Satu minggu setelahnya...
"Jangan sampai ada yang ketinggalan ya Pak. Berkas-berkasnya," Aku melihat Pak Andika yang sama-sama sibuk membereskan dokumen penting.
Berkas-berkas memang bisa aku taruh di Surabaya. Tetapi pasti tidak akan tersentuh. Karena tidak ada pegawai bagian admin. Aku juga belum memilih Kepala Toko juga Kepala Restoran setiap cabangnya.
Maka dari itu aku putuskan untuk membawanya ke Malang. Supaya bisa diurus oleh admin pusat---yaitu Pras.
Ya, ini adalah hari terakhirku di Surabaya, setelah kemarin sudah meresmikan semua toko dan restoran secara bergantian.
Acaranya berjalan meriah, hanya saja terhalang oleh mendung yang yang tiba-tiba datang ketika aku dan Pak Andika tiba pada tempat ketiga.
Anakku sudah kembali ke Malang satu minggu yang lalu. Karena harus sekolah.
Arlo? Dia juga sudah satu minggu tidak mengunjungiku. Entah, rasa ragu-raguku kembali muncul saat tahu Arlo seperti itu lagi.
Fano bahkan selalu bertanya kepadaku melalui telepon setelah hilangnya Arlo secara tiba-tiba.
"Bu, Pak Arlo lagi di sana ya?" itulah perkataan Fano ketika baru saja aku mengangkat panggilannya. Beberapa kali---dengan tetap panggilan yang sama.
Bukan kabarku yang ditanyakan, melainkan kabar Arlo. Apa Efano sudah mulai nyaman dengan laki-laki itu?
Memang cara Arlo untuk mengikat hati anakku itu sangat apik, tidak tergesa-gesa. Bisa mengikuti alur yang Fano mau.
Aku tiba-tiba tersenyum sendiri, "Arlo, Arlo."
Kenapa aku selalu memikirkannya sekarang? Apa aku sudah memiliki rasa ke Arlo? Terlebih lagi dia menunjukan keseriusannya kepadaku.
Tetapi aku takut kalau itu semua hanyalah manipulasi belaka. Karena kalian juga tahu, bagaimana percintaanku dengan Elano dulu bukan?
"Ini kok ada map Bu?" Pak Andika mengangkat sebuah map coklat dan menunjukannya kepadaku.
"Isinya uang ya?" Sambungnya lagi.
"Iya, itu buat tambahan untuk pengelola kontrakan ini." Aku mengangguk.
Kontan aku terkejut melihat Pak Andika malah menggelengkan kepalanya. "Kenapa, Pak?"
"Ibu ini terlalu baik jadi orang," Pak Andika yang mengenakan kaus berwarna merah darah itu tersenyum lagi ke arahku.
"Pak, meski terkadang kebaikan kita itu dibuat sebagai permainan oleh orang lain. Kita tetap harus melakukannya, kenapa?
Kita tidak tahu kapan kita akan mendapatkan musibah, bisa jadi kebaikan yang kita tanam itu kembali saat kita mengalami kejadian buruk." Aku berbicara sambil terus membantu memasukan barang-barang dan juga berkas penting ke koper.
---
"Ste," Aku samar-samar mendengar suara yang tidak asing lagi. Suara yang aku rindukan.
Kuputar tubuhku---gagal untuk masuk ke dalam mobil. Arlo, dia sudah berdiri di belakangku. Dia mengenakan pakaian formal. Kemeja berwarna biru dengan perpaduan satu garis vertikal putih---juga celana hitam.
"Ar?" Aku bingung---mau memberikan ekspresi apa untuk Arlo.
"Kamu mau ke mana?" Tanya Arlo dengan masih berdiri di tempat yang sama.
"Mau ke Malang, tugasku di sini sudah selesai." Ucapku sambil melirik ke arah Pak Andika yang sudah duduk di balik meja pengemudi.
"Aku ada perlu sama kamu, kita ngobrol di sana boleh?" Arlo menunjuk ke arah restoran milikku.
Restoran itu sudah mulai sibuk, padahal jam baru saja menunjukan waktu menuju angka sembilan pagi. Mereka semua menyiapkan segalanya sebelum pukul sepuluh---jam buka restoran. Kalau toko sudah dari jam enam pagi tadi.
Hanya anggukan yang aku berikan kepada laki-laki yang belakangan ini aku rindukan keberadaannya.
Aku berjalan bersebelahan dengan Arlo, karyawan-karyawanku yang sedang bekerja. Seketika terkejut melihat aku masih di sini.
Mereka semua berdiri dan mengangguk kepadaku, tidak lupa aku memberikan senyuman sebagai balasannya.
Semua karyawan ini dipegang oleh beberapa karyawan senior yang ada di Malang. Sengaja aku datangkan ke Surabaya, untuk berbagi ilmu dengan mereka yang baru. Dan, karyawan senior itu akan di Surabaya selama dua minggu.
Tetapi, sebelum pembukaan aku juga telah melakukan pertemuan besar dengan mereka semua. Membahas dan menyambut mereka sebagai keluarga besar kami.
"Kita bicara di ruang kerjaku saja ya," aku berbisik sedikit ke Arlo.
Aku berjalan lebih dulu memasuki ruang kerja yang ada di lantai dua. Arlo mengekori dari belakang---dengan diam saja.
Entahlah, mungkin ini sangat krusial. Sampai-sampai aku melupakan waktu untuk segera berangkat ke Malang. Padahal aku sangat merindukan anakku.
Kurogoh kunci ruang kerja di tas kecil yang selalu aku bawa setiap pergi ke mana saja.
Ruangan itu memiliki aroma yang enak---aroma buah segar. Pengharum ruangan yang harganya miring tetapi memiliki aroma yang enak.
Aku berjalan ke sebuah sofa panjang---Arlo juga berjalan ke sana. Ruangan ini tidak aku tutup. Atas permintaan Arlo dan juga memang ingin kubiarkan terbuka---biar mereka yang terkadang memiliki pikiran jorok, tidak terbukti.
"Ste," Arlo menarik tanganku---memutar tubuhku untuk menghadapanya.
"Ya?" Kucoba menstabilkan degup yang teramat kencang di dada. Entah kenapa tiba-tiba keadaan menjadi secanggung ini?
"Apa kamu percaya tentang sebuah cinta sejati, Stefa?" Arlo masih mengelus tanganku.
Cinta sejati? Itu adalah bukti nyata yang sangat jarang ditemukan dari kebanyakan pasangan yang ada di dunia ini. Hanya beberapa saja.
Cinta sejati itu rela menunggu sepanjang waktu mengharap pasangannya kembali, walau dia tahu bahwa pasangan itu telah pergi ke hadapan Sang Kuasa.
"Aku percaya," aku mengangguk dengan yakin. "Karena aku melihat sendiri bukti-bukti cinta sejati itu," sambungku.
"Siapa?" Tanya Arlo sambil menaikan satu alisnya.
"Ayah dan Ibuku," Aku menjawab sambil menatap tembok kosong bercat putih belakang Arlo.
Ayah dan ibuku adalah bukti nyata tentang cinta sejati. Ketika salah satu diantara mereka sudah pergi terlebih dahulu. Satunya---setia menanti dan mendoakan di pusaranya. Hingga akhir hayatnya.
"Enggg---kamu tidak percaya aku seperti mereka?" Arlo bertanya dengan mulut yang bergetar.
"Hm," aku memandanginya kaku dan bingung. "Mungkin tidak," jawabku dengan ragu-ragu.
"Menikahlah denganku, dan kamu akan lebih dekat dan tahu segalanya tentangku," ucap Arlo diikuti senyum manisnya.
Seketika Pak Andika muncul membawa setangkai bunga mawar berwarna merah dengan diikuti oleh beberapa karyawan yang membawa meja juga kursi yang sudah diisi oleh makanan dan lilin yang telah menyala.
Kontan aku menutup mulut, saat bunga itu berpindah dari tangan Pak Andika, menuju tangan Arlo. Dan, kemudian berakhir ditanganku.
Bersambung...
Jangan lupa vote semua bab, supaya aku semakin semangat updatenya ya.
Sayang kalian, Al.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hadiah Istimewa Untuk Suamiku (Dewasa)
Ficción GeneralVOTE DULU SETELAH BACA! FOLLOW JUGA! "Bangkai itu tidak bisa ditutupi, Mas!" Stefa Azika Isabella, pemilik Toko 29 sedang menyelidiki secara diam-diam perselingkuhan suaminya Elano Kenzo Gautama---dibantu oleh asisten pribadinya. Perselingkuhan Elan...
