Bab 39 - Rencana Tuhan

843 46 1
                                        

Sepulangnya dari rumah sakit, Arlo tidak langsung pergi. Dia masih ingin di rumahku, menemani Fano yang sedang melanjutkan karya novelnya.

"Anaknya Tejo sama Surti gemesin ya, percis sama orangtuanya yang laki." Aku berbicara dengan nada gembira.

Aku dan Arlo berjalan menuju ruang tengah, asisten yang baru sudah datang baru saja. Namanya Ningsih, dia akan mengantikan Surti selama dia mengurus anaknya---hingga cukup besar.

Ningsih ini memiliki wajah yang sangat muda, padahal usianya sudah menginjak hampir duapuluh lima. Seumuran dengan Tejo dan Surti.

"Tapi kasihan, sayang. Orang-orang terdekat mereka tidak datang. Ya, untungnya ada kamu." Imbuh Arlo sambil duduk di sofa yang menghadap televisi.

Aku tahu bagaimana rasa sakit hati yang dialami oleh Surti dan Tejo sekarang. Padahal momentum ini, yang dinanti-nanti oleh pasangan muda.

Surti tadi sempat berbicara denganku, bahwa dia tidak ingin mereka datang membawa buah tangan beraneka macam. Melainkan, melihat anaknya saja sudah cukup. Sebagai seorang saudara pada umumnya.

"Nonton yuk," Arlo memandang televisi yang masih belum menyala di depannya.

"Nonton apa?" Tanyaku.

"Nggak tahu, biasanya jam segini ada film bagus di tv." Arlo meraih remote dan mulai mencari stasiun televisi yang dia maksud.

Pandanganku beralih ke Fano---dia sedang menghadap laptop. Aku yakin anakku ini sedang melanjutkan menulis novelnya. Serius sekali.

"Mbak, Mbak Ningsih," aku berteriak---memanggil asisten yang baru.

Secepat kilat Ningsih datang, dia memang tinggal di sini. Sebelah kamar Tejo dan Surti. Kata Ningsih tadi sebenarnya dia pengin mencari kamar kos, tetapi aku tolak.

Ketimbang uang untuk membayar kamar kos---lebih baik dia menabung untuk masa depannya sendiri.

"Iya, Bu?" Ningsih berdiri di dekatku.

"Belikan camilan buat anak saya ya, kasian dia tidak ada camilannya. Warungnya ada di depan kok, tidak jauh dari sini." Kuberikan uang satu lembar limapuluh ribu.

Aku kembali fokus ke Arlo yang sibuk mengecek gawai pribadinya. Entah siapa yang menghubungi sore-sore seperti ini.

"Siapa, Mas?" aku memotong kegiatan Arlo yang sibuk mengotak-atik gawainya.

"Oh itu, gajianku turun Ste. Lumayan, bisa buat bertahan hidup sementara." Ucap Arlo.

Entah kenapa aku mendengar perkataannya sangat miris sekali, aku juga sedikit merasa bersalah karena dia ingin menikahiku---rela meninggalkan pekerjaan yang telah digelutinya.

Tetapi aku juga takjub dengan dia, karena mampu menunjukkan keseriusannya dalam mendapatkan aku. Bukan hanya sekadar cinta saja. Itu semua bisa disebut sebagai perjuangan Arlo kepadaku.

"Mas, kamu rencana mau cari kerja di mana?" Tanyaku saat film di televisi mulai berputar.

Aku dan Arlo sedang duduk berdua di ruang tengah. Menonton film-film yang sedang tayang di satu stasiun televisi. Garapan sutradara lokal.

"Aku sekarang pengin kerja lagi di rumah makan, Ste. Tapi rasanya sulit," Arlo menaruh tangan kanannya di sofa. Belakang tubuhku.

Memang, sekarang banyak tempat kerja yang menuntut atau membatasi usia para pelamar dengan alasan-alasan yang menurutku sedikit logis.

Kenapa? Karena, usia kini menjadi patokan utama mereka dalam merekrut para calon karyawan perusahaan. Mungkin mereka ingin seperti itu, supaya komunikasi akan berjalan lancar jika usianya sama-sama sebaya.

"Kamu mau tidak menjadi kepala koki untuk semua restoranku?" Entah dari mana kalimat itu keluar.

"Nggak, aku nggak mau mendapatkan uang dari perusahaan istriku. Sama saja, istriku yang menafkahi aku." Arlo langsung menolak tawaranku.

Tidak, tidak, aku tidak menganggap dia seperti itu. Bukan berarti juga aku meremehkannya. Memang seminggu ke belakang bisnisku ini semuanya sedang naik daun.

Aku juga perlu untuk menambah menu, karena regenerasi menu dalam dunia kuliner itu juga diperlukan. Tidak monoton bertahan dalam menu-menu itu saja.

"Mas, tetapi aku pengin nambah menu. Dan, kamu sebagai mantan koki itu pasti punya ide-ide yang menarik." Aku memegang bahu kanannya.

"Resep darimu juga pasti ada harganya, Mas. Aku tidak mungkin diam saja." Sambungku meyakinkan Arlo supaya dia mau menerima tawaranku.

Fano membawa laptopnya dan berjalan ke arahku. Dia duduk di karpet dan menghadap ke tempat aku berada dengan Arlo. Aku hanya meliriknya---karena fokusku masih di Arlo.

Arlo tampak berpikir dalam-dalam. Kuberikan ruang untuk dia berpikir, aku memutar laptop milik Fano. Fano tampak kaget, karena laptopnya berpindah tangan.

Sedikit kubaca tulisannya, sebenarnya masih banyak kesalahan. Tetapi biarkan dia menulis sampai akhir---baru aku suruh membaca ulang ceritanya. Bagiku pribadi, melihat anak yang terus produktif saat remaja itu bisa membawa sebuah kesinambungan hingga besar nanti.

Bahkan tayangan film di televisi sudah tidak ada lagi menarik-menariknya sama sekali. Sejenak kutengok Arlo, dia menatap ke depan.

"Bagaimana, Mas?" Kuputar lagi laptop itu kembali ke arah Fano.

"Oke, aku mau. Tapi sementara ya, tidak selamanya. Aku tidak mau bergantung terus ke kamu." Arlo melihatku dengan tatapan serius.

"Nah, gitu dong Pak. Jangan biarkan Ibu memikir usahanya sendirian," Fano tiba-tiba menimpali jawabannya.

"Iya, iya," Arlo berdiri---dia mengelus rambut Fano sebelum pergi ke dapur.

Aku juga ikut menyusulnya---Arlo ternyata sedang minum. Mungkin haus karena sejak pulang tadi dia belum meneguk air minum setetes saja.

Ningsih belum pulang dari belanjanya ke warung. Apa mungkin dia kesasar? Padahal warungnya masih dalam lingkup komplek perumahan ini.

"Jadi, kita kapan menentukan tanggal pernikahannya Mas?" Aku mencari sesuatu di dalam kulkas dua pintu ini.

"Besok saja, Ste. Kalau sekarang kita masih belum bisa berpikir jernih karena lelah," Arlo sukses menandaskan satu gelas air putih.

Aku menemukan buah-buahan di kulkas---cukup banyak. Pisang, semangka, nanas. Semuanya sudah terpotong dan tinggal makan. Punya siapa?

Duduk berhadapan dengan Arlo---sambil memandang tubuhnya yang masih saja segar di usia kian dewasa.

Sedikit tidak menyangka bahwa Tuhan telah memiliki rencana lain. Padahal aku dan Arlo dulunya hanya sebatas rekan. Jika aku tidak mengenal dan menikah dengan Mas Ulya---mungkin juga aku tidak kenal dengan dia.

"Kenapa ngelihatin aku seperti itu sayang?" Arlo menjentikan jarinya di depanku.

"Rencana Tuhan tidak ada yang tahu, ya Mas." Aku mengutarakan isi hati. Sambil memasukan buah nanas ke dalam mulut.

"Jika manusia mengetahui rencana Tuhan, mungkin mereka selalu bersiap-siap Ste." Arlo memegang kedua pipiku.

"Eh, mohon maaf menganggu. Pak, Bu." Itu suara Ningsih. Aku dikagetkan dia---Arlo juga langsung melepas pegangan pipinya.

Ningsih yang masih mengenakan pakaian yang sama saat tiba tadi---sudah datang dan hendak mencuci piring.

"Besok saja, apa kamu tidak lelah? Telah melakukan perjalanan jauh," aku berbicara santun. Mengingat dia orang baru dalam rumah ini. Dan, membelikan jajanan Fano tadi---adalah tugas pertamanya.

Bersambung...

Dalam bagian ini ada karakter Ningsih, menggantikan Surti. Karena tidak mungkin juga bukan? Punya anak yang baru lahir, malah ditinggal ibunya.

Bagaimana dengan Bab ini?

Tinggalkan jejak berupa vote, komentar dan follow ya.

Terima kasih buat kamu yang tidak siders. (Hanya membaca saja) Buat yang siders ayo spam vote juga!

Hadiah Istimewa Untuk Suamiku (Dewasa)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang