Stefa: Hai, sudah tidur?
Pesan itu aku kirimkan ke Arlo, jam di dinding sudah menunjukan pukul dua pagi. Padahal, besok aku ada acara di kantor. Rapat bulanan dengan semua manager.
Ting! Suara gawaiku berbunyi. Satu pesan dari Arlo yang langsung merubah posisiku yang semula berbaring menjadi duduk.
Arlo: Aku sedang bekerja, Ste. Ada apa?
Aku melupakan sesuatu, bahwa Arlo bekerja malam hari. Segera kupastikan dia tidak sibuk---ingin sekali mengobrol dengannya malam ini.
Stefa: Apa kamu tidak sibuk? Aku ingin bicara, ini soal Fano.
Ternyata pesanku langsung dibaca oleh Arlo, tidak menunggu lama ada sebuah panggilan video masuk datangnya dari orang yang sama.
"Hai Ste, tumben belum tidur? Fano kenapa?" Arlo menampakan seluruh wajahnya. Dia sangat segar---walau sudah larut seperti ini.
"Aku kepikiran kata-kata Fano," ucapku sambil bangkit---menyalakan lampu kamar tidur.
"Emangnya Fano ngomong apa Ste?" Ada nada penasaran yang keluar dari mulut Arlo.
Aku mulai menceritakan sesuatu semenjak kedatanganku di Malang tadi hingga kejadian makan malam kemarin. Arlo kulihat sangat fokus mendengar, tanpa menyanggah atau memotong.
"Lalu Ste?" Pertanyaan Arlo saat aku berhenti cerita.
"Aku bercerita tentang ajakanmu menikah kepada Fano," tanpa sadar aku mendengkus.
Sampai pada akhirnya obrolan ini terus berlanjut hingga kuulangi perkataan Fano kemarin kepada Arlo. Kulihat di sana, Arlo terlonjak kaget.
Arlo diam beberapa saat, aku juga demikian. Dia tidak berbicara, tetapi pandangannya tetap ke arahku. Kemudian Arlo tiba-tiba tersenyum.
"Lalu? Kamu jawab apa Ste?"
"Aku masih belum menjawabnya, sepertinya aku butuh kamu."
"Kamu juga belum menjawab ajakanku itu, Ste."
"Tanpa aku jawab, kamu sudah tahu sendiri jawabannya Ar."
Tiba-tiba Arlo tersenyum lagi, menampilkan senyum manisnya. Aku hanya tersenyum perlahan terus mengangguk. Mau tahu respon Arlo? Dia kegirangan sampai loncat-loncat.
"Hei, malu dilihat orang di belakangmu." aku heboh sendiri di dalam kamar.
"Aku akan ke Malang, kebetulan besok libur kerja," Arlo kembali duduk di posisinya.
"Terima kasih, Ar." Aku tersenyum---sebelum panggilannya kuakhiri.
---
Aku benar-benar tidak tidur. Padahal azan subuh ini sudah akan berkumandang. Mataku benar-benar segar sekali.
Kusibakkan selimut yang menutupi tubuhku---berjalan menuju lemari, mengambil peralatan salat dan pergi ke masjid.
"Haus, minum kopi susu dulu kali ya," aku berjalan ke dapur. Di sana sudah ada Tejo.
"Jo, kok sudah bangun? Pagi sekali," aku menatap jam dinding baru pukul tiga lewat sepuluh menit.
"Tadi nemenin Mas Fano sejak semalam, katanya tidak bisa tidur," jawaban Tejo membuatku kaget bukan main.
Kenapa? Apa yang dipikirkan anakku sampai dia tidak bisa tidur? Apa pertanyaan-pertanyaan lain muncul? Atau juga ada bisikan-bisikan dari rekan sekolahnya?
Aku menggelengkan kepala berkali-kali, mencoba menghilang pikiran buruk kepada anakku.
"Sekarang dia di mana?" aku melihat Tejo yang sedang sibuk di dapur.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hadiah Istimewa Untuk Suamiku (Dewasa)
General FictionVOTE DULU SETELAH BACA! FOLLOW JUGA! "Bangkai itu tidak bisa ditutupi, Mas!" Stefa Azika Isabella, pemilik Toko 29 sedang menyelidiki secara diam-diam perselingkuhan suaminya Elano Kenzo Gautama---dibantu oleh asisten pribadinya. Perselingkuhan Elan...
