Bab 30 - Cinta Merubah Segalanya

2.6K 88 1
                                        

"Akhirnya kita sampai juga ya." Aku mencoba membenarkan posisi Fano yang sedang tertidur di sebelah. Pukul satu siang.

Tidak, aku tidak duduk di depan. Seperti hanya saat menuju Malang kemarin. Fano, dia sifat manjanya sedang keluar. Minta aku duduk di sampingnya.

Arlo yang tetap berada di kursi pengemudi---membiarkan tanpa memberikan suara. Hanya dengan senyum.

Tidak bisa dipungkiri, bahwa kasih sayang ayah dan ibu itu sangat diperlukan walau sudah berusia dewasa.

"Kamu tidak capek Ste? Setelah sidang tadi, kita langsung kembali ke Surabaya?" tanya Arlo, sebelum aku benar-benar membuka sabuk pengaman.

"Mau bagaimana? Soalnya ini untuk masa depan anakku," aku kini sudah membuka sabuk pengaman.

"Anak kita," Arlo langsung memberi pernyataan.

"Anak kita?"

"Ya, kalau nanti kita menikah. Aku akan menganggap Fano seperti anakku sendiri," jawab Arlo dengan begitu bangga.

Aku seketika langsung terbatuk-batuk---padahal tidak ada makanan yang masuk dalam mulutuku.

Apa benar aku harus percaya dengan apa yang diungkapkan oleh Arlo barusan? Menatap Arlo memang dia seperti pasangan yang memiliki rasa tanggung jawab tinggi.

"Kamu serius denganku, Ar?" aku memberikan tatapan ragu-ragu.

"Kalau tidak serius, tidak mungkin aku berjuang seperti ini sekarang." Arlo membalikan tubuhnya menghadapku.

Aku menghela napas, kemudian turun dari mobil. Setelah Fano tidak bisa aku bangunkan. Aku yakin, Arlo akan menggendongnya masuk ke rumah.

Mobil, aku parkirkan di depan resto. Ketika benar-benar turun, aku disambut oleh Pak Andika yang sedang melihat para pegawai mengerjakan tahap akhir.

"Bagaimana, Pak?" tanyaku sambil menyembunyikan rasa lelah yang sudah menumpuk.

"Tinggal sedikit lagi, Bu. Sebentar lagi kita bisa segera melakukan tahapan lain." Pak Andika mengenakan kaus berwarna biru dengan dipadukan hijau.

Padahal baru kemarin aku tinggal ke Malang, tetapi sudah hampir selesai mengerjakan semuanya. Berarti, aku tidak salah memilih orang. Lagi-lagi atas saran dari Pak Andika.

Aku melihat ke arah atas, memang benar nama toko dan resto sudah terpasang dengan bagus di sana. Jadinya, sudah tidak ada lagi bakal keterlambatan.

Memang, memasang abjad demi abjad itu sangat rumit. Terlebih ukurannya begitu besar.

Aku alihkan ke arah pintu masuk---lebih tepatnya dua pintu masuk. Kaca-kaca dan pernak perniknya juga sudah terpasang dengan rapi.

"Untuk karyawan terpilih sudah saya taruh di atas meja, surat lamarannya." Pak Andika memberitahuku.

Seperti dugaanku, Arlo mencoba menggendong Fano. Padahal ukuran tinggi mereka hanya selisih beberapa senti saja. Tetapi Arlo tetap mengangkat tubuh tinggi anakku---yang masih terlelap.

"Terima kasih banyak, Pak. Bapak sudah membantu saya banyak hingga detik ini," aku menepuk pundaknya sebelum menyusul Arlo yang sudah menyebrang lebih awal.

---

Aku mendongak melihat jam dinding yang ada di ruang tamu---baru saja selesai memeriksa surat lamaran kandidat terpilih. Pukul delapan malam.

"Ar, kamu tidak mau pulang?" Aku melihat Arlo yang sedang tiduran di kursi panjang ruang tamu.

"Kamu mengusirku?" Arlo masih berada pada posisi yang sama---begitu juga aku.

Hadiah Istimewa Untuk Suamiku (Dewasa)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang