"Apa? Stoknya hilang satu karton?" Aku membaca laporan---di ruanganku. buku itu baru saja diisi oleh pegawaiku yang shift pagi.
Aku sudah berada di toko cabang pertama, masih menatap lekat-lekat buku laporan penjualan harian dengan dua warna berbeda. Abu-abu dan putih, abu-abu untuk yang shift pagi---kertas berwarna putih untuk shift sore. Hari ini tepat satu minggu, Elano tidak pulang ke rumah.
Tiara, Asta dan Boluf mendapat jatah shift pagi hari ini. Mereka bertiga sudah berdiri di depanku---saat selesai shift kerjanya.
"Satu karton, isinya duapuluh empat, jika harga satuannya sekitar lima ribu. Dikali duapuluh empat sudah berapa anak-anak?" Aku berbicara tanpa menakuti mereka.
"Apa tidak dibawa maling?" Tanyaku lagi.
Hanya Asta yang berani menatap muka santaiku, Tiara dan Boluf masih menunduk. Melihat ke arah sepatunya masing-masing.
"Sepertinya tidak, Bu. Kan, di sini pakai dua pintu. Di depan juga sudah ada satpam yang menjaga," jelas Asta yang membuatku sedikit sadar.
Ya, toko ini memang dipakai dua pintu dengan kutambahkan tiga orang satpam yang menjaga penuh di pintu masuk. Satpam gajinya lebih sedikit daripada gaji para pegawaiku.
Karena jam kerjanya juga hanya sebentar. Jadinya bakal kentara kalau ada maling yang keluar dari pintu masuk---alias melawan arus. Dan, jika nekat menerobos pintu keluar akan ketahuan kasir dan kamera pengawas yang menyorot ke arahnya.
"Sudah diteliti dari halaman awal Tiara?" Aku memberikan buku itu terhadap Tiara.
"Sudah, tetapi ini memang kurang, Bu," dia bergetar berbicara.
Aku tidak mempersalahkan hilangnya, tetapi kasihan bahwa nanti gajinya akan terpotong karena keteledoran mereka. Kuanggap ini ada orang beli satu karton tetapi uangnya belum dimasukan di mesin. Jadi, data keluarnya berbeda---saat mereka cek.
Kalau gaji mereka tidak aku potong, takutnya nanti kalau kejadian lagi mereka berharap 'ah, mungkin gak dipotong sama Ibu'.
Jika kalau kupotong, pasti akan sedih mereka. Ini bukan kasus pertama, di toko utama sudah sering seperti baru saja yang terjadi sekarang.
"Oke, kali ini tidak Ibu potong gaji kalian. Tetapi, jika nanti terjadi lagi. Terpaksa Ibu akan potong sesuai nominal yang hilang dan dibagi tiga," aku tidak marah, melainkan tersenyum saat berbicara ini ke mereka.
Tiara, Asta dan Boluf saling pandang. Kemudian tersenyum, berpamitan. Mencium punggung tanganku, "hati-hati di jalan."
Aku melihat tiga punggung itu keluar dari ruang kerjaku di sini. Namun, ada seseorang yang sudah kulupakan keberadaannya kini datang masuk. Elano bersama Indri.
Elano mengenakan baju kantornya sedangkan Indri juga sama, dia berpakaian sangat rapi sekali. Seperti selayaknya istri CEO Efano Ayam Telur Asin.
"Ada apa?" Tidak, aku tidak menyilakan mereka berdua untuk duduk.
"Aku sama Indri sudah menikah secara agama," Elano berbicara enteng. "Nikah siri," sambung Elano.
"Oh, bagus dong. Biar saya tidak ragu lagi untuk menaruh berkas kita ke pengadilan," kutertawa kencang.
Raut Elano dan Indri nampak kebingungan, dia mengira aku akan menangis dengan penuh penghayatan mungkin? Tidak sama sekali, malah senang terbebas dari laki-laki buaya ini.
"Asal kamu tahu, Mas. Modal pertama kamu membuat bisnis itu sepenuhnya dariku. Jadi hasil usahamu sampai sekarang juga karena bantuanku," aku berdiri dan berjalan mendekat ke arah Elano.
"Kamu menikahiku hanya modal ini, Mas," aku meremas dengan kasar bongkahan yang ada pada celana Efano.
Ini tidak bisa ditampik, seluruh pernak-pernik pernikahan dahulu. Dimodali dari uang mendiang kedua orangtuaku. Hasil menjual rumah, sebagian kusisihkan untuk persiapan menikah. Hitung-hitung membantu suami, pikirku dulu.
Mendekati hari H, uang Elano katanya raib dibawa oleh maling. Jadinya aku harus memutar otak untuk mengurus pernikahanku. Jika kamu mengira pernikahan pada masa itu semewah sekarang, itu salah.
Pernikahan dengan Elano dulu, hanya memakai halaman rumah kami untuk menggelar tikar dan hanya nasi rawon yang sudah menjadi menu wajib saat ada pesta pernikahan. Aku juga mengalami.
Dekorasi pernikahan dari kain-kain bermotif batik yang dirangkai oleh para tetangga sekitar. Kursi pelaminan juga hasil meminjam dari tetangga yang memiliki kursi bagus pada masa itu.
Uang pernikahan kami juga kugunakan untuk memodali Elano dan membeli barang-barang untuk menambahi isi toko utama.
"Dan kamu!" Aku beralih ke Indri.
"Kamu hanya menikmati kesuksesan dari Elano, lihat saja nanti seusai aku sidang dengan Elano. Kamu akan menjadi gelandangan, karena bisnis ini akan kubalik nama besok menjadi namaku!" Aku mendorongnya perlahan.
Mungkin Indri jumawa sudah dinikahi secara siri oleh Elano, dia belum tahu siapa sebenarnya Elano ini. Dan, lihatlah dia juga masih menjadi istri orang yang sah---baik agama atau negara.
Aku juga tidak tahu soal suami Indri ini sejak dulu, dia kerja apa? Apa kesibukannya? Kok sampai-sampai istrinya seperti ini dia hanya diam saja? Atau tidak tahu perihal kebejatan Indri?
Kubuka pintu ruang kerja dengan sangat lebar, supaya mereka berdua keluar. Aku sudah muak melihat mukanya, "silakan."
Aku kembali ke mejaku, karena seharian kemarin. Tidak sempat merekap hasil pemasukan dan pengeluaran barang dari kedua toko.
Sepertinya besok, aku akan ke kantor Elano. Mengambil berkas-berkas untuk perusahaan dia---guna balik nama. Jika memang ini berhasil, maka dua bisnis ini. Kukembangkan sendiri dengan menjadi satu perusahaan.
---
Aku sudah berada di rumah, mencari keperluan berkas untuk kukirimkan ke Kantor Pengadilan Agama. Hubungan ini tidak bisa dipertahankan lagi, karena satu kebohongan bisa menghapus kepercayaan hingga selamanya.
"Ibu sedang cari apa?" Elano masuk ke ruang kerjaku.
"Nak, besok ibu mau ke pengadilan agama," aku fokus kepada berbagai berkas di depan.
Termasuk ijazahku, ijazah Elano, akta kelahiran kami bertiga, kartu keluarga dan hal penting lainnya. Kujadikan satu tempat yang sama.
Efano tidak berbicara lagi, dia hanya melihat. Ya, setelah kejadian akan kaburnya Efano---satu minggu lalu. Dia tidak berani menanyakan lagi soal ayahnya. Mungkin, dia sudah mulai mengerti mana yang baik dan buruk.
Kulihat jam dinding sudah pada pukul sebelas malam, "Nak, kamu tidur gih! Lihat jamnya." Aku menunjuk ke arah jam dinding di atas pintu. Efano juga demikian.
Setelah ritual saling cium pipi dan kening, Efano pergi ke kamarnya. Aku masih harus begadang, mencari surat-surat perusahaan untuk kubawa ke calon pengacaraku. Dan, sekalian menutup akses rekening atau kartu ATM yang dipegang Elano sekarang.
Tidak menunggu nanti-nanti, jika besok bisa diselesaikan semua. Supaya aku terbebas dari bayang-bayang Elano. Kusudahi sakit yang selalu menganggu, saatnya bahagia untuk menaikan karirku dan melihat tumbuh kembang Elano.
Setelah ketemu semua yang diperlukan, kupisahkan ke dua map kertas. Kubawa ke kamar yang sekarang hanya milik sendiri.
Stefa: Besok antar saja ke Pengadilan Agama, Kantor Elano, sama cari pengacara ya.
Pesan itu kukirimkan ke Pak Andika. Sesaat setelah berganti pakaian---sebelum beristirahat. Ketika waktu sudah menunjukan tengah malam.
Bersambung...
Babak baru dari hubungan Stefa dan Elano, bagaimana kelanjutannya?
Spam vote semua bab ya, supaya biar semangat nulisnya. Komentar juga!
KAMU SEDANG MEMBACA
Hadiah Istimewa Untuk Suamiku (Dewasa)
Genel KurguVOTE DULU SETELAH BACA! FOLLOW JUGA! "Bangkai itu tidak bisa ditutupi, Mas!" Stefa Azika Isabella, pemilik Toko 29 sedang menyelidiki secara diam-diam perselingkuhan suaminya Elano Kenzo Gautama---dibantu oleh asisten pribadinya. Perselingkuhan Elan...
