Bab 37 - Pemimpin Keluarga Baru

573 36 0
                                        

Aku melihat jam dinding di atas kulkas dapur, sudah pukul enam lewat. Ya, sejak pagi tadi aku sudah bangun dan mulai menyibukan diri.

Memang, hari ini aku ingin cuti satu hari dari aktifitas pekerjaan. Kuperhatikan rumah ini banyak yang harus dibenahi. Tejo dan aku sudah selesai membersihkan dapur.

Kami tidak masak, biar sarapan dengan roti dan selai saja. Anakku? Entah dia belum keluar dari kamar. Walau memang hari ini dia libur.

Gawaiku di atas meja dapur berbunyi. Ada pesan masuk dari Arlo, lantas kubaca pesan itu dalam hati.

Arlo: Sayang, aku sudah ada di luar. Tolong keluar sebentar.

"Ada apa Mas Arlo pagi-pagi ke sini?" Aku bergumam sambil berjalan ke ruang tamu.

Muncul Arlo yang sudah mengenakan pakaian rapi dan membawa tas ransel hitam. Alis mataku kontan naik satu, secara spontan.

"Aku mau pamit, mau ke Surabaya. Aku mau keluar dan cari kerja di Malang saja," ucap Arlo yang sangat mengagetkanku.

"Jika itu yang terbaik, sebentar Mas. Aku bikinkan sarapan kamu ya," aku menyuruh Arlo masuk.

Aku segera berjalan cepat---lebih tepatnya sedikit berlari untuk menyiapkan tiga roti sebagai sarapan Arlo di jalan raya. Saat istirahat nanti. Arlo datang, ikut masuk ke dapur. Dan melihat dengan fokus.

"Aku seperti anak sekolah, dibikinkan bekal oleh Ibunya. Supaya tidak jajan di luar," Dia tertawa renyah.

"Dan, aku seperti seorang Ibu yang harus selalu waspada anaknya jajan di luar," ucapku sambil mengoleskan selai di roti terakhir.

Setelah tiga roti selesai---kumasukan semua ke kotak makan berwarna hitam. Dan, kuberikan dengan penuh rasa tulus kepada calon suamiku.

"Ya sudah, aku berangkat dulu." Arlo bangkit dan berpamitan.

Kuantar dia ke depan, sambil sesekali memberikan perhatian untuk hati-hati di jalan. Bahkan hal itu jarang sekali aku lakukan ke Elano dulu. Biarlah, nama itu akan segera aku hapus dan janji tidak akan kusebut lagi.

Saat Arlo benar-benar menghilang dari pandanganku. Aku langsung masuk ke dalam, kulihat anak tangga. Masih banyak foto-fotoku dengan Elano.

Foto-foto itu adalah saat Fano masih baru kelas satu, sekolah dasar. Dalam foto yang berada di puncak anak tangga itu, Fano sangat menggemaskan. Dia digendong oleh ayahnya---sedangkan aku duduk sambil melihat ke kamera.

"Waktunya dibersihkan," ucapku sambil berjalan ke atas.

Kuraih foto berukuran sedang---tidak terlalu besar. Kubawa turun. Sambil kutatap foto yang ada di tangan---waktu sangat cepat berjalan. Fano sekecil itu, kini menjelma menjadi sosok remaja berprestasi.

"Mau dibawa ke mana fotoku, Bu?" aku terlonjak. Segera kuputar tubuhku.

Di sana, Fano baru bangun tidur dia sambil setengah menguap dan mengusap matanya. Entah, aku curiga Fano ini memiliki penyakit pada matanya. Sering kali kujumpai dia mengusap mata.

"Cuci muka dulu, sikat gigi, habis itu bantuin Ibu ya." Aku mengarahkan dia dengan kepalaku.

Fano langsung berjalan turun, di belakangku. Dia langsung berlari ke kamar mandi. Aku segera menaruh foto itu di ruang santai.

Fano keluar dengan wajah yang segar dia berjalan ke meja makan. Membuat roti, aku kembali ke anak tangga---masih ada empat foto lagi.

"Tadi Bapak ke sini," aku berkata sambil melihat Fano mulai memakan rotinya.

"Ngapain Bu?" Tanyanya sambil mulutnya penuh roti.

"Mau ke Surabaya, ngambil barang-barangnya," aku beralih menatap foto kedua.

Foto kedua adalah foto ulang tahun pertama pernikahan---di foto itu tampak romantis. Aku dan dia, memegang pisau---menghadap ke nasi tumpeng.

"Aku harap masih ada perayaan lagi tahun demi tahun ke depan." ucap Elano saat itu.

Maaf, aku menyebut namanya. Karena memang benar kejadian itu---tanpa rekayasa kepada kalian semua.

Dalam foto yang di depanku ini, aku mengenakan mukena---Elano juga berpakaian baju koko dan sarungnya. Karena memang kita baru saja selesai salat berdua. Keluarga dan rekan-rekanku yang memberikan kejutan ini.

"Sama, aku berharap demikian." jawabku enteng---ketika pucuk nasi tumpeng benar-benar terpotong.

Teryata benar, masih ada perayaan demi perayaan pesta pernikahanku. Tetapi tidak sampai salah satu diantara kita menghembuskan napas terakhir.

"Kenapa foto Ibu sama Bapak di angkat semua?" Fano berjalan ke arahku---dia ikut naik.

Aku bisa mengerti perasaan Fano---ketika foto-foto yang telah terpajang sejak dia kecil hingga besar kini harus diangkat dan ditaruh pada tempat yang tidak terlihat.

Terlebih lagi, di situ ada foto Elano. Notabene juga ayah kandung Fano---dia yang menemani Fano dari kecil. Tetapi, hidup itu harus berjalan maju.

"Nak, Ayah kamu adalah pemimpin keluarga yang lama. Sedangkan Pak Arlo, adalah pemimpin yang baru.

Jadi, kita harus mengutamakan perasaan Pak Arlo. Ibu sebenarnya tidak mau punya pemimpin yang baru, tetapi yang namanya hidup harus tetap berjalan." jelasku secara pelan-pelan kepada dia.

Fano ingin menyanggah perkataanku---mulutnya sudah terbuka. Tetapi dia tutup lagi---aku mengelus rambutnya yang masih sedikit basah.

"Ya sudah, kalau memang itu yang terbaik Fano ikut kata Ibu." Fano mengambil foto di tanganku dan berjalan menaruhnya di tempat yang tadi.

Mata minus, tiba-tiba aku mendiagnosis Fano seperti itu. Memang kemarin aku melihat dia mengusap-usap matanya saat menghadap laptop. Apa memang dia sudah merasakan gejalanya?

"Mata Fano sering gatal?" pandanganku tertuju pada Tejo yang mulai menyapu ruang tamu.

"Jo, gimana Surti? Sudah makan?" Fokusku berpindah ke Tejo.

Tejo yang sedang sibuk menyapu dia menoleh ke arahku---hanya mengangguk dan kemudian melanjutkan kegiatannya.

Foto ketiga, adalah foto ketika aku dan Fano sedang ke Jawa Timur Park 1 dulu. Terlihat dengan jelas mataku dalam gambar itu, sembab. Memang habis menangis. Kalian ingat ketika aku tidak sengaja bertemu dan melabrak Elano dulu bersama Indri? Nah!

Aku segera ikut berjalan turun---membawa foto berlatar belakang kolam renang ini segera kutumpuk secara terbalik. Tidak mau kenangan buruk itu terbesit lagi.

"Ayo, segera dibereskan Nak. Habis itu kita makan. Ibu lapar, dari tadi belum makan." ucapku supaya segera membereskan foto.

Bukan hanya di tangga, ada beberapa foto di ruang tamu. Dan kamarku juga masih belum kusingkirkan semua. Saatnya aku harus bisa fokus dengan apa yang kumiliki sekarang.

---

Bahkan ketika siang hari, aku hanya beristirahat di kamar. Tidak memegang serta melihat gawai, waktunya benar-benar aku pakai untuk beristirahat.

"Kita ke Kantor Polisi yuk. Njenguk Bapak, sudah lama kita tidak ke sana." Fano tiba-tiba masuk kamarku.

Ke kantor polisi? Bahkan aku sudah melupakan kewajiban itu saat Arlo datang. Semata-mata aku ke sana hanya untuk mengantar Fano menemui ayahnya---tidak lebih.

Tetapi mengingat besok Fano sekolah, aku sedikit mikir lagi untuk menyetujui ajakan dia langsung.

"Besok kamu sekolah," aku berbicara sambil melihat dia yang berbaring di kanan.

"Tetapi, Bu. Aku kangen Bapak." jawabnya dengan lembut.

Aku tahu Nak, itu memang Bapakmu. Orangtuamu, tetapi ada hal yang lebih penting dari itu yaitu pendidikan. Hanya batin.

Bersambung...

HIUS update lagi, spesial Lebaran Haji.

Jangan lupa diramaikan ya, teman-teman semua.

Hadiah Istimewa Untuk Suamiku (Dewasa)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang