Ini adalah tiga hari setelah insiden Tejo dan Ningsih. Aku berada di rumah Arlo, yang baru saja balik dari Surabaya.
Aku melihat Arlo tampak serius dengan berkas-berkasnya di rumah miliknya.
Katanya dia memintaku membantu menyiapkan berkas untuk persiapan pesta pernikahan kita. Ya, aku kemarin sudah menyiapkan berkas-berkasku. Hari ini rencana untuk menyerahkan ke pihak KUA.
"Ste, aku belum foto. Kamu sudah?" Arlo melihatku yang sibuk membuka gawai.
"Belum, sebentar lagi kita foto gimana? Aku sudah bawa bajunya kok."
"Boleh, tapi aku yang bayar ya."
Aku hanya menangguk, biarkan sementara aku harus mengikuti Arlo. Latihan, karena dia adalah calon suamiku.
Aku berjalan-jalan melihat foto-foto yang terpasang di atas meja. Aku menemukan satu foto yang sangat menarik untuk ditanyakan kepada Arlo.
Dalam foto berukuran 5 R itu, nampak seorang remaja duduk sendiri di pelataran Alun-alun Malang. Menatap polos ke kamera. Gaya pakaian Arlo serta hasil tampilan foto benar-benar dulu sekali.
"Itu kamu nungguin siapa, Mas?"
Arlo ikut bangkit dan mengambil foto yang masih berada di atas meja itu. Arlo sedikit mengingat dengan tatapan menerawang ke langit-langit.
"Itu aku lagi nemanin Mas Ulya dulu, masa kamu lupa Ste?" Arlo memiringkan kepalanya.
Aku? Aku lupa? Lupa apa? Aku mencoba mengingat-ingat kejadian yang terjadi berpuluh tahun lalu. Berbeda dengan Arlo---aku kalau mengingat sesuatu malah menunduk.
Astaga! Aku ingat. Aku dulu pernah bertemu dengan Mas Ulya, untuk pertama kalinya di Alun-alun Malang. Saat aku sedang libur menjaga toko.
"Astaga, iya. Aku ingat. Ternyata kamu dulu nemenin Mas Ulya?" Aku sedikit histeris seperti anak muda.
Arlo mengangguk, kemudian dia menarik tanganku untuk duduk kembali di dekatnya. Pandangan Arlo kembali ke atas, dia mungkin masih membayangkan kejadian dulu.
"Mas Ulya itu seperti saudaraku sendiri." Arlo berbicara lagi.
Ya, memang hubungan Arlo dan Mas Ulya dekat sekali. Aku sedikit penasaran dengan awal pertama mereka bertemu---karena aku jarang sekali bertanya kepada Arlo tentang ini.
"Kita foto jam berapa, Ste?" Arlo tiba-tiba bertanya kembali.
"Se-sekarang boleh, mumpung masih pagi. Jadinya, siang nanti bisa naruh berkas-berkas langsung ke KUA." Kuurungkan niat untuk bertanya tentang pertemuan pertama Arlo dan Mas Ulya.
---
"ini langsung ke KUA, Ste?" ucap Arlo saat kami telah selesai foto.
Memang jarak studio foto dari rumah Arlo itu hanya sekitar lima menit jika naik motor. Untungnya pagi ini tidak antre. Karena mereka baru buka.
Aku dan dia juga berjaga-jaga dengan membawa dokumen-dokumen yang dibutuhkan untuk proses pendaftaran di KUA. untungnya, aku dan Arlo masih dalam kecamatan yang sama.
"Iya, mau ke mana lagi? Kamu lapar, Mas?" Tanyaku.
Aku dan Arlo masih berdiri di halaman studio foto ini. Memang sejak dari tadi pagi di jemput Arlo ke rumah, aku belum sarapan sama sekali. Ya, sekarang keroncongan perutku.
"Iya," Arlo mengelus perutnya. "Kita ke KUA dulu, daripada nanti antre lama di sana."
Benar apa kata Arlo, takut sekali kalau antre. Karena nanti siang aku mau ke kantor menanyakan persiapan bakti sosial.
Memang, kemarin Pak Andika dan Pras datang saat aku melihat barang masuk di gudang sebelah rumah---alias rumah yang nomor dua. Aku pesan sebelum insiden mengejutkan di rumahku.
Pak Andika dan Pras datang dengan membawa proposal, setelah aku membaca proposal yang disusun oleh mereka berdua. Aku mengerti rencananya.
Nantinya, ketika malam pergantian tahun. Semua toko atau restoran tetap buka. Jadi, kita menyasar orang-orang sekitar toko dan restoran siapa saja yang layak diberikan paket sembako.
Paket sembako itu, bukan dari perusahaan semata. Melainkan dari para pegawai juga sebagian. Mereka diminta Pak Andika dan Pras untuk membawa lima bungkus mi instan dan satu renceng kopi bubuk merek apa saja. Kekurangan itu akan ditambahi oleh perusahaan.
"Ini juga dapat melatih jiwa sosial mereka, Bu." Kata Pras kemarin.
Tanpa menunggu waktu lama, segera kububuhkan tanda tanganku dalam proposal itu. Untuk yang di Surabaya juga sama. Pak Andika yang ke sana. Dan, Pras memegang di Malang.
"Hei, ayo berangkat. Kok nglamun." Aku tiba-tiba tersadar saat Arlo membunyikan klakson motornya.
Aku segera naik dan mengenakan helm. Arlo nampak tidak jalan, entah mungkin motornya mogok atau bagaimana aku juga tidak mengerti.
"Kenapa nggak jalan, Mas? Aku sudah naik ini." Aku menepuk pundaknya.
"Kalau kamu gak peluk aku. Aku gak akan jalan, Ste."
"Ingat umur," tanganku sambil melingkarkan di tubuhnya.
"Emang kenapa? Semakin tua, seharusnya semakin romantis dong ke pasangannya." Ucap Arlo sambil menjalankan motornya.
Lagi-lagi ucapan dia benar, memang sebuah hubungan. Semakin jauh, seharusnya semakin romantis. Walau memang terkadang pertikaian tidak bisa dihindari.
Arlo mungkin satu dibanding satu juta orang yang memiliki keinginan untuk menjaga keharmonisan rumah tangganya. Tidak sedikit dari hubungan keluarga semakin lama, semakin banyak pertikaian atau cek-cok.
Lagi pula, kalau rumah tangga sendiri harmonis juga pelakunya yang merasakan enaknya.
"Ste, emangnya kamu mau nambah resep kapan?" Arlo memegang tanganku.
Jadwalku memang sekarang sangat padat sekali. Mulai urusan kantor, rumah, pernikahan bahkan rencana untuk membuka kos-kosan.
Memang tidak bisa dilakukan secara bersamaan. Mungkin yang mendesak sekarang adalah urusan pernikahan. Sepertinya aku harus fokus pada itu dulu.
Supaya tidak bertabrakan. Nanti, setelah acara pernikahan mungkin bisa mulai memikirkan soal resep baru dan untuk kos mungkin bisa jadi menjelang bulan puasa tahun depan.
"Mungkin setelah kita menikah, Mas. Aku capek kalau semua dilakukan beriringan gini." Kutaruh kepala di pundaknya Arlo.
Iya, aku hanya manusia biasa yang terkadang juga bisa mengalami sakit kepala. Pening secara tiba-tiba karena banyak sekali yang dipikirkan.
"Yasudah, yang terpenting kita sah dulu." Arlo berbicara sambil fokus ke depan. "Untuk yang lain, kita pikirkan sambil jalan, ya."
"Iya, Mas."
Kita berdua seperti orang yang baru selesai melamar pekerjaan dengan pakaian atas putih dan bawah sama-sama mengenakan warna senada---hitam.
Aku kembali ribut dengan pikiran-pikiranku sendiri. Setelah menaruh berkas ke KUA, aku harus sibuk menyiapkan segala pernak-pernik buat pernikahan lagi. Serta, membagi waktu dengan urusan kantor. Karena tidak bisa ditinggal.
Walau memang sesuai kesepakatan awal, mengingat ini sama-sama pernikahan kedua. Baik Arlo dan aku. Jadi tidak mungkin merayakan terlalu mewah.
Cukup berkumpul dengan orang-orang sekitar, karyawan, kerabat, keluarga besar dan rekan-rekan sekolah atau kuliah dulu.
Untungnya memang aku masih banyak memiliki kontak rekan-rekan kuliah. Dan para karyawan-karyawan yang sudah berhenti bekerja.
Ya, namanya perusahaan. Ditinggal karyawan memang sudah bisa dan harus siap dialami bagi aku pribadi. Tetapi, diperusahaanku cuma beberapa orang yang memutuskan berhenti hingga bulan ini.
Bersambung..
Untuk teman istirahat kalian, segera spam vote dan komentarnya ya. Bagi yang belum follow, silakan di follow akun saya.
Terima kasih banyak.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hadiah Istimewa Untuk Suamiku (Dewasa)
General FictionVOTE DULU SETELAH BACA! FOLLOW JUGA! "Bangkai itu tidak bisa ditutupi, Mas!" Stefa Azika Isabella, pemilik Toko 29 sedang menyelidiki secara diam-diam perselingkuhan suaminya Elano Kenzo Gautama---dibantu oleh asisten pribadinya. Perselingkuhan Elan...
