Karena anak, aku menguatkan diri untuk pernikahan yang penuh kebohongan ini.
Stefa Azika Isabella
Sudah sampai di Hotel Gemah Ripah, aku langsung keluar dari mobil dan menuju meja resepsionis---untuk menitipkan barang yang aku beli tadi.
"Selamat pagi, ada yang bisa kami bantu?" Sapa seorang pegawai yang tinggi---dua orang resepsionis perempuan berdiri menyambutku.
"Mbak, ada paket buat Elano Kenzo Gautama, dia ada di ruang mana, ya?" Aku bertanya, tetapi kedua resepsionis itu malah saling pandang.
"Untuk ruangannya ada di lantai tujuh, kamar tigaratus empat," pegawai yang tingginya hampir sejajar dengan yang satunya menimpali.
Aku segera memutar otak, karena tidak mungkin aku langsung ke sana. Menghampiri Elano yang sedang berada di kamar. Menyuruh resepsionis ini juga tidak mungkin, apalagi kusuruh menyamar jadi tukang ojek online.
Kupandang sekeliling lobi hotel ini, mencari apa ada orang yang bisa kumintai tolong. Seorang pengemudi ojek online tiba-tiba datang ke meja resepsionis dan berdiri di samping kananku.
"Mas, bisa bantu saya?" Dia menengok ke arahku.
"Bantu apa, Bu?" Driver itu menatapku dengan raut kebingungan.
Aku segera mengajak dia menjauh dari meja resepsionis dan mulai membisikan sesuatu kepadanya---setelah mendapat anggukan, aku memberikan kotak kecil yang sudah kubungkus sebelum masuk ke Hotel Gemah Ripah.
Di dalam bungkusan itu, sudah ada tulisan yang benar-benar mungkin membuat dia terkejut.
Ini hadiah, buat kamu, Mas.
Indri.
Begitulah tulisan yang berwarna merah---karena aku menulisnya menggunakan gincu yang kutemukan di dashboard mobil.
Tukang ojek online itu tampak kebingungan ketika aku memberikan kado ini---entah kenapa? Padahal aku sudah membungkusnya, hanya aku sendiri yang mengetahui isi dari tempat itu.
"Nanti, setelah sampai di ruangan jangan lupa di foto dulu ya penerimanya," kataku sedikit berbisik kepada pengemudi ojek online itu.
Dia mengangguk dan aku bilang akan menunggunya di sini, hingga dia kembali barulah aku memberi bayaran untuknya.
Aku sudah berdiri sendiri---menatap dia sudah menjauh dan hendak memasuki lift yang di sebelah kanan dan kiri meja resepsionis tadi.
Semoga saja rencana dan dugaanku berhasil dan tepat. Aku menduga Elano di atas tidak sendirian sama seorang wanita---pasti dengan Indri.
Selang beberapa menit, pengemudi ojek online itu kembali dan tersenyum lebar. Karena berhasil melaksanakan tugas---aku meminta hasil foto tersebut supaya di kirim ke gawaiku.
"Ini buat kamu," kuberikan uang seratus ribu untuknya---karena sudah membantu pelancaran rencanaku.
"Terima kasih, Bu." Laki-laki muda itu menyalamiku dan kemudian berpamitan pergi.
Aku belum tahu isi gambar itu, karena gawai masih berada di dalam mobil. Lupa---saking buru-burunya juga. Segera aku keluar dari lobi---menuju tempat parkir yang ada di depan.
Dan, ternyata benar sekali---pengemudi ojek online tadi mengirimkan sebuah foto seorang perempuan, Indri.
Apalagi ini Elano? Apa yang ada dalam perempuan ini? Kenapa kamu tiba-tiba menjadi liar seperti sekarang? Ketika usia pernikahan kita sudah beranjak tua?
Lihat saja Elano, kamu nanti akan menerima kejutan dariku yang benar-benar diluar dugaan.
Aku melajukan mobil dengan kecepatan penuh meninggalkan Hotel Gemah Ripah ini---menuju suatu tempat yang sudah lama tidak aku datangi.
---
Satu keranjang kecil berisikan bunga mawar berwarna merah dan putih---juga melati yang banyak kubeli di tukang bunga. Air mawar satu botol---mereka menemaniku di pemakaman ini.
Terakhir ke sini saat menjelang ramadan kemarin---empat bulan yang lalu. Sudah lama sekali.
Aku berjalan melewati rumput-rumput dan ilang-ilalang yang sudah mulai tinggi di beberapa tempat, berjalan seraya menunduk mencari pusara seorang. Orang yang pernah mengajarkan arti cinta sesungguhnya.
"Assalamualaikum, Mas Ulya." Aku mengucapkan salam di atas nisan yang namanya mulai memudar ini---Ulya Marsadi Utama, mantan suamiku.
Ya, sebelum menikah dengan Elano. Aku sudah menikah terlebih dahulu dengan seorang pria yang kukenali lama---karena dia teman sekolahku ketika masih sekolah dasar.
Ulya adalah seorang laki-laki yang penyayang kepada istrinya, dia menunjukan kasih sayang itu ketika berpacaran dan menikah denganku.
Pernah suatu hari, aku dibelikan sepatu baru karena yang kupunya sudah tidak bisa dipakai lagi menurutnya. Harga itu benar-benar mahal di waktu itu---sekitar seratus lima puluh ribu.
Masih tercetak jelas di ingatanku, Ulya membungkus sepatu itu dengan kertas berwarna hitam putih polos tanpa corak apa pun.
Dia memberikannya sesaat sebelum meregang nyawa karena serangan jantung---yang mendadak ketika usia pernikahan kita baru berjalan satu bulan.
Ya, selama satu bulan itulah aku benar-benar dimanja habis-habisan oleh Ulya. Aku tidak mengerti bahwa itu pertanda dia akan pergi untuk selamanya.
Aku menaburkan bunga yang kubawa---kemudian disusul air mawar benar-benar banyak. Setelahnya merapalkan doa untuk mantan suamiku ini.
"Jika kamu tidak pergi secepat ini, Mas. Tidak mungkin sekarang aku bisa meramu luka yang luar biasa sakitnya. Kautahu? Aku salah memilih pasangan.
Kalau tidak karena anak, mungkin aku sudah menceraikan pria hidung belang ini. Aku letih, Mas. Ah, maafkan aku jadi curhat kepadamu. Aku pergi dahulu, Mas. Hari mulai gelap." Ucapku seraya mengelus batu nisan yang mulai retak ini.
Benar-benar singkat.
Bersambung...
KAMU SEDANG MEMBACA
Hadiah Istimewa Untuk Suamiku (Dewasa)
General FictionVOTE DULU SETELAH BACA! FOLLOW JUGA! "Bangkai itu tidak bisa ditutupi, Mas!" Stefa Azika Isabella, pemilik Toko 29 sedang menyelidiki secara diam-diam perselingkuhan suaminya Elano Kenzo Gautama---dibantu oleh asisten pribadinya. Perselingkuhan Elan...
