Bab 9 - Persiapan Pembukaan Cabang

2.2K 162 1
                                        

Perempuan itu mengangguk dan aku juga ikut mengangguk---menyuruh perempuan itu duduk. Dia mengenakan baju batik berwarna hijau tua---dengan rambut yang digerai.

Perempuan ini nampak tersenyum terus, saat aku memperhatikannya tanpa berbicara sepatah kata saja. Dia mengeluarkan map yang disimpan pada tas ransel berwarna hitam.

Aku menerima uluran surat lamaran pekerjaan itu. Dan kubuka tali yang berwarna merah hati---lalu mengambil isinya.

Dalam foto close up itu, terlihat raut perempuan ini tersenyum ke arah kamera. Dengan background berwarna biru.

"Tiara Handasya Putri?" Aku akhirnya mengetahui namanya. Tiara lalu mengangguk. "Coba, perkenalkan diri kamu."

"Ba-baik. E... nama saya Tiara Handasya Putri, saya berumur dua puluh tahun. Dengan lulusan SMA, tetapi saya akan giat dan jujur jika keterima di Perusahaan Toko Sembako Lengkap 29 ini." Tiara berbicara sambil terus kubaca lamarannya.

Ternyata dia lulusan SMA dengan mengambil jalur ilmu pengetahuan sosial. Aku berpikir, dia cocok dalam memegang kasir. Kutatap perempuan ini---masih melihatku, fokus, tanpa mengalihkan pandangannya.

Aku menegakkan badan, dan membenarkan posisi kacamata berwarna hitam ini yang melorot.

"Di sini, kerjanya dua puluh empat jam dan dibagi dua shift, kamu sanggup?" Aku mencoba meyakinkannya.

"Seribu persen sanggup, Bu. Saya butuh uang buat berobat Bapak yang sakit."

Sebentar. Orangtua gadis yang dibawa Elano ini sedang sakit? Apa? Jangan-jangan? Gadis ini dibayar untung menemani Elano?

Aku sedang mengambil gawai yang di atas meja, ruang tamu. Membuka foto hasil jepretan Pak Andika di galeri dulu.

"Ini kamu? Dengan siapa ini?" Aku menunjukan gambar itu dan terlihat Tiara sangat terkejut.

Kemudian dia menatapku. "E... i-itu saya sama pacar Bu, kok bisa ada gambar saya di gawai milik i-ibu?" Tiara kembali bertanya.

"Elano Kenzo Gautama, bukan?" Aku tersenyum santai ke arahnya.

"Loh, Ibu kenal dengan pacar saya?" Dia bertanya dengan nada sedikit cemburu.

"Dia suami saya, Tiara."

Deg! Tiara langsung memerah wajahnya. Dia menunduk dan memainkan ujung kain batik di bagian bawah. Menunduk benar-benar dalam.

Elano mungkin sudah bercerita kepada Tiara, bahwa dia telah menikah dan mempunyai seorang anak. Tetapi tidak membuat masalah bagi dia.

Kemungkinan kedua, Tiara tidak pernah tahu bahwa kekasihnya yang berjarak cukup jauh usia antara mereka berdua telah memiliki istri.

"Te-tetapi Elano tidak pernah bercerita kalau sudah memiliki keluarga," kali ini dia tidak berani menatapku.

Aku menunjuk ke arah pigora yang ada di atas kepalaku, di sana ada aku, Elano dan Efano yang masih berusia empat tahun---digendong oleh Elano. Tersenyum sumringah menghadap kamera.

Mungkin sejak masuk, Tiara tidak memperhatikannya kali ya? Tidak seperti pelamar-pelamar sebelumnya yang memandang sudut-sudut ruangan dari ruang tamu.

"Biarkan foto itu yang berbicara Tiara, kalau bisa kamu tinggalkan Elano. Sebelum kamu menyesal kemudian hari, tidak, saya tidak akan macam-macam sama kamu. Kamu nanti akan saya masukan ke dalam grup Toko 29, kamu saya terima."

Lihatlah! Kedua mata perempuan ini berbinar, entah karena senang atau takut kalau aku baru saja berbicara seperti ini?

Deru motor yang mendekati halaman rumah sangat kencang, aku berteriak kepada Tejo yang sedang mengepel lantai atas. Untuk membuka gerbang yang ke-21 kalinya dalam hari ini.

Hadiah Istimewa Untuk Suamiku (Dewasa)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang