SELAMAT MEMBACA
Amarah Lean
03 April 2022
Ponsel berdering...
"ANNAAAAAAAAA" Lean menjerit histeris.
"Nara yang berada di sampingnya terkejut. Wajahnya panik saat melihat raut wajah Lean penuh dengan air mata, mata pria manis itu masih terpejam, ia bermimpi tentang Nara,
"Ley! Bangun, hey aku disini, Ley!" dengan sekuat tenaga Nara mencoba untuk membangunkan Lean, namun hasilnya nihil.
Nara semakin mendekatkan dirinya ke arah Lean, "LEAN!"
"Anna!" Lean terbangun dengan kesadaran penuh.
"Hustt Ley, aku disini," tenang nya.
Lean memposisikan dirinya untuk duduk, memeluk Nara dengan sangat erat, mencoba untuk meyakinkan jiwanya bahwa apa yang baru saja dilihatnya hanyalah sebuah mimpi. Nara mebalas pelukan itu, gadis manis itu mengusap sayang kepala Lean yang bertengker apik di pundaknya, "Hustt hustt, tenang ya, aku gak kenapa-napa Ley."
Lean menangis tanpa suara, entah mengapa hatinya begitu sangat nyeri sekarang, rasanya seperti mimpi itu benar-benar nyata. Melihat Naranya penuh dengan darah, membuat Lean ingin terus memeluk gadis itu sekarang.
Ponsel yang sedari tadi berdering mengganggu konsentrasi Nara. Gadis itu menggayuh ponsel Lean, tanpa melepaskan pelukannya. Nama Danif tertera disana.
"Ley, Kak Danif telfon kamu."
Lean beringsut dari pelukan Nara, mengusap air matanay dengan gantle namun perlahan, lalu mengangkat panggilan itu. "Halo?"
"..."
"Ha? Lo-lo dimana?"
"..."
"Oke gue susul kesana sekarang."
"Kenapa Ley?"
"A-aku pergi dulu."
"Mau kemana?"
Lean tak berani menaap mata Nara, ia menunduk mengabaikan pertanyaan Nara, "Kamu gak mau jawab aku?"
"Aku gak bisa kasih tau kamu,"
Nara mengangguk kecewa, namun senyumannya tak luntur dari bibir manis itu. Nara tak ingin memperpanjang masalah, jika Lean tak ingin memberitahunya maka yasudah, "Hati-hati ya."
Lean mengangguk patuh, "Abis semuanya beres, aku bakal balik lagi ke kamu."
"Iya, aku percaya sama kamu." Tidak, gadis itu tidak serius dengan perkataannya, ia hanya ingin membuat Lean merasa tenang, ia tak ingin Lean pusing memikirkan dirinya. Mungkin saat ini lelaki itu memang ada masalah, jadi Nara pun tak ambil pusing jika Lean meninggalkannya malam-malam begini. Toh bagus jadi besok dia tak perlu memikirkan cara untuk menyembunyikan Lean dari Jecko.
***
Lean masuk ke dalam mobil, memandang ke arah kamar Nara dengan sendu, "Aku bakal selesain ini secepet mungkin sayang," tatapan sendunya berubah jadi amarah, "Bakal aku ancurin semua orang yang udah berani gangguin kita."
Lalu ia melajukan mobilnya secepat yang ia bisa, untuk segera menuju ke tempat yang sudah ada Danif disana. Lampu-lampu malam yang redup, jalanan basah, dan rintik hujan tak mengurangi sedikitpun kecepatan mobil yang sedang dikendarai olehnya, hatinya tetap beregemuruh marah, menantikan sesuatu yang akan terjadi selanjutnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
LEANDRO (untuk Nara) NEW VERSION
Teen Fiction"NARA CUMAN PUNYA GUE ANJING!" Sentak Bara. "BACOT BANGSAT!" Mereka tetap saling pukul satu sama lain, wajah mereka juga sudah babak belur, hingga pelukan seorang gadis di salah satu punggung mereka, membuat jeda di antaranya, "Bara, udah Bara. St...
