Pukul 06.00
Sepagi ini aku sudah berada di kantor. Bahkan masih belum ada pegawai yang datang, ya, saatnya aku rapat dengan seluruh karyawan.
Dengan di bantu oleh Pak Andika dan Tejo, aku mulai meminggirkan meja dan segala perkakasnya untuk digelar karpet. Karena untuk dipasang kursi dengan jumlah banyak itu tidak muat.
Hari ini, untuk seluruh restoran dan toko aku meminta untuk buka siang dengan tidak ada shift. Jadinya setiap restoran yang jumlah karyawannya ada sepuluh orang akan masuk bersama---begitu juga dengan toko.
"Anak-anak datang jam berapa, Bu?"
"Jam delapan, Bapak tidak nyimak grup ya?"
"Iya dari tadi malam, gawai saya mati. Belum saya nyalakan."
Memang tadi malam, aku memberi informasi melalui grup baru. Grup Efano Corporation, Pras memberiku kontak para teman-teman kantornya. Aku memasukan Surti dan Tejo juga, karena mereka berdua juga anggota keluarga.
Kenapa dijadikan satu? Karena gampang aku monitornya. Pras akan kujadikan admin keuangan dan sekaligus pembagi jadwal kerja mereka.
Setelah karpet benar-benar tergelar pada ruanganku. Aku meminta Tejo untuk membeli minuman kemasan. Hendak kusuruh untuk mengambil ke toko saja, tetapi aku ingat mereka kan mau ke sini. Otomatis toko tutup.
"Bu, belum ada panggilan sidang ya?" Pak Andika yang duduk tidak jauh dariku bertanya.
"Belum, Pak. Katanya nanti akan ada pihak pengadilan ke rumah. Tidak tau kapan, mungkin berkas saya masih diproses." Aku berbicara sambil memegang gawai.
"Kira-kira nanti Elano datang tidak ya, Bu?"
Aku sebenarnya tidak menjadikan hal ini sebagai suatu masalah, malah senang kalau Elano tidak datang. Proses persidangan jadi lebih gampang. Dan, tidak sampai mengulur waktu lama.
Katanya, kalau dari pihak tergugat tidak datang. Bisa saja, persidangan jadi mudah. Dengan penjatuhan talak langsung dari pengadilan agama.
Ya, aku berharap demikian. Elano supaya mangkir. Akta cerai jadi cepat keluar---dan aku bisa lanjut ke tahap selanjutnya, mengurus hak asuh Fano.
"Bu," Pras tiba-tiba memunculkan kepala dari balik pintu.
Aku melirik jam tangan yang ada di gawai, baru pukul tujuh kurang. Dia sudah tiba. Apa dia salah melihat jam ya?
"Kamu kok sudah datang, Pras?"
"Iya, siapa tahu bisa bantu-bantu Ibu," dia masuk dan mencium punggung tanganku.
Umur para pegawai dan karyawanku memang tidak jauh dari 25 tahun. Paling tua, Pak Andika. Tetapi aku tidak mempermasalahkan itu---yang terpenting dia loyal terhadap perusahaan.
"Sudah selesai, Pras. Oh iya, saya mau bisa tentang sesuatu sama kamu."
Mendadak, raut muka Pras menjadi kaku. Dia mungkin takut, berpikir kalau aku akan memecatnya. Padahal tidak, dia akan naik jabatan. Dari tim kreatif menjadi admin keuangan perusahaan.
Aku mulai berbicara kepada Pras mengenai hal tadi, dia tampak menyimak. Kata demi kata aku utarakan dengan jelas dan gamblang.
"Bagaimana, Pras?" Aku menutup penjelasanku dengan pertanyaan. "Gaji kamu akan Ibu tambah," sambungku.
Pras kemudian mengangguk, "karena saya memang sudah cinta dengan perusahaan ini, saya mau Bu."
"Oke, nanti akan dijelaskan ke anak-anak ya."
Jam mendadak berputar dengan sangat kencang, tiba-tiba sudah hampir pukul delapan pagi. Para karyawanku sudah mulai berdatangan.
Aku menyambut mereka di depan pintu, semua berbaris untuk menyalami. Sebenarnya aku tidak gila akan hormat. Tetapi ini, bentuk mereka segan kepada seorang atasan---yang mengayomi dan memberikan tempat untuk mengais pundi-pundi rupiah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hadiah Istimewa Untuk Suamiku (Dewasa)
Fiksyen UmumVOTE DULU SETELAH BACA! FOLLOW JUGA! "Bangkai itu tidak bisa ditutupi, Mas!" Stefa Azika Isabella, pemilik Toko 29 sedang menyelidiki secara diam-diam perselingkuhan suaminya Elano Kenzo Gautama---dibantu oleh asisten pribadinya. Perselingkuhan Elan...
