Lagi-lagi, aku harus mengumpulkan semua karyawan termasuk para manager ke kantor. Mungkin, ketika outlet Surabaya akan buka. Kantor harus segera dipindahkan ke dekat rumah.
Supaya aku bisa memantau dengan cepat dan dekat. Tanpa jauh-jauh keluar komplek perumahan.
Ini adalah dua hari setelah sidang pertama, kasus perceraian dengan Elano. Aku masih heran, kenapa dia tidak hadir? Apa tidak diberikan izin oleh pihak lapas? Atau Elano sudah malas denganku? Ah! Biarlah.
Aku sudah mengumpulkan bukti-bukti teror itu, termasuk gulungan kertas bertinta merah kemarin. Juga foto-foto beberapa pesan dari enam karyawanku. Dan, foto telur dan tomat busuk.
"Selamat pagi, teman-teman. Kaget ya? Ibu kumpulkan lagi?" Aku menatap setiap mata di depanku.
Mereka tampak melihat ke arah rekan-rekan yang lain. Jelas saja kaget. Aku saja mengabari kemarin malam lewat grup.
Elano Corporation
Anda: Besok pagi, tanpa terkecuali. Silakan datang ke kantor, memakai baju dan bawahan hitam. Dilarang mengenakan kaus!
Dan, pada akhirnya. Kami di sini semua mengunakan kemeja hitam, bahkan beberapa pegawai perempuan juga memakai kerudung hitam juga.
Semacam orang berduka, ya, berduka karena ada salah satu penyusup yang terang-terangan melakukan teror ke tempat kerjanya sendiri.
"Kedua, kalian di sini pasti bingung bukan? Seharusnya hari ini memakai seragam merah, tetapi malah hitam. Benar begitu Tiara?" Aku melihat ke Tiara yang duduk di depan sendiri.
"Iya, benar Bu," jawab dia dengan raut gusar.
Aku mengeluarkan bukti pertama, yakni foto telur dan tomat busuk. Sudah, aku cetak dengan kertas berukuran besar. Aku berdiri dan menunjukan foto itu kepada mereka satu per satu.
Mereka yang kulewati nampak mendongak sambil menyaksikan gambar yang ada di kertas.
"Ini yang Ibu pegang adalah foto telur dan tomat busuk. Ada seseorang dengan sengaja mengirimkan hadiah ini setelah kita rapat dulu,
Pras yang menerima dengan tanpa curiga. Pak Andika silakan berdiri dan tunjukan bukti selanjutnya." Aku menoleh ke belakang.
Pak Andika sudah berdiri dan menunjukan bukti selanjutnya---pesan-pesan yang dikirimkan ke karyawanku pakai nomor asing.
"Yang saya pegang ini, adalah pesan-pesan dari seseorang. Dikirimkan malam hari selesai rapat." Pak Andika juga sama, dia berteriak dengan kencang. Supaya didengar oleh semuanya.
Aku sedikit curiga, karena seorang manager outlet---outlet tujuh. Dia hanya menunduk, berbeda dari semuanya yang berani mendongak dan menatapku.
Setelah selesai berkeliling, membawa bukti pertama. Aku kembali menuju depan mengambil bukti terakhir. Kertas yang kusut sekali.
"Silakan kalian baca sendiri ya!" Aku memberinya ke barisan pertama dan pandanganku tetap fokus ke manager tujuh.
Hingga kertas itu sudah pada barisan ke empat---tempat barisan dia berada. Dia tidak mau ikut ingin tahu melihatnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hadiah Istimewa Untuk Suamiku (Dewasa)
General FictionVOTE DULU SETELAH BACA! FOLLOW JUGA! "Bangkai itu tidak bisa ditutupi, Mas!" Stefa Azika Isabella, pemilik Toko 29 sedang menyelidiki secara diam-diam perselingkuhan suaminya Elano Kenzo Gautama---dibantu oleh asisten pribadinya. Perselingkuhan Elan...
