SELAMAT MEMBACA
Good Night
08 October 2022
"Anna..." Lean membisik, "Udah bobok ya?" Nara yang mendengar hal itu hanya memutar bola matanya jengah. Posisi Lean kini tengah berada di kasur kamar tamu, dan Nara ada di bawah Lean dengan menggunakan kasur lantai. "Hussttt! Tidur Ley!" jawab gadis itu.
"Kenapa gak tidur di samping aku aja sih?" jengkel Lean mengetahui bahwa gadis itu malah memilih untuk tidur di bawah kasur. "Sama aja Ley, kamu bilang minta di temenin tidur, ini aku udah temenin," jawab gadis itu santai.
Lean yang masih kesal pun tak terima dengan alasan itu, yang benar saja, alasan macam apa itu? "Kamu tau aku gak bisa tidur kalo lampunya terang gini," protes nya pada Nara yang masih asyik menutup mata dengan penutup mata bergambar stroberi nya.
"Itu aku udah kasih kamu penutup mata, tinggal pake aja. Nanti juga bakal gelap."
Masih tak mau kalah, Lean tidak mau menghentikan topik pembicaraan ini, "Gak sama dong, Ann. Mata aku beneran gak bisa tidur kalo lampunya nyala seterang ini."
"Kamu mau nya kayak gimana?" tanya Nara dengan Nada yang sedikit tinggi, kini ia melepas penutup mata itu dan beralih duduk menatap Lean yang kini juga tengah duduk di atas kasur tamu itu. "Ya matiin aja lampunya!" ia sedikit berteriak ke arah Nara.
Oh Tuhan, Nara benar-benar membenci situasi ini, tolong buat Lean bungkam, atau cowok di depan matanya itu akan di tendang keluar sekarang. "Apa?" tanya Lean sedikit panik saat melihat Nara yang kini tengah menatapnya sengit.
"Bisa gak sih tau diri sedikit? Sedikit aja, kamu tuh lagi di rumah orang, ini bukan rumah kamu, yang seenaknya harus sesuai sama kemauan kamu. Kamu bilang ke aku katanya mau di temenin tidur, ini udah di temenin tapi kamu malah banyak mau nya," kesabaran Nara benar-benar habis sekarang. "Aku tuh capek, Ley!" oh tidak, gadis itu, kenapa dia tiba-tiba menangis? Apa Lean sudah keterlaluan? Mati lah Lean.
"Ma-maaf Anna," cowok itu beringsut untuk turun dan duduk di dekat Nara, ia sepertinya memang harus meminta ampun. Lean mencoba untuk memegang tangan gadis itu, namun belum sempat Lean menyentuhnya, gadis itu sudah lebih dulu menepis tangan Lean.
"Kenapa sih, Ley? Kenapa harus aku yang kamu mau? Kenapa kamu gak milih ce-cewek lain aja? Aku bener-bener gak ha-habis fikir sama kamu," suara gadis itu parau, bibir nya bergetar, dan air mata yang berhasil lolos tanpa permisi itu, benar-benar mampu membuat Lean merasa cemas. "Kamu tau.., apa yang Bara omongin ke aku?" Lean menggeleng saat mendengar pertanyaan itu, "Dia bilang gak butuh pelindungan dari a-akuu, dia gak mau aku lin-lindungin dia dari kamu. Dia mau aku Ley."
Lean menunduk mendengar hal itu, ia masih tak mau menjawab Nara, ia masih ingin mendengar keluh kesah gadis manis itu. Nara mengusap air mata nya kasar, menarik nafas panjang, mencoba untuk menstabilkan emosinya. "Aku harus gimana lagi sih Ley, kamu ngancem aku buat terima kamu sebagai pacar aku, kalo aku gak terima kamu, kamu bakal bunuh Bara. Aku udah lakuin itu, aku lakuin itu untuk Bara, Ley, ta-tapi dia bilang.., di-dia bilang aku pembohong, semua yang aku lakuin ini bohong! DIA BILANG AKU GAK SAYANG DIA LEY!" hancur, sudah benar-benar hancur hati lembut Nara.
Tanpa Lean sadari, bahkan laki-laki itu kini tengah menangis sekarang. Tidak, kali ini hati nya tidak merasa sakit kala Nara menyebut nama Bara berkali-kali di depannya, tangisan Lean berasal dari kesadaran, bahwa sudah betapa ia menyakiti gadis lugu itu dengan amat sangat parah. Lean kini menyadari, bahwa ia sudah se-egois ini.
"Kamu tau aku juga milih dia saat itu Ley, apa aku punya pilihan lain selain aku harus terima kamu dan biarin Bara bebas? Apa aku punya cara lain supaya kamu gak gangguin Bara lagi?" lagi-lagi pertanyaan yang di lontarkan Nara membuat Lean mati kutu. "Enggak, Ley! Bahkan kamu gak kasih aku kesempatan untuk berpikir sedikit pun," ia menghentikkan telunjuk nya tepat di depan wajah Lean, "A-aku udah sesayang itu sa-sama dia, Leyyyy. Ta-tapiii kenapa dia bilang aku pembohong? Kenapa dia bilang gak butuh perlindungan dari aku? Ley, aku bahkan udah relain diriku untuk jadi sasaran amukan kamu, aku lakuin itu, Leyyy.., aku udah coba untuk bebasin dia dari kamuu," Nara semakin terisak, air matanya semakin mengalir deras, "Te-terus kenapa dia bilang kayak gi-gitu."
"Maaf Anna," Lean menghapus air matanya, ia bisa apa sekarang selain memelas agar Nara bisa mengampuni nya, "Maaf aku udah jahat ke kalian berdua."
Nara meringis perih saat mendengar Lean mengatakan itu, seperdetik itu dia tersadar, bagaimana bisa dia mengutarakan hal itu di depan Lean? Bagaimana bisa gadis manis itu berubah menjadi bodoh dan melampiaskan semuanya kepada Lean? Padahal ia tau betul bagaimana dan apa penyebab yang membuat Lean bisa berprilaku seperti itu.
Tak ingin memperpanjang kesalah pahaman di antara keduanya, Nara beringsut menarik tubuh Lean kedalam pelukannya. Lean yang mendapat perlakuan itu semakin terisak, ia tak kuasa melihat akibat dari apa yang telah ia lakukan kepada gadis manis itu, "Maaf sayang," bisik Nara lembut padanya. Hal itu cukup membuat Lean semakin teriris. Hati kecil nya remuk saat ia tau bahwa Nara kini masih memikirkan perasaanya, padahal sedari tadi pun gadis itu juga merasa kesakitan.
Tak lama mereka membiarkan air mata mereka mengalir terus-menerus, Nara melepas pelukan itu, mengusap lembut pipi Lean, lalu menatap wajah Lean dengan penuh kehangatan. "Udah. Sekarang kita tidur ya," suaranya melembut.
Jantung Lean berdebar kencang, Lean tersenyum dengan selipan air mata. Ahh dia begitu merindukan Nara yang keibuan seperti ini. Lean menatap wajah Nara sebentar lalu mengangguk gemas. "Tidur sambil peluk, ya?" tanyanya dengan ragu. Nara tersenyum lalu mengangguk Lembut untuk menjawab pertanyaan itu.
"Bobok ya," ucap Nara sendu kepada laki laki yang kini tengah berada di depannya, mereka memposisikan tubuh keduanya saling berhadapan. Lean mengikis jarak keduanya. Nara yang mengerti apa keinginan Lean pun langsung menuruti cowok itu, ia ingin di usap-usap seperti ritual yang telah mereka jalankan sebelum-sebelumnya.
Lean kembali mendongak, mata nya berpancar indah, "Cium Anna," mendengar itu, Nara yang sudah menutup matanya kini kembali membukanya kembali, "Hmm" jawab nya lembut.
"Mau cium sedikit, boleh?" permintaan itu terdengar sangat-sangat lirih. Nara tersenyum menyadari bahwa kini cowok yang ada di depannya itu masih takut padanya.
"Ah kamu mah ngelunjak! Tadi minta tidur sambil peluk, udah di peluk minta cium, males banget aku. Udah aku balik aja deh," Nara menjahili nya.
Lean yang mendengar Nara mengucapkan itu langsung menunduk, beringsut untuk memeluk Nara semakin kuat, agar ia tak di tinggalkan. "Aaa iya-iya, enggak jadi, jangan pergi disini aja Anna... temeninnnnn."
Nara tersenyum dalam diam saat mengetahui cowok itu kini sudah menenggelamkan kepalanya kedalam pelukan Nara, "Makanya nurut!" ucapnya masih menggoda.
"Iya-iya" lirih Lean tanpa memunculkan wajahnya. Jadilah Lean tertidur dengan posisi kepala yang bersembunyi di ceruk leher Nara. Dalam diam Nara mengecup kening Lean lembut. "Good night."
***
Bara masih sibuk dengan laptopnya ia bergelut hingga larut, mencoba mencari hasil terbaik dari segala macam masalah yang ia dapati sekarang.
"Hah," ia membuang nafasnya kasar, "I'm done."
Setelah mengucap itu ia menutup laptop dan berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Namun belum sempat Bara memasuki kamar mandi, tiba-tiba dering ponselnya terdengar begitu nyaring.
"Siapa malem-malem gini telfon?"
Bara mengambil ponselnya lalu melihat nomor yang belum Bara simpan, nomor si pelaku yang menelfon nya malam-malam begini.
Tanpa berpikir panjang, Bara buru-buru menerima telfon itu, "Halo?"
"...."
"Siapa?"
"...."
"Ha? Lo sekarang dimana?"
"...."
"Oke-oke jangan panik! Gue kesana sekarang."
"...."
"Oke."
✄✄✄
Bagaimana New Chapter kali ini? apakah kalian ikut menangis seperti aku? hihi
Btw timaaaciii yang udah vote dan komen, kalian yang terbaik pokoknya, ahhh yuk pacaran :)
See you on the next parttttt!!!!!!
KAMU SEDANG MEMBACA
LEANDRO (untuk Nara) NEW VERSION
Teen Fiction"NARA CUMAN PUNYA GUE ANJING!" Sentak Bara. "BACOT BANGSAT!" Mereka tetap saling pukul satu sama lain, wajah mereka juga sudah babak belur, hingga pelukan seorang gadis di salah satu punggung mereka, membuat jeda di antaranya, "Bara, udah Bara. St...
