Tok! Tok! Tok!
"Ayo, Bu. Bapak sudah nunggu di bawah." Teriak Fano dari depan kamarku.
"Sebentar, Nak." Aku membalasnya dengan teriak juga.
Aku sedang berganti pakaian---baru saja selesai mandi. Arlo punya rencana untuk mengajak aku dengan Fano jalan-jalan malam ke Alun-alun Kota Batu yang letaknya lumayan jauh dari rumah. Sekitar sepuluh kilometer.
Padahal baru saja selesai menghabiskan nasi goreng dan perutku masih kenyang. Biarlah, kata Arlo supaya dia dengan Fano semakin erat. Masih percobaan memikat hati anakku.
"Ibumu masih belum selesai?" Suara Arlo---dia naik juga ternyata.
"Sudah," aku berjalan dan membuka pintu.
Aku tidak berpakaian macam-macam. Mengingat Kota Batu kalau malam itu lumayan dingin, hanya celana panjang dan juga jaket berwarna biru sudah melekat di tubuh. Untungnya, mobil sudah diantarkan Pak Andika tadi sore.
Fano dan Arlo juga demikian, mereka sudah mengenakan jaketnya masing-masing. Arlo pinjam punya Tejo. Karena tadi dia tidak memakai jaket saat ke kantor.
"Ayo berangkat!" Ajakku kepada kedua laki-laki di depan.
Fano tampak semangat---dia turun terlebih dahulu aku dan Arlo sama-sama geleng-geleng kepala. Arlo melihat dinding samping anak tangga. Aku juga melihatnya.
Lupa, bahwa fotoku dan foto-foto Elano belum aku bereskan. Besok, mumpung libur. Aku akan mengambil foto-foto itu dan menyimpannya. Aku tidak bisa berkomentar---saat Arlo terus memandangi foto-foto itu hingga sampai anak tangga terakhir.
"Kunci mobilnya tadi mana Ste?" Arlo memutar tubuhnya.
Aku merogoh tasku dan mengambil kunci yang tadi diberikan Pak Andika kepadaku. Kami bertiga masuk, aku duduk di depan. Fano di belakang sendiri.
Tadi, setelah ajakan Arlo untuk keluar. Aku juga sempat bertanya ke Surti dan Tejo. Dia minta dibelikan apa. Katanya tidak usah. Aku hanya tersenyum.
Kami bertiga berangkat, dengan perjalanan yang cukup berwarna. Kenapa? Arlo dan Fano masih terus membahas ini, membahas itu.
"Ste," tiba-tiba Arlo beralih berbicara denganku.
"Kamu sudah selesai dengan masa lalu 'kan?" Tanya Arlo.
Aku terdiam sebentar, mencerna apa yang dikatakan oleh Arlo tadi. Sejujurnya, aku sudah melupakan Elano. Karena memang kita telah selesai. Apa Arlo ragu? Atau dia berpikir kalau aku masih teringat Elano?
"Jika ada masa depan, kenapa harus terbelenggu di masa lalu Mas?" Aku kembali bertanya. Dan, Arlo hanya tersenyum.
---
Alun-alun Kota Batu lumayan padat, banyak wisatawan dari luar dan dalam Malang memadati tempat ini. Banyak kuliner-kuliner tersebar di luar Alun-alun.
Kami bertiga sedang mencari parkir, berkeliling membelah padatnya lalu lintas sekitaran sini. Sampai akhirnya, kami menemukannya di dekat masjid.
"Aku mau naik itu," Tunjuk Fano ke bianglala.
Memang bianglala itu disebut sebagai tertinggi di wilayah Malang Raya. Saat kita berada di atas sendiri, kita bisa melihat gemerlap lampu di bawah sana. Baik daerah Malang atau Batu sendiri.
"Oke kita pesan tiket dulu ya," ajakku.
Dengan merogoh tiket sebesar tiga ribu rupiah. Kita bisa menaiki bianglala ini---satu putaran. Dengan tempo putaran yang bisa dibilang pelan.
Kami bertiga masuk ke dalam area Alun-alun Kota Batu dan mencari tempat untuk memesan tiket. Untungnya tidak antre, apa aku datang saat bukan jam-jam padat antrean ya?
Biarlah---tidak perlu di ambil pusing. Setelah mendapatkan tiga tiket aku dan Arlo serta Fano, masuk ke dalam barisan orang-orang yang menunggu giliran untuk naik.
"Giliran kita, Bu." Ucap Fano setelah kita menunggu hampir sepuluh menit.
"Fano mau naik sendiri, Ibu dan Bapak setelahnya." Fano meminta satu tiket dan memberikannya ke petugas dan melesat masuk ke dalam kapsul lingkaran berwarna merah itu.
Aku merasa kembali ke usia muda lagi, kini giliranku dan Arlo untuk naik. Ya, bianglala ini tidak berhenti saat ada orang naik atau turun. Kita yang diharuskan untuk gerak cepat saat masuk dan keluar dari kapsulnya.
"Kita seperti anak muda pacaran ya, Mas," kataku saat pertama kali masuk dan memperhatikan kita mulai naik ke atas.
"Kita pacarannya setelah nikah, Ste." Arlo memegang tanganku---kami duduk berhadapan. Tanganku dicium oleh Arlo.
Perutku tiba-tiba terasa sesak, bukan, aku bukan mau muntah. Melainkan melihat keromantisan Arlo---seakan-akan kupu-kupu di perut ini sedang terbang semua.
Aku dan Arlo mulai dari rencana pernikahan kita. Kemudian membahas sesuatu, kejadian yang tadi siang aku alami di kantor. Arlo mendengarkan ceritaku dengan serius tanpa memotongnya.
"Jadi akhirnya aku turunkan jabatannya, dan digantikan oleh kapten resto." Pungkasku.
"Memang, menjadi pemimpin itu harus tegas dan adil. Semuanya akan dituntut pertanggung jawabannya kelak." kesimpulan Arlo sebelum kita keluar dari bianglala.
---
"Bu, aku beli sesuatu dulu ya, sendirian." Fano bangkit dari kursinya.
Ya, kami bertiga sedang berada di sebuah tempat yang sangat wajib dikunjungi. Dengan berbagai sajian ketan dengan isi macam-macam.
Kita kebagian tempat di pelataran tempatnya, tidak masalah bagiku. Aku bisa melihat kesibukan orang-orang sekitarku.
Di meja kami sudah ada tiga porsi ketan dengan taburan keju dan dicampur susu. Serta minuman teh hangat. Semua, Arlo yang membayarnya.
"Aku ikutin dia ya, takut hilang. Rame soalnya," Arlo sigap berdiri dan hendak melangkah.
"Jangan, dia sudah besar. Juga dia keras kepala, Mas. Tenang saja, pasti kembali kok." Aku menegang pergelangan tangan Arlo.
Sambil menunggu Fano datang, aku membuka gawai. Melihat semua absensi pulang dari semua karyawan yang masuk siang. Sudah menjadi rutinitas rutin---melihat foto mereka semua dengan senyumnya.
"Ste, coba lihat itu." Arlo menoleh ke arah kiri, aku juga ikut melihatnya.
Sepasang lansia, sedang menikmati bakso. Aku mengira usia mereka itu sekitar menginjak enampuluh tahun. Mereka berdua mengenakan jaket tebal.
Sedikit iri, karena melihat mereka yang diusia senja masih romantis dengan rambut sama-sama telah memutih.
Aku tiba-tiba teringat, mendiang kedua orangtua. Jika mereka berdua masih hidup mungkin akan seperti kakek dan nenek itu---karena sama-sama romantis.
"Aku berharap, kamu bisa menerimaku dengan pekerjaan yang aku geluti sekarang sebagai seorang penjaga perumahan," Arlo memegang tanganku.
"Aku yakin, kamu bisa mencintaiku seutuhnya Mas. Aku juga demikian, cinta itu tidak memandang profesi." Pandanganku masih tetap ke pasangan nenek dan kakek itu yang masih terus bercanda gurau.
Aku yakin, mungkin mereka penduduk sekitar yang sedang mencari hiburan malam berdua di sini.
Fano datang membawa sebuah plastik kecil hitam, entah anakku itu membeli apa? Dia kembali duduk di tempat semula dan membuka isi plastik tersebut. Dua buah gelang berbentuk seperti tasbih.
"Ini buat Ibu sama Bapak, Fano harap jangan dilepas ya," Fano menyodorkan gelangnya kepadaku dulu---kemudian Arlo.
Apa saja tingkah laku anakku ini? Aku langsung memakainya di tangan kanan Arlo juga demikian. Dia mengelus rambut Fano dengan gemas.
"Bapak gak akan lepas gelang ini, apalagi yang belikan anak kesayangan Bapak." ucap Arlo sambil menyendok ketannya.
"Ibu juga, yasudah ayo makan. Keburu malam banget," ajakku.
Bersambung..
Aku mau tanya, teman-teman ada yang dari Jawa Timur tidak ya?
Bagi kamu yang belum vote dari awal, dispam vote sekarang yuk. Follow akunku juga ya.
Sayang kalian,
Al.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hadiah Istimewa Untuk Suamiku (Dewasa)
General FictionVOTE DULU SETELAH BACA! FOLLOW JUGA! "Bangkai itu tidak bisa ditutupi, Mas!" Stefa Azika Isabella, pemilik Toko 29 sedang menyelidiki secara diam-diam perselingkuhan suaminya Elano Kenzo Gautama---dibantu oleh asisten pribadinya. Perselingkuhan Elan...
