Warning 🔞
Asher mengumpat, mengucap sumpah serapah ketika tubuhnya di tabrak oleh seseorang yang membuat aktivitas bercintanya berhenti. Sialan, batin Ash. Dia akan membuat perhitungan dengan orang yang sudah menggagalkan kenikmatan bercintanya it...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kalian baca cerita ini dimana?
-
Don't try to run away from me. Because wherever you go I will find, what I claimed cannot be changed-
***
Asher menatap seorang gadis dengan rambut panjang hitamnya, poni yang melebihi alis seolah menggoda jemari Ash untuk menyentuh disana. Penampilan gadis itu sangat sederhana dengan sepatu sneakers, celana jeans dan jaket kulitnya yang berwarna hitam. Rambut yang terkuncir kuda memamerkan kesan seksi tersendiri bagi Ash hingga tanpa sadar kedua sudut bibirnya sudah tertarik.
Pria berambut sebahu itu berdiri kembali mendekati Asher dengan tertunduk. "Maafkan aku bos, karena ulah gadis ini wine yang telah dipesan tidak dapat kita nikmati."
Casey yang merasa tersudut semakin mengeratkan tubuhnya pada Ann. Sementara Ann masih meladeni Asher yang menatapnya tanpa berkedip. Keduanya bersitatap dalam diam seolah mengadu kekuatan mereka siapa diantara keduanya yang akan memutuskan pandangan itu.
"Kau benar-benar membuatku malu. Apa aku terlihat sebegitu miskinnya hingga menuntut orang lain untuk ganti rugi." tutur Asher dengan pandangan yang masih mengarah pada Ann.
"Y-ya?" ia bergemetar mendengar suara Asher yang meninggi. Pria itu tahu jika Ash sudah mulai kesal dengan situasi yang terjadi.
Asher mencengkram kerah baju pria yang berada disampingnya tanpa mengalihkan tatapan dari Ann.
"Enyahlah dari sini!" Asher mendorong tubuh hingga pria itu lari terbirit-birit keluar ruangan.
Asher berjalan maju beberapa langkah mengikis jarak diantaranya dengan Ann. "Aku bertanya apa kau baik-baik saja?" katanya dengan seulas senyum tipis di bibir.
Casey yang melihat situasi itu semakin canggung karena Ann masih saja diam dengan mata menatap nyalang Asher yang merupakan penyewa ruangan ini. Pun ia mengambil inisiatif untuk berbicara. "K-kami baik-baik saja. Terimakasih atas bantuanmu, Sir."
Akhirnya Asher memutus tatapan keduanya dan beralih kepada Casey. Pria itu tersenyum.
"Maafkan anak buahku tadi, ia terlalu berlebihan. Kau pasti sangat takut nona." Ash menyentuh pundak Casey membuat rona kemerahan terbit di pipi wanita itu.
"Ah itu tidak apa-apa." Casey menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena canggung. "Aku yang salah sudah memecahkan pesananmu. Aku pasti akan menggantinya walaupun harus berhutang."
Asher tersenyum kembali sebelum akhirnya mengalihkan perhatiannya pada Ann lagi. Rupanya gadis itu masih belum bosan menatapnya penuh selidik.
"Kau bisa membayarku kapan saja."
"A-apa?" mendengarnya Casey memastikan ucapan yang keluar dari mulut Asher.
"Iya kau bisa membayarku kapan dan dengan apa saja nona." kalimat itu penuh dengan penekanan.