Keesokan paginya, aku sudah berada luar area rumah. Efano keluar dengan Surti sesuai rencana kemarin---dia masih sekolah, hanya sebentar karena guru-guru rapat. Di dalam hanya ada Tejo dan Elano seorang---karena aku pamit mau ke toko.
Kemarin, kami berempat rapat secara lirih. Supaya tidak kedengaran Elano yang sedang main di ruang televisi.
Aku akan menjebak dengan mendatangkan kedua mertuaku kemari secara tiba-tiba. Tadi malam, aku sudah menghubunginya---di luar rumah. Supaya dia tahu bejatnya Elano selama ini, berani membawa perempuan ke rumah.
Kubilang kepada mertuaku, bahwa akan kuajak sarapan bersama. Karena memasak cukup banyak.
"Bu," Pak Andika mendatangiku ditempat aku bersembunyi. Letaknya tidak jauh dari rumah.
"Pak, Indri sudah jalan kemari?" Tanyaku kepada Pak Andika yang berdiri di belakangku. Sama-sama di balik pohon besar. Dekat rumahku satunya.
Aku bisa saja melihat dan memantau dari kamera pengawas di rumah melalui gawai, tetapi rasanya kurang puas jika seperti itu.
Pak Andika memang kutugaskan mengundang Indri ke rumah, atas nama Elano. Dengan perihal jamuan sarapan romantis berdua. Elano juga sudah diberitahu oleh Pak Andika, bahwa Indri akan main ke rumah.
"Indri sangat kegirangan, Bu," kata-kata Pak Andika membuat darahku sedikit mendidih.
"Pasti, dia memang suka diginikan. Walau Elano tidak begitu mencintainya," Jawabku sedikit berbisik.
Kenapa aku bisa berbicara seperti itu? Ya, karena separuh hati Elano masih tertinggal di dalam tubuhku. Buktinya, beberapa hari kemarin dia masih mau menyentuhku. Bukannya kalau tidak cinta, menegur saja tidak mau?
Oh iya, di dalam. Tejo baru saja mengabari, bahwa satu set meja makan romantis sudah terpasang di rumah. Dengan lilin-lilin yang ada pada dua sisi. Serta kain merah sebagai penutup meja. Ini adalah ide Tejo sendiri.
Gawaiku bergetar beberapa kali, kawatir pesan dari Surti yang sedang jalan-jalan pagi bersama Efano. Kuambil dari dalam tas kecil. Ternyata pegawai-pegawaiku yang sedang mengirimkan absensi melalui WhatsApp.
Tidak berselang lama, sebuah motor datang. Berhenti di depan gerbang rumah. Punya Indri, Tejo terlihat berlari membuka gerbang.
Dia sudah pantas jadi pemain film dengan bayaran besar loh! Walau aku berdiri tidak begitu dekat dengan rumah, aku bisa mengetahui bahwa ekspresinya datar. Tidak membuat Indri curiga, selepasnya gerbang kembali tertutup.
Tejo: Saya menunggu Bapak dan Ibunya Pak Elano datang di teras rumah, kalau ibu penasaran apa yang terjadi di dalam sekarang silakan lihat kamera pengawas.
Pesan Tejo, baru saja aku baca.
Aku baru saja membuka gawai yang sudah terkoneksi dengan CCTV rumah, terlihat Elano mengenakan baju formal, sedangkan Indri hanya mengenakan baju tanpa lengan.
Dia sedang berdansa dengan Indri dalam rumah, entah apa ada musik yang mengalun mengiringi mereka? Aku tidak bisa mendengarnya.
"Bu, itu mobil orangtua Pak Elano, bukan?" Pak Andika menunjuk ke arah rumah.
Aku pindah fokus dan melihat ke depan, "ya, benar."
Mertuaku turun dari mobil, yang terparkir di luar rumah. Tidak bisa masuk, karena tidak cukup tempat. Mereka bedua bergandengan tangan, Tejo mengikutinya dari belakang.
Aku segera beralih ke CCTV yang ada di gawai lagi, terlihat Elano dan Indri sudah mulai makan. Saling menyuapi satu sama lain. Setelah itu, Elano bangkit. Berjalan ke arah pintu ruang tamu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hadiah Istimewa Untuk Suamiku (Dewasa)
General FictionVOTE DULU SETELAH BACA! FOLLOW JUGA! "Bangkai itu tidak bisa ditutupi, Mas!" Stefa Azika Isabella, pemilik Toko 29 sedang menyelidiki secara diam-diam perselingkuhan suaminya Elano Kenzo Gautama---dibantu oleh asisten pribadinya. Perselingkuhan Elan...
