Kasih seorang ibu selalu ada, sayang seorang ibu pasti terus untuk anak-anaknya.
Stefa Azika Isabella
Aku sedang berjalan-jalan berdua dengan Efano di tempat wisata edukasi, Jawa Timur Park 1. Anakku sedang mengikuti karya wisata bersama rombongan Sekolah Dasar Sedasa.
Seratus dua puluh murid dari kelas A, B dan C. Semua di dampingi oleh guru-guru serta satu orangtua. Efano yang berada di kelas A ini---bersamaku.
Elano, sedang mempersiapkan pembukaan cabang pertama usaha kuliner miliknya sendiri. Tidak, aku tidak ikut menemani dia.
"Nah, di sebelah kiri dan kanan teman-teman semua. Ada replika rumah adat dari daerah-daerah yang ada di Indonesia." Seorang pemandu wisata yang berada paling depan sendiri, memulai menjelaskan.
Kami dibagi menjadi tiga rombongan sesuai kelas, rombongan Kelas IIA berjalan terlebih dahulu didampingi oleh pemandu wisata yang sudah disiapkan oleh pihak tempat rekreasi ini.
Setiap rombongan diberi jarak lima belas menit untuk masuk ke zona pertama, supaya para siswa yang mendengar tidak pecah konsentrasi. Dan, kami akan dilepas ketika sudah melewati arena pembelajaran.
Aku dan orangtua lain berjalan dibelakang empat puluh siswa, juga ikut mendengarkan penjelasan dari pemandu.
Setelah benar-benar selesai dari arena pembelajaran. Kami bisa berpencar untuk ke arena permainan. Di sini para siswa sangat atraktif dan bahagia bisa mencoba permainan-permainan ringan.
Ketika menunggu anakku yang sedang menaiki kereta mini bersama teman-temannya. Aku melihat Elano sedang mengantre di salah satu wahana dengan perempuan dan bergandengan tangan.
Dadaku sakit seketika, ternyata suami yang sangat aku sayangi ini main-main dengan pernikahan.
Berhubung kereta yang membawa Efano---masih berjalan pelan-pelan dan lama. Aku datang menghampiri Elano yang masih berdiri.
"Oh, seperti ini ternyata perilakumu di belakang Mas!" Aku langsung menampar Elano tanpa peduli orang lain yang melihat.
Kutatap perempuan muda yang masih memegang tangan Elano. "Dan kamu, bisa-bisanya ya main sama suami orang. Mana harga dirimu!" Aku mengarahkan telunjuk di depan mukanya.
Berarti yang dikatakan Pras benar, dia mengetahui Elano sedang berboncengan dengan perempuan muda. Beberapa hari yang lalu.
"Maafkan, aku bisa jelasin," Elano mengejarku menuju wahana kereta.
"Cukup mas, cukup!" Aku berteriak sekencang-kencangnya.
Aku merasa tubuhku ada yang menepuk berkali-kali, aku segera tersadar. Ternyata aku mimpi kejadian itu lagi, kejadian buruk yang merusak kepercayaanku kepada Elano. Dan, cikal bakal aku menjadi sekarang ini.
Elano menatap dan bangkit dengan masih 'polos' menuju meja yang dekat sama ranjang king size ini. Aku juga merubah posisiku menjadi duduk, kututupi tubuh yang sama polosnya dengan selimut.
Ya, sebelum tidur. Kami melakukannya karena Elano benar-benar membuat aku tidak bisa tidur dengan tangan yang terus bergerilya.
"Minum, sayang." Dia menyodorkan minum itu kepadaku. Dan, apa kalian tahu? Elano sudah lama tidak memanggil dengan kata sayang.
Elano sangat percaya diri, dia benar-benar hilang malu ketika bersamaku. Apa bersama Indri dia juga seperti ini?
"Jangan panggil sayang," aku meraih gelas tanggung untuk segera kutandaskan.
Elano hanya tersenyum, mungkin dia tahu kalau aku sedang kesal kepadanya. Aku tidak peduli.
Kemudian aku kembali merebahkan diri dan mencoba untuk tidur lagi, karena pagi ini akan ke sekolah Efano. Untuk menyaksikan dia bertanding, apa pun hasilnya dia tetap anakku. Karena kompetisi pasti ada yang menang juga kalah.
---
Aku dan Efano sudah berada di mobil, kali ini bukan aku yang menyetir. Melainkan Pak Andika. Motor yang selalu dia pakai sedang sakit, jadinya dia periksakan ke bengkel.
Perjalanan menuju SMP Kendedes ini sangat hening, tidak ada obrolan antara aku dan Efano. Dia sedang membaca buku-buku yang berisi soal-soal dan pertanyaan.
Walau dia sendiri tidak tahu soal mana yang akan keluar nanti alias diajukan oleh moderator.
"Semangat ya Mas Fano," Pak Andika menatap Efano dari kaca yang ada di sebelah atas.
"Terima kasih, Pak Andika," jawab Efano dengan senyum yang tulus.
Aku bangga sekali memiliki anak seperti Efano yang bisa menghormati orang yang lebih tua dari dirinya. Entah itu orangtuanya sendiri atau bukan. Aku menatap anakku dan mengelus rambutnya dengan tulus.
"Semoga kamu besar nanti, jangan seperti Bapak kamu." Batinku.
Jarak dari rumah ke SMP Kendedes hanya sekitar tujuh menitan, tak ayal anakku ini sering memilih jalan kaki atau membawa sepeda. Daripada menunggu tukang ojek yang sudah aku sewakan khusus untuk dirinya.
Akhirnya aku putuskan untuk tidak lagi membayar dan menyewa jasa tukang ojek---karena Efano sering tidak mau menaikinya.
Ketika sampai di SMP Kendedes, aku dan Efano langsung turun. Dan, Pak Andika pergi langsung. Ketika hendak memasuki gerbang sekolah ada beberapa pesan WhatsApp yang isinya foto absensi karyawan yang mendapatkan jam kerja pagi.
Bukannya tidak percaya kepada mereka, tetapi itu sebuah tantangan sendiri supaya mereka disiplin akan waktu. Juga kedisiplinan itu yang akan terus tertanam hingga nanti.
Aku diberikan tanda pengenal oleh mahasiswa-mahasiswi yang sedang menjalankan KKN di SMP Kendedes. Sekolah ini sangat ramai.
Panggung megah tersaji di lapangan sekolah, dengan kursi-kursi untuk para orangtua dan guru pendamping dari sekolah lain. Tiga buah meja sudah tertata di atas panggung.
Efano berpamitan, karena hendak menuju belakang panggung untuk persiapan. Ya, cerdas cermat tahun pertama anakku sekolah di SMP Kendedes. Tiga sekolah, tiga tahap akan bertanding merebutkan tiga posisi juara setiap kategori yakni kelas VII, VIII dan IX.
Aku duduk dan menunggu acara ini di mulai sebentar lagi.
---
Acara ini selesai pukul satu siang, cerdas cermat ini sangat seru. Terlebih Efano yang notabene berada di kelas VIIA ini juga harus melawan sekolah lain yang sama-sama kelas A.
Bersyukur, SMP Kendedes mendapatkan juara pertama kategori kelas VII. Anakku sangat bangga---tidak henti-hentinya tersenyum ketika di taksi dengan memeluk pialanya. Ya, pialanya tiga orang mendapatkan masing-masing.
Pak Andika tadi mengirimkan pesan, bahwa tidak bisa menjemput. Karena ingin mengikuti Elano.
Stefa: Oke, Pak. Kalau ada info terbaru mengenai perempuan itu tolong segera kabari saya.
Aku sudah membalas pesannya, tetapi masih belum ada balasan lagi dari Pak Andika. Entahlah, sudah penat aku sebenarnya dengan Elano.
Rasanya ingin kutenggelamkan dia di lautan. Tetapi tidak mungkin melakukannya. Membayangkan masuk penjara karena perilaku itu sudah membuatku bergidik ngeri.
Efano tiba-tiba memelukku---lalu mencium pipi kiri. Aku terharu memiliki anak yang begitu romantis kepada ibunya---ibu yang bertaruh nyawa melahirkannya.
"Aku sangat sayang sama Ibu," katanya yang masih memelukku.
"Ibu juga, selalu dan akan seperti itu Nak." Aku mengelus rambutnya---tak terasa air mata ini menetes.
Aku tahu, pengemudi taksi juga melihat dari balik kaca yang ada di depan. Tetapi dia tidak berani berbicara hanya senyum yang kutangkap dari belakang.
Bersambung...
Update
.
.
.
Jangan lupa vote semua bab juga!
.
.
.
Follow dan juga bom komentar ya
.
.
.
See you next part
KAMU SEDANG MEMBACA
Hadiah Istimewa Untuk Suamiku (Dewasa)
Ficção GeralVOTE DULU SETELAH BACA! FOLLOW JUGA! "Bangkai itu tidak bisa ditutupi, Mas!" Stefa Azika Isabella, pemilik Toko 29 sedang menyelidiki secara diam-diam perselingkuhan suaminya Elano Kenzo Gautama---dibantu oleh asisten pribadinya. Perselingkuhan Elan...
