05 November 2024
Plak!!! Semua orang di dalam sana menganga, ketika suara tamparan itu terdengar begitu beringas dan keji, seperti ada banyak kekecewaan yang menumpuk dalam setiap detik pergerakannya.
"Ibu," sapa Lean tak percaya. Lisa ibu Lean dan Lena yang kini tengah tepat berada di hadapan Lena dengan nafas menderu dan tangan yang bergetar.
"Siapa yang ngajarin kamu ngomong kasar kayak gitu! Siapa yang kamu katai pembawa sial! JAWAB IBU!" air mata Lisa mengalir lirih, hati nya hancur mendengar perkataan tidak sopan itu keluar dari bibir anak kesayangannya.
"Bu, udah bu.., Nara gak papa," Gadis manis itu mencoba untuk menenangkan Lisa dengan perasaan yang campur aduk, ia tak mau masalah ini semakin panjang.
"Kenapa Bu! KENAPA IBU NAMPAR AKU!" Lena dengan pipi merah nya kembali tersulut oleh emosi, "Aku bingung, Bu. Sebenernya yang anak Ibu itu siapa sih? SEMUA ORANG SAYANG SAMA DIA! SEMUA ORANG GAK MAU DIA KENAPA-NAPA," air mata gadis itu mengalir begitu deras, "Kalian gampang angkat tangan kalian buat nampar aku? se-sedangkan dia.., DIA YANG BUKAN SIAPA-SIAPA AJA SELALU KALIAN BELA!"
Lean maju mencoba untuk menghentikan ocehan Lena, Nara mencoba untuk mencegah nya, "Lean udah!" Lean menatap binar mata gadis di depannya, mencoba untuk tenang di balik dekapan gadis manis itu.
"Kamu seharusnya sadar dengan perkataan kamu Lena. Sebenernya apa yang ngebuat kamu begitu cemburu terhadap Nara? Kasih sayang Ibu ke kamu bahkan tidak pernah berkurang setelah Nara ada di sini."
"KASIH SAYANG APA, BU! KASIH SAYANG APA YANG IBU KASIH? INI!" ia menunjuk ke arah pipi yang telah di tampar oleh Lisa, "INI YANG MAKSUD IBU KASIH SAYANG?" iya tersenyum getir. "Dia itu cuma orang asing, Bu. Aku gak tau kenapa Ibu bisa sayang banget sama dia, aku gak tau kenapa tiba-tiba semenjak ada dia di hidup kakak cuman ada NARA, NARA DAN NARA."
"KARNA DIA UDAH SELAMATIN KAKAK KAMUUU! ah," Lisa memegangi dada nya yang tiba-tiba terasa sangat nyeri. "Karena perempuan yang kamu katai pembawa sial itu, udah buat ka-kakak mu.., kembali ke rumah." lanjutnya dengan terbata menahan sakit yang tak terduga.
"Ibu..," khawatir Nara langsung menangkap tubuh Lisa yang melemas, "Ka-kamu harusnya tau, apa alasan Ibu begitu menyayangi Nara. Karena dia juga menyayangi kakak mu."
"Udah, Bu," Nara menangis semakin khawatir, ia tak tahan melihat Lisa seperti ini. "Enggak Nak! anak ini harus tau, ka-kalau kamu juga berkorban untuk ke-keluarga, ahws.., untuk keluarga ini," rasa sakit itu semakin menusuk, kini Lean dan Lena juga ikut memegangi tubuh Lisa yang mulai terjatuh.
"IBUUU, Ibuu kenapaaa buuuuuu," tangisan itu terdengar pedih, "Kamu harus tau, anak yang kamu katai pembawa sial ini juga sama bahkan lebih menderita di banding kita. Di-dia merawat jiwa kakak mu, dia menyembuhkan rasa sakit kakak mu, dia juga menderita, karena terus-terusan di kurung oleh kakak mu." Lisa memegangi tangan Nara kuat, ia memandangi wajah Nara yang pucat dengan penuh air mata itu, "Dia yang udah bikin kita bebas dari amarah kakak mu," Lisa menoleh ke arah Lena, "Dia satu-satu nya orang yang paling menderita disini, ta-tapi kamu malah menuduh anak baik ini merebut Ibu dan Kakak mu? Pikiran kotor mu itu harusnya tau malu Lena, ahhh."
"IBUU, IBUUU BANGUN BUUUUUUU," teriakan itu bergemuruh di sana, "sayang bantu angkat," Nara mencoba untuk menyadarkan Lean yang tengah ikut menangis disana. Lean mengangkat tubuh lemas Lisa, ia membawa sang Ibu untuk naik ke dalam mobil.
"Kenapa?" Bara panik mendapati pemandangan itu, "Buka pintu nya, Anjing!" sentak Lean ketika Bara masih dalam kebingungan.
~Rumah Sakit~
Lena masih menangis, mereka semua menunggu Lisa yang tengah di rawat oleh tenaga medis disana. Nara menghampiri Lena yang menjauh dari dirinya Lean dan Bara. Namun belum sempat ia sampai, Lena kembali mengambil jarak diantara mereka.
"Biar aku aja," ia menenangkan Nara yang kini tengah berdiri di tengah-tengah. Bara menghampiri Lena tanpa perlu banyak kata, Lena langsung beringsut untuk menangis dalam pelukan Bara, "Ibu gimanaaa, Kakkkk." rengeknya terdengar begitu getir.
Nara kembali ke arah Lean ketika dia tau bahwa Lena sudah mempunyai seseorang untuk sandarannya, "Ley," Lean menatap asal suara itu, mata nya sudah memerah dengan wajah yang penat, ia memeluk Nara mencoba untuk membuat hati nya sedikit lebih tenang. Nara menyambut pelukan itu dengan begitu hangat.
Tak lama dari itu, mereka kembali di hampiri oleh tenaga medis yang merawat Lisa, "Wali Ibu Lisa." Lean maju ketika mendengar itu, ia menghapus air mata nya kasar, lalu berdiri tegap di depan seseorang yang telah memanggilnya tadi.
"Dengan saudara siapa?"
"Lean." jawab nya matang.
"Baik, saudara Lean mempunyai hubungan apa dengan Ibu Lisa?"
"Saya anak nya."
"Oke baik, begini Pak sebelumnya, untuk kondisi Ibu, beliau terkena serangan jantung, yang menyebabkan rangsangan rasa nyeri secara tiba-tiba terhadap jantung pasien. Hal ini di picu karena mungkin pasien mengalami syok berat, stres atau bahkan konsumsi obat yang berlebihan. Sebelumnya ada yang ingin saya tanyakan, apa pasien di rumah sering mengonsumsi obat-obatan?"
"Enggak, Ibu gak pernah minum obat apapun," jawab Lena.
"Oke baik kalau begitu, saat ini pasien sedang koma, kami telah memberikan obat untuk pereda nyeri. Sekarang pasien belum bisa untuk di jenguk, dan kami akan siapkan administrasi untuk perpindahan kamar, karena pasien memerlukan penanganan intensif, mari saya antar ke kasir."
"Biar gue aja," Bara menepuk bahu Lean lembut, "Ayo kamu ikut aku, sekalian kita pulang dulu buat ambil perlengkan Tante Lisa di rumah," tanpa perlu jawaban dari Lena, Bara sudah lebih dulu menggeret lengan gadis itu halus. "Aku pergi dulu, Nar."
"Iya Bara, Hati-hati."
***
Hi, How u doing? and How's life?
untuk tau kelanjutan dari cerita ini kalian bisa bantu untuk klik logo star yang ada di halaman paling bawah.
Terimakasih sudah selalu setia menunggu aku dan Leandro untuk tampil kehadapan kalian, jangan lupa kalau ada yang ingin di sampaikan, bisa langsung comment atau dm aku di ig @silessly
Love you all🫶
KAMU SEDANG MEMBACA
LEANDRO (untuk Nara) NEW VERSION
Fiksi Remaja"NARA CUMAN PUNYA GUE ANJING!" Sentak Bara. "BACOT BANGSAT!" Mereka tetap saling pukul satu sama lain, wajah mereka juga sudah babak belur, hingga pelukan seorang gadis di salah satu punggung mereka, membuat jeda di antaranya, "Bara, udah Bara. St...
