Bab 28 - Pengadilan Negeri (1)

2.1K 102 3
                                        

Suasana sangat mencekam saat aku masuk ke dalam gedung Pengadilan Negeri, ditemani Arlo. Banyak sekali keluarga-keluarga lain---aku yakin menemani salah satu anggotanya sidang.

Atau juga bisa mereka adalah saksi-saksi, orang-orang yang memenuhi kursi yang ada di depan empat ruang sidang ini.

"Kamu takut ketemu dengan Elano?" Tanya Arlo.

Arlo dan aku sama-sama berdiri mematung di depan dinding. Dengan kalung bertuliskan saksi sudah terpasang di tubuhku. Arlo tidak, dia tidak boleh masuk. Hanya orang berkepentingan saja.

Aku juga melihat polisi-polisi hilir mudik bersama tahanan yang berada ditengah mereka. Diiringi oleh isak tangis para keluarga---yang menunggu di luar ruang sidang.

"Ngapain takut?" Aku tidak melihat ke arah Arlo.

Melainkan melihat ke seorang ibu-ibu yang sedang menangisi anaknya yang berusia sekitar dua puluh tahun---mengenakan baju tahan.

Entah dia terjerat kasus apa, aku memang tidak mau bertanya. Hanya terus mendoakan kepada ibunya supaya tegar menghadapi ujian ini.

Aku tiba-tiba reflek menggelengkan kepala, membayangkan kalau aku diposisi ibu yang baru saja berlalu di depanku.

"Aku ndak akan takut sama Elano, lagian dia yang terbukti bersalah. Rekaman dari kamera tetangga juga mengarah ke Elano,

Setelah dia keluar dengan santainya menaruh barang bukti, pecahan gelas di luar rumah Jalan Emerald dulu." Terangku.

Ya, setelah kejadian itu. Aku tidak langsung meninggalkan kejadian---ada orang lain yang aku suruh untuk mencari bukti-bukti. Untungnya depan rumah Indri ada tetangga yang memiliki kamera pengawas.

Jadinya itulah salah satu bukti lagi, selain tongkat yang digunakan untuk memukul Pak Santo dulu.

Orang itu tidak bisa memang menjadi baik dalam sekejap, semua itu butuh proses. Tetapi kalau memang sejak dulu dirinya baik, pasti akan terus bertahan dengan kebaikannya. Walau, dirinya selalu dihantam cobaan.

"Begitu ya?" Arlo memandangiku.

"Kita tidak boleh takut, jika kita tidak salah Ar." Aku masih menatap pemandangan yang tersaji di depan mata.

"Maaf, aku tiba-tiba melupakan hal itu Ste," jawabnya sambil memegang tanganku.

"Yuk! Kita duduk! Sambil menunggu Elano datang," aku berjalan lebih cepat, menuju empat kursi kosong di barisan kedua. Ada empat baris.

Pada sepuluh menit menunggu, Elano dan Indri datang bersamaan. Aku sedikit terkejut, bukan Elano saja yang akan sidang hari ini. Melainkan mereka berdua.

Elano dan Indri tidak sendirian, melainkan bersama dua petugas lapas dengan senjata yang ada di sakunya. Baju tahan lusuh berwarna jingga itu sudah mereka berdua kenakan.

"Ini siapa, Stefa?" Tanya Elano.

Elano perawakannya benar-benar berubah drastis. Perutnya yang kian membuncit dengan rambut gundul. Serta Indri yang tidak ada kemajuan, tubuhnya sangat terlihat tua.

Lihatlah! Elano masih memandangi Arlo dengan tatapan bengis. Semacam takut kalau aku akan menjadi perempuan milik orang lain. Hai! Ingat kita sudah akan berpisah.

"Calon suamiku," ucapku serta merta membuat Arlo terlonjak disebelah kananku.

Aku juga sengaja berkata seperti itu, supaya Elano tidak terus memandang ke Arlo. Dia hilang ingatan atau bagaimana?

"Dasar jalang, belum cerai sama suaminya udah ada calon lain," Indri bergumam. Mereka berdua berdiri---dengan polisi di kanan kirinya.

"Hei! Anda yang jalang, kok gampang sekali menyimpulkan. Urat malumu putus ya?" Entah, aku hilang kontrol.

Hadiah Istimewa Untuk Suamiku (Dewasa)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang