Bab 48 - Perdebatan dengan Arlo

670 47 1
                                        

Hari di 2016 sungguh berjalan sangat cepat. Tahu-tahu Januari sudah sampai pada pertengahan bulan. Itu berarti pernikahanku dengan Arlo tinggal satu bulan lagi.

"Cepat sekali sih waktu berjalannya," ucapku sambil melingkari kalender meja di kamar.

Semalam, aku sudah mengabari Arlo. Mengajak dia untuk ke tempat katering. Memang untuk pernak-pernik pernikahan ini ditanggung berdua.

Aku tidak mau membebani Arlo, begitu juga dengan Arlo. Dia tidak mau menjadi laki-laki yang hanya berpangku tangan.

"Lokasinya di mana Ste?" Arlo baru saja mandi. Dia keluar dari kamar mandi.

Dengan rambut masih basah. Arlo berjalan menghampiriku di kamar Surti.

"Dekat dari sini, Mas. Ya, sekitar tiga kilometer." Jawabku sambil mengelus anak Surti.

Muhammad Alaidrus Ramadhan, nama anak Surti. Dia menamainya sendiri. Tanpa berunding dengan Tejo terlebih dahulu.

"Ya sudah, ayo berangkat." Ajak Arlo berbisik.

Aku mengangguk dan pergi meninggalkan Idrus dengan Surti. Arlo mengekori langkahku. Dia tiba-tiba memelukku dari belakang.

Aku sedikit terlonjak, karena takut Surti keluar. Atau ada tamu---karyawan gudang. Bisa saja tiba-tiba berdiri lurus di pintu depan.

"Aku sayang banget sama kamu, Ste." Bisiknya sedikit menggoda di telingaku.

Aku langsung melepaskan dekapan Arlo ini---kuputar tubuh ke arah Arlo. "Dasar nakal," aku mencubit dadanya.

"Hei, kamu gak mau membalas?" Arlo masih mengejarku yang mulai berjalan naik.

"Mau ganti dulu, Mas."

Ucapku sebelum hilang, menyibukan diri di dalam kamar. Bersiap-siap. Tidak lama, hanya seperempat jam. Aku sudah kembali turun, Arlo nampak menganga melihat penampilanku.

Padahal, jika kalian tahu. Aku hanya mengenakan baju batik disertai rok ala pegawai bioskop. Dengan rambut yang tidak kugerai.

Perjalanan yang begitu melelahkan, karena aku dan Arlo mengenakan motornya bukan menaiki mobilku.

"Pegangan dong Ste," Arlo menarik tanganku.

"Kamu ini, Mas. Malu tahu," aku memukul kecil perutnya.

"Justru kita yang sudah berumur gini, harus menjaga keromantisan." Arlo mengelus tanganku.

"Ya, semoga keromantisan kita awet sampai nanti Mas." Jawabku.

Kami berdua larut dengan obrolan-obrolan penting mengenai pernikahan kita nanti---bahkan sampai-sampai Arlo bertanya pengin punya anak berapa dalam pernikahannya nanti.

"Aku pengin punya anak banyak Ste," jawabnya seraya tetap fokus ke depan.

"Kalau kamu bagaimana?"

Ya, siapa sih yang tidak pengin punya anak dalam sebuah hubungan pernikahan. Terlebih lagi memiliki penerus yang pandai dalam segala ilmu---agama atau juga ilmu lain.

"Aku tidak mau mendahului rencana Allah, Mas. Tetapi kalau ditanya, aku pengin punya anak dua lagi." Jawabku sambil mengelus perut Arlo.

"Ya sudah, biarkan Allah saja yang menentukan kita punya anak berapa." Pungkas Arlo.

Tempat yang kutuju sudah di depan mata. Tanganku masih melingkar di perut Arlo. Sangat tidak boleh di lepas oleh dia.

Aku reservasi untuk melakukan pencicipan makanan sudah dari awal Januari kemarin. Supaya mendapatkan tempat dan tidak bentrok dengan orang lain.

Untungnya---Tuhan memang maha baik. Tidak ada jadwal dari pihak katering.

"Ini tempatnya, Ste?" Tanya Arlo menatap sekeliling.

Memang usaha katering ini, baru berjalan satu tahun. Dari segi ornamen---tempatnya sangat sederhana. Dengan hanya ada satu mobil box terparkir di depan.

"Iya, ini. Katanya masakannya enak-enak, Mas." Aku menarik dia untuk masuk.

Ketika aku sudah masuk, hidungku langsung disambut oleh aroma masakan-masakan yang sangat menggugah selera.

"Ibu Stefa dan Pak Arlo?" Seorang laki-laki datang mendekat. Menggenakan kemeja hijau bertuliskan Berkah Katering. Pada bagian punggung.

"Iya, Pak."

"Mari silakan dicicipi dulu masakan kami," ucapnya sambil menyilakan untuk mulai tes rasa.

Aku dan Arlo benar-benar seperti seorang tamu undangan yang sama-sama memakai pakaian formal.

"Kita ambil menu yang berbeda, nanti kita cicipi bersama." Aku memberi saran.

Ada sekitar sepuluh menu makanan yang terjajar rapi di sudut kanan tempat ini. Semuanya masih hangat.

Aku mengambil Balado Telur Ceplok, Ayam Kecap, Mi Kecap, Koloke dan Capcay.

Sedangkan Arlo dia memilih Nasi Goreng, Nasi Gurih, Ayam Goreng, Urap-urap dan Balado Kentang Teri. Semuanya dalam porsi sedikit.

Kami duduk di bangku---yang memang disiapkan untuk para tamu Berkah Katering ini.

"Ayamnya enak banget, Ste." Arlo menjulurkan sendok yang sudah berisi potongan ayam goreng.

Aku langsung mengunyah ayam itu, sungguh kaya akan rasa. Bumbu-bumbu yang dipakai langsung bisa memenuhi indra perasaku.

"Iya, pinter banget kalau masak." Aku tersenyum ke arahnya.

"Jadi kita pakai berapa menu, Ste?" Tanya Arlo sambil menyuapiku.

Aku memang sedikit bingung---saat ditanya memakai berapa menu. Karena takut kalau tidak akan habis---jika mengambil sepuluh menu ini.

Jika mengambil sedikit macam menu, takutnya mereka---tamu-tamu nanti bosan semua.

"Sepertinya lima," aku membuka lima jari tangan kiriku.

Arlo kontan terbatuk-batuk? Kenapa? Apa aku salah berbicara? Dia meminum air di depannya.

"Gak kebanyakan Ste? Kenapa lima?" Arlo memiringkan kepalanya.

"Kenapa lima? Karena mereka biar bisa milih, Mas. Gak mungkin juga, satu menu." aku menekan kata 'gak mungkin'.

Arlo membuang muka ke kiri, dia mungkin tidak setuju. Tetapi benar bukan perkataanku? Atau aku menyinggungnya?

"Apa kamu keberatan bayarnya, Mas?" Aku meraih kedua tangan Arlo.

Arlo berdeham, aku tahu. Laki-laki ini ada sesuatu yang dia tahan dalam pikirannya. Tidak dikeluarkan.

"Tolong, Ste. Jangan merendahkanku," ucapnya datar.

Sekarang aku yang kaget. Sampai-sampai mulutku terbuka lebar. Siapa yang merendahkan? Aku hanya bertanya. Apa salahnya?

"Bukan itu maksudku, Sayang." Aku tetap memegang tangannya. "Kalau tidak lima, kamu mau berapa?"

Arlo kembali bergeming. Ya, aku tahu---bahwa calon suamiku ini orangnya biasa saja. Pertanyaanku tadi tidak bermaksud menyinggungnya.

"Aku sih, penginnya tiga saja," dia menatapku tanpa senyum.

"Apa? Tiga? Kurang dong, Mas. Tiga itu cuma satu nasi dua lauk." Aku melipat tanganku di dada.

"Tapi Ste, itu lebih dari cukup. Bukannya kamu pengin pernikahan kita sederhana, kenapa tiba-tiba menjurus mewah gini?

Kalau memang sederhana, tidak perlu pakai katering. Dan juga souvenir, Stefa." Arlo mengeluarkan isi hatinya.

Baru kali ini, aku berdebat dengan Arlo. Sebelumnya tidak pernah sama sekali. Aku tidak pernah marah didebat Arlo begini, tetapi aku perlu cara untuk menjelaskan keinginanku.

"Mas, nikah itu momentum sakral. Lagian nanti juga, anak-anak pasti datang semua." Aku masih mencoba mempertahankan pilihanku.

Arlo diam, dia tidak berselera berbicara lagi. Memilih untuk menyelesaikan makanannya---tanpa bicara.

Bersambung...

Waduh, kok jadi perang dingin gini?

Terima kasih buat kamu yang masih setia membaca.

Hadiah Istimewa Untuk Suamiku (Dewasa)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang