Kini Jecko terus-menerus mengomel tentang kejadian yang baru saja di alami oleh mereka, "Memang siapa dia? Nyelonong masuk gatau malu, kamu juga! Kenapa tadi berhentiin aku!" makinya pada Reni.
"Hustt iyaa udah udahh...," Reni menduduk-dudukkan Jecko di sofa lalu mengambil air untuk di berikan kepada Jecko.
"Nih."
Jecko meminum air itu hingga habis, nafas nya masih memburu, dia masih tidak terima dengan kelancangan yang telah Lean tunjukkan. Reni duduk tepat si samping Jecko, mengambil alih tubuh Jecko untuk di tenangkan dengan pelukan. Reni mengusap-usap sayang punggung juga kepala Jecko, seperti seorang ibu yang mencoba menenangkan anaknya.
Jecko memang bukan tipe orang yang manja, tapi jika dia harus memukuli banyak orang hanya untuk mendapat pelukan seperti ini, maka dia tidak akan berpikir dua kali.
***
Kedua sejoli itu kini sudah berpindah ke sofa kamar Nara, Nara memindahkan cowok itu dengan sangat hati-hati, "Anna...," lirihnya meminta simpati
Nara mengusap lembut pipi Lean, menyigar sebagian rambutnya yang berantakan di depan mata, "Kamu gak papa?" suara selirih itu mampu membuat Lean meneteskan air matanya, ia memeluk Nara begitu erat dengan tubuhnya yang gemetar. Nara membalas pelukan Lean, mereka sama-sama melepas rindu yang sudah tidak bisa di pendam lagi.
"Mau kemana...," Lean merain tangan Nara.
"Ambil kotak obat, sebentar kok, luka kamu harus di obati," tidak bisa dipungkiri walau hanya sebuah tamparan, namun Jecko bisa membuat pipi cowok itu memerah darah dengan bekas tangannya disana.
Lean menggelengkan kepalanya tegas, tidak mau berpisah lagi dengan pujaan hatinya, saat ini dia tengah menggenggam tangan gadis itu dengan erat. Nara menghembuskan nafasnya, gadis manis itu ikut duduk di samping Lean, lalu menenangkan Lean dengan usapan tangan lembut nya, "Sakit ya?"
Deg! seperti dejavu Lean merasa bahwa dia pernah mendengar kalimat itu, tapi kapan dan dimana, dia tidak mengingat apapun. Tak menghiraukan perasaan itu, Lean mengangguk untuk menjawab pertanyaan Nara.
"Tadi ngapain ke sini?" Nara menatap wajah itu lekat, mengamati setiap luka yang terlukis disana, ia meringis membayangkan betapa perihnya pukulan Jecko pada cowok itu.
"Pengen ketemu," suara nya mulai melemah, ia benar-benar merindukan Nara nya. Ingin sekali Lean menjelaskan tentang apa yang belum sempat dia katakan pada Nara pagi tadi.
"Tiba-tiba?"
"Iya."
"Kenapa?"
"Kangen."
Pertanyaan-pertamanya itu terjawab tanpa jeda, seolah enggan melihat Nara menunggu, Lean kali ini akan bersedia menjawab semua pertanyaan Nara tanpa ragu. Namun Nara kembali bungkam setelah mendapat jawaban itu.
Tak ingin hening membuat waktu semakin lama, Nara memutuskan untuk mengobati luka itu, "Aku ambilin obat dulu buat obatin ini," telunjuknya mengarah ke bekas tamparan yang ada di wajah Lean.
"Gak mau."
"Terus gak mau di obatin gitu?"
"Tidur sini boleh gak?" seolah tuli akan pertanyaan Nara, Lean kini sudah mengubah wajah lesu nya, dengan wajah memelas yang sangat-sangat membuat dia semakit terlihan lebih tampan.
"Ada om aku Ley, gak bisa," bantah Nara tegas.
Wajah itu kembali lesu, ia menunduk dan mencoba untuk menggapai tangan Nara yang tengah berdiri di depannya. "Tapi aku mau Annaaa."
Mulai, Nara menghela nafasnya menyadari bahwa Lean sedang dalam mode manja nya, hal itu akan membuat Nara makin pusing jika harus melawan manusia setengah bayi ini. "Tidur di kamar sebelah aja ya," ucap Nara mencoba meyakinkan. Mata Lean berkaca, "Maunya sama kamu."
"Ya gak bisa dong," sanggah Nara jengah, apa Lean tidak punya otak? Dia baru saja di tampar oleh Jecko, dan dia masih tidak punya kapok.
"Tapi aku mauuu."
"Kamu tadi udah di pukul sama om Jecko, masih belum puas?" tanya Nara menggebu, sudah jelas Nara tidak akan membiarkan cowok itu menjadi sasaran Jecko lagi. Namun Lean tetaplah Lean.
"Aku harus dapat berapa banyak pukulan buat bisa tidur sama kamu?" kalimat itu terdengar sangat menantang. Nara menatap laki-laki di depannya tak percaya, Lean menyadari itu cepat, ia benar-benar tidak bermaksud lain, "Ma-maksud aku, aku gak peduli seberapa banyak pukulan yang aku dapet, asal aku bisa di temenin kamu sampai tidur malam ini," jelas nya cepat, tak ingin memunculkan perdebatan baru.
Nara menghentakkan tangan yang di genggam oleh Lean, ia berlalu pergi untuk mengambil kotak obat yang ada di lemari kamar nya, membawa nya kembali ke arah Lean. Dengan bungkam ia mencoba untuk mengoleskan perlahan sebuah salep ke pipi Lean, ia mungkin sudah kehabisan kata-kata untuk menghadapi Lean.
Namun lihat cowok itu sekarang, ia malah sibuk melihat Nara tanpa jeda, ia bingung apakah penjelasannya tadi tidak di terima oleh Nara, apakah Nara benar-benar salah paham atas pertanyaannya?
"Kamu marah?" ia memberanikan diri untuk bertanya. Namun Nara tetap tidak bersuara, Nara yang masih sibuk mengobati pipi cowok itu hanya memberi gelengan kepala untuk menjawab pertanyaan Lean. Namun Lean tak akan berhenti, "Aku gak bermaksud lain, aku minta maaf kalo udah buat kamu marah. Aku tau harusnya aku gak boleh ngomong gitu ke kamu, tapi aku beneran gak ada maksud lain Anna," ia benar-benar mengoceh sekarang.
"Abis ini kita kebawah, aku mau kamu minta maaf ke om Jecko," titah Nara sembari membereskan kotak obat yang ada di pangkuannya.
"Oke," jawab Lean patuh. Lalu setelah Nara menaruh kembali kotak obat nya, ia mengulurkan tangan untuk menggandeng Lean yang masih duduk di sofa kamarnya, "Ayo."
Kini mereka berdua telah menuruni anak tangga, Lean berada di belakang Nara tanpa melepas gandengan itu, "Om Jecko," Nara memanggil Jecko yang kini tengah di tenangkan oleh Reni juga.
"Sayang, kenapa turun?" tanya Reni khawatir. Nara menjawabnya dengan anggukan, seolah memberi Reni isyarat bahwa mereka akan baik-baik saja.
"Om Jecko," Nara kembali memanggil Jecko yang enggan menoleh kepada Lean, Nara sedikit mendoro Lean maju tanpa melepas genggamannya, "Ini Lean, mau minta maaf."
Lean tak memberi reaksi apapun, sampai Nara harus mencubit kecil lengannya, "Maaf.., tadi udah lancang."
Jecko berdiri setelah mendengar suara itu, lalu menghampiri mereka berdua dengan tenang, "Saya gak peduli kamu anak siapa, kalau kamu berani ganggu keluarga saya, kamu akan tau akibatnya," tegas Jecko kepada Lean, namun seperti yang kalian tau, Lean tetaplah Lean, bahkan cowok itu tidak menurunkan pandangannya sekalipun, ia malah dengan tegap menatap Jecko tanpa rasa takut, "Kamu bisa coba itu kalau kamu berani," lanjut Jecko lalu berlalu pergi meninggalkan semua orang disana.
Reni menyadari suasana disana sedikit memanas, "Ehm sayang, kamu bawa Lean keatas, mama mau nyusul om Jecko," Reni merasa sangat kasian pada Lean, namun ia lega bahwa ternyata Jecko bisa mengendalikan emosinya di depan anak itu.
Setelah Reni pergi, Lean berbalik menatap Nara, "Aku udah minta maaf, sekarang udah boleh tidur disini?"
"Kamu cuma punya 2 pilihan, tidur di kamar tamu, atau pulang?" Nada suaranya terdengar begitu dingin.
Lean pasrah, dari pada harus pulang mending dia menurut kan, "Tapi temenin sampek bobok ya...," mata nya penuh permohonan.
"Kalo dia gitu gimana gue bisa nolaknyaaaa." Hati Nara menjerit tak karuan.
"Ya! Ya Anna boleh ya! Janji gak ngapa-ngapain, cumann pengen cuddle."
✄✄✄
AAA CUMAN BISA SEGINI DULU UPDATE NYA HUHU :(
BUT IT'S OKAY AKU ADA DOUBLE UP KOK :)
JADI TUNGGUIN AJA ENTAR PALING AGAK MALEMAN.
CEEE YUUUUU
KAMU SEDANG MEMBACA
LEANDRO (untuk Nara) NEW VERSION
Teen Fiction"NARA CUMAN PUNYA GUE ANJING!" Sentak Bara. "BACOT BANGSAT!" Mereka tetap saling pukul satu sama lain, wajah mereka juga sudah babak belur, hingga pelukan seorang gadis di salah satu punggung mereka, membuat jeda di antaranya, "Bara, udah Bara. St...
