan inti permasalahan ini, Pak Emil angkat bicara.
"Ibu Stefa, anaknya umur berapa?" Dia tersenyum memandangku---benar-benar ramah.
"Anak saya, tahun depan tiga belas," aku berkata jujur bukan?
Sempat mencari informasi melalui internet bahwa anak yang belum dua belas tahun, hak asuh jatuh ke tangan ibunya selepas perceraian.
Jadinya, kedatanganku ke sini. Memang untuk berkonsultasi terlebih dahulu, karena aku masih belum sidang pertama.
Asisten rumah tangga Pak Emil datang membawakan minuman untuk kami---mungkin karena aku dan Pak Andika sudah lama mengobrol dan belum kunjung selesai.
"Jadi, nanti selepas akta cerai keluar. Saya mohon, Pak Emil bisa mendampingi saya ke pengadilan. Saya dan Pak Andika akan terus menyiapkan bukti-bukti atau berkas lain. Untuk menguatkan kubu saya," aku menutup pembicaraan kami.
Pak Emil mengulurkan tangannya dan menyalamiku terlebih dahulu, kemudian ke Pak Andika.
"Saya, akan membantu Ibu dalam kasus ini. Ini kartu nama saya, mohon disimpan," Pak Emil mengambil kartu nama yang ada di saku kanan atas.
Kami kemudian mengobrol secara ringan, diiringi canda dan tawa. Supaya tidak terlalu kaku. Kebanyakan Pak Emil bertanya tentang bisnis kuliner yang aku pegang.
Pras tadi pagi juga bercerita bahwa dua bulan lagi, kita akan membuka lima cabang di Surabaya secara bersamaan. Jadi memang tim kantor sedang sibuk-sibuknya.
Dan, aku juga mempunyai keinginan untuk membuka lima toko 29 di sana. Hasil keuntungan bisnis kuliner selama ini, supaya berguna untuk masa depan Efano.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hadiah Istimewa Untuk Suamiku (Dewasa)
General FictionVOTE DULU SETELAH BACA! FOLLOW JUGA! "Bangkai itu tidak bisa ditutupi, Mas!" Stefa Azika Isabella, pemilik Toko 29 sedang menyelidiki secara diam-diam perselingkuhan suaminya Elano Kenzo Gautama---dibantu oleh asisten pribadinya. Perselingkuhan Elan...
