Sampai di UIOP Karaoke, aku langsung disambut dengan bau alkohol di semua area. Benar-benar membuat hidung susah untuk menghirup udara segar.
Pak Andika berjalan lebih dahulu ke meja resepsionis yang menghadap ke pintu, aku mengikutinya dari belakang. Sambil melipat tangan di depan.
Resepsionis laki-laki dan perempuan menyambutku---mereka mengenakan seragam berwarna hitam. Dan, percayalah ruangan ini juga dominasi oleh warna hitam.
"Ada yang bisa saya bantu, Bapak dan Ibu?" Tanya si perempuan dengan santun.
"Ada, teman-teman kenal sama laki-laki ini?" Pak Andika membuka gawai dan menunjukan foto Elano kepada mereka.
"Ada di ruangan Deluxe empat, Pak." Jawab perempuan itu lebih dulu.
Pak Andika kemudian melangkah bersama dengan si laki-laki. Aku tetap berjalan di belakang mereka berdua---tanpa berkata dan hanya melihat Pak Andika menjalankan aksinya.
Ternyata, ruangan deluxe empat ada di lantai tiga. Jadi kami bertiga naik menggunakan lift supaya cepat daripada menaiki tangga manual yang melingkar.
Di dalam lift, ternyata ada seorang pemandu lagu yang baru saja keluar. Percayalah, lehernya penuh dengan tanda merah semua. Dia keluar dengan percaya diri.
"Ini ruangannya Pak, Bu," Aku memberinya uang tip dan resepsionis itu pergi.
Hanya tinggal kami berdua, langsung masuk ke dalam. Dan, terlihat dengan jelas Elano terkapar di lantai seorang diri. Aku tidak mengerti pemandu lagunya ke mana? Apa tadi yang aku jumpai di lift? Ah, tidak penting.
Elano benar-benar tidak mengerti susahnya menjadi orang yang dipandang oleh banyak mata, bahkan kelakuan ini bisa saja mencoreng citranya sebagai pemilik sepuluh restoran yang selalu ramai.
Membangun usaha itu susah, banting tulang, siap dana, siap pikiran hanya untuk mencari nama dan tetap mementingkan cita rasa dan citra di mata penikmat kuliner. Itu perlu bertahun-tahun.
Dan, akan tetap naik pamor jika tempat itu bisa berdaya saing tinggi dan selalu memiliki inovasi untuk masa depan. Bukankah setiap sesuatu perlu regenerasi?
"Bu, ini bagaimana?" Pak Andika yang sudah berjongkok menatapku.
"Kita berdirikan saja, Pak. Baru nanti kita bawa berjalan ke bawah," aku ikut berjongkok.
Tas kecil yang selalu aku bawa, kini aku taruh di meja yang masih dipenuhi dengan botol-botol minuman keras. Berbagai merek dan warna.
Entahlah, kenapa tidak ada pihak yang berwajib untuk operasi dadakan. Atau mereka sudah melakukannya, tetapi pihak dari UIOP Karaoke ini tetap membandel? Dan mencari celah?
Aku dan Pak Andika sama-sama mengangkat Elano berdiri, dia sangat berat sekali. Setelah berhasil kami berdua merangkulnya, aku langsung membawanya keluar dari ruangan ini.
Sampai di mobil, aku dan Elano duduk di kursi belakang. Pak Andika menyetir mobil, bau alkohol mengular kemana-mana. Hidungku sudah mati rasa mencium aroma segar sekarang.
Mobil berjalan dengan kecepatan normal, Elano masih tertidur pulas---menyandarkan kepalanya di bahu kanan milikku. Bahkan dengkuran kecil bisa kudengar sekarang.
"Jangan sayang, aku sudah capek," Lihatlah dia mengigau.
"Kamu itu Mas, gak pernah minum. Sekalinya minum kamu tepar kayak gini," aku berbicara sambil menatap pemandangan di kaca sebelah kiri.
"Diam kamu! Perempuan tidak berguna! Masih enakan Indri ketimbang kamu!" Elano bergumam seperti ini sadar atau tidak?
Tapi, kebanyakan orang yang terpengaruh oleh minuman beralkohol biasanya sadar. Dan, perkataan-perkataan yang dilontarkan itu adalah sesuatu uneg-uneg yang dipendam selama ini.
Dengan sekuat tenaga, aku mendorong kepala Elano hingga membentur ke pintu sebelah kanan mobil. Pak Andika hanya menatapku dari balik kaca depan, sambil terus fokus ke jalanan.
"Kurang ajar!" Aku berbisik lirih di telinganya.
"Bapak itu memang tidak bisa mengerti ya Bu, saat kebanyakan orang ingin mendapatkan karir gemilang di dunia bisnis dengan susah payah.
Bapak malah menyepelekan karir yang sudah dia bangun sejak lama. Hingga saat berhasil, Bapak malah seperti ini." Pak Andika berkata dengan menatap kaca yang meghadapku sekilas.
Aku tertegun dengan perkataan Pak Andika barusan. Tidak kusanggah ucapan dia---karena itu benar adanya. Aku hanya mengangguk dan kembali berdiam. Merasa tidak ada respon dariku Pak Andika memohon maaf karena telah berbicara lancang.
"Maaf, Bu. Saya lancang ya?" Tanyanya tanpa menoleh ke belakang.
"Eh, enggak. Yang dikatakan Pak Andika itu benar kok. Saya setuju, memang ujian manusia itu tidak harus ketika ia ada di bawah. Bahkan di atas juga itu suatu ujian loh, Pak." Jelasku.
Pak Andika mengangguk-angguk, aku percaya batinnya bergemuruh dengan perkataan-perkataan buruk mengenai bos laki-lakinya ini. Akhirnya mobil kembali hening.
Setengah jam kemudian, aku sudah sampai di dalam kamar bersama Elano. Dia kugeletakan di lantai, karena ingin kugantikan pakaian sebelum naik keranjang. Elano masih pulas.
"Surti, Surti," aku berteriak dari atas. Surti yang sedang membersihkan lantai dia langsung berlari ke tempatku berdiri saat ini.
"Ya, Bu?" Tanyanya tetap memegang sapu.
"Ke kamar Efano sekarang ya, pastikan dia tidak keluar sebelum kondusif." Aku berbicara sedikit berbisik.
"Baik, Bu."
Surti mengangguk dan langsung masuk ke kamar Efano, Efano memang sangat dekat juga dengan Surti dan Tejo di rumah.
Aku kembali masuk, kututup pintu kamar. Supaya tidak ada yang lihat, walau aku yakin memang tidak ada orang lagi. Karena Surti dan Efano berada di kamar, sedangkan Tejo dan Pak Andika sedang minum kopi di teras.
Kulepas kemeja yang dikenakan Elano dan celananya. Kali ini dia benar-benar telanjang. Segera aku berdiri mengambil baju santai yang ringan dipakai untuk tidur.
Setelah selesai semua, aku menutupi tubuhnya dengan selimut tebal. Karena di luar Efano berteriak memanggil namaku, aku berjalan menghampirinya.
"Ada apa, Nak?" Aku menatap anakku yang menggunakan kaos oblong---berwarna putih.
"Bapak kenapa, Bu?" Kepala Efano sedikit miring, mencari celah melihat apa yang terjadi di belakangku.
"Ba-bapak, tidak kenapa-kenapa. Dia ngantuk, Fano gak belajar sayang?" Aku mengajaknya berjalan turun.
Surti yang ada di dekat kami, segera menutup pintu kamarku tanpa dikomando. Dia sangat peka sekali, Surti ikut turun berjalan di belakang tubuh Efano.
Pak Andika dan Tejo keluar dari dapur, menghampiri kami bertiga. Terus terang saja, aku bingung apalagi yang akan kuperbuat dengan Elano sekarang? Dibiarkan semakin lama---semakin melunjak soalnya.
"Tejo, tolong ajak Efano beli lalapan ya. Lima porsi di daerah Pasar Blimbing," aku melihat Tejo dan Efano dengan bergantian.
Pasar Blimbing adalah salah satu pasar tradisional yang selalu ramai didatangi oleh pengunjung segala usia, terlebih ketika pagi. Kebanyakan ibu-ibu yang belanja untuk memasak menu keluarga.
Setelah memastikan Efano benar-benar pergi dengan Tejo, aku langsung mengajak Pak Andika dan Surti bicara. Kuajak duduk mereka di meja makan.
"Mbak, besok. Tolong ajak Efano keluar ya. Saya, Pak Andika dan Tejo. Akan menjebak Elano sebagai hadiah karena tingkahnya sekarang," aku menatap Surti yang duduk sebelah Pak Andika.
"Kita menjebak Bapak bagaimana, Bu?" Pak Andika bertanya dengan raut kebingungan.
Kemudian kuberbisik kepada mereka berdua, karena takut sekali kalau Elano tiba-tiba tahu dan mendengar rencana ini---jika berbicara terlalu lantang.
Bersambung...
Bagaimana part ini? Bisa kali tinggalin komentar dan vote semua bab, aku nulis kisah mereka bab ini sambil menguap. Ngantuk banget kayak Elano. Wkwkw
See You!
KAMU SEDANG MEMBACA
Hadiah Istimewa Untuk Suamiku (Dewasa)
General FictionVOTE DULU SETELAH BACA! FOLLOW JUGA! "Bangkai itu tidak bisa ditutupi, Mas!" Stefa Azika Isabella, pemilik Toko 29 sedang menyelidiki secara diam-diam perselingkuhan suaminya Elano Kenzo Gautama---dibantu oleh asisten pribadinya. Perselingkuhan Elan...
