37. Awal Kebencian

20.2K 507 79
                                        

14 Januari 2025

"DASAR PELACUR!" ucapan itu membuat Lean murka. Pria itu maju mencoba untuk menarik adik kandungnya.

"Sini lo anjing!"

Bara dan Nara mencoba untuk menjauhkan mereka berdua, namun bukannya emosi Lean semakin surut ia malah semakin terbakar. "Ibu sakit itu karna lo, DASAR ANAK GAK TAU DIRI!"  Teriak Lean kepada Lena.

Lena terdiam mendengar itu, hatinya hancur ketika suara itu dengan lantang keluar dari mulut sang kakak, kakak yang selama ini sangat disayanginya kini berubah menjadi orang asing baginya.

"LEAN!"

Suara Aksa memecah keheningan diantara mereka, ayah ketiga anak yang berada disana seketika maju langsung menghadap ke arah Lean. "Jaga ucapan kamu," rahangnya mengeras menahan amarah.

"Mau apa lo? Gak usah ikut campur masalah keluarga gue!"

"Ayah gak pernah ajarin kamu ngomong kasar kayak gini, Lean. Sadar... Ibu kamu lagi sakit," ia menunjuk ke arah tempat tidur dimana Lisa sedang terkapar dengan alat-alat medis disana.

Lean menoleh ke arah ibunya, "Emang lo pernah ngajarin gue apa? Selingkuh?"

PLAKK!!! Aksa menampar nya. Semua orang tersentak dengan tamparan keras itu, Nara segera mendekat kearah Lean, memastikan laki-laki itu agar tidak berbuat lebih jauh. "Sayang..." getir nya.

Lean mendorong sedikit tubuh Nara, lalu tersenyum dengan air mata yang berlinang, "Lo kemarin bilang kan kenapa gue bisa setega itu udah nampar lo?" ia bertanya ke arah Lena, "Gue bisa nampar lo tanpa pikir panjang ya karna gue dari kecil selalu di tamparin sam—"

"CUKUP! AYAH BILANG CUKUP, CUKUP LEAN!" Aksa berteriak.

"KENAPA? KENAPA GUE HARUS BERHENTI! Lo takut anak-anak kesayangan lo ini tau kebusukanlo? HA!?"

Udara masih mendidih, ruangan itu terasa sangat pengap, wajah kedua orang yang tengah saling berteriak itu memerah panas, namun segalanya terpecah setelah suara dari alat medis yang ada pada tubuh Lisa ikut menyuarakan dirinya.

"Ibuu," Lena maju melihat sang Ibu mencoba untuk mencari sumber udara disana, "Panggil dokter cepet Kaakkkkk," teriaknya pada Bara. Lean yang melihat itu, berlalu untuk memegang tangan sang Ibu kencang, "Ibuuu, Lean disini Buu. Lean gak kemana-mana lagi buuu," suaranya lembut sedikit parau.

Dokter datang, mencoba untuk memulihkan keadaan, semua orang yang ada di dalam ruangan itu diminta untuk keluar. Setelah kurang lebih 30 menit mereka menunggu, Dokter yang bertugas kembali untuk mengabarkan kondisi Lisa ke mereka. Mereka cukup tenang saat mendengar penjelasan Dokter bahwa Lisa baik-baik saja.

"Untuk sementara waktu Ibu Lisa tidak bisa dikunjungi dahulu, karena beliau harus beristirahat total, untuk jadwal jenguk Bapak atau Ibu bisa meminta kepada resepsionis kami...Demikian yang bisa saya sampaikan, saya permisi," ucap Dokter kepada mereka.

"Lean kamu ikut saya sebentar," ajak Aksa kepada anak pertamanya itu. Lean tak menjawab sedikitpun, ia masih sibuk menatap kearah kaca yang memperlihatkan tubuh Lisa terbujur lemas disana. "Kamu dengar saya!" sentaknya.

"Pa, udah Pa," Bara menghentikan Aksa, "Biarin dia sendiri dulu, kalo Papa terus-terusan maksa dia, itu bakal memperburuk keadaan," mohon nya pada sang Papa, agar beliau berhenti untuk mengganggu Lean.

Lean yang mendengar itu terkekeh pelan, "Lo mau liat gue sehancur apa sih?" kini ia berbalik arah menatap kearah Aksa. Aksa semakin kesal dengan ucapan Lean, ia maju dan menarik kerah Lean kuat, "Kenapa gak sekalian lo bunuh gue aja dari dulu?" air mata Lean mengenang.

Aksa dengan rematan pada kerah Lean itu pun melemas, "Kenapa lo nyelametin gue kalo ujung-ujungnya lo juga bakal hancurin gue?" ucapnya lirih, kali ini air matanya tak bisa berhenti. Setelah rematan tangan Aksa terlepas, kini giliran Lean yang mencoba untuk mencekik leher Aksa.

Semua orang dibuat terkejut bukan main dengan kejadian itu, Lean benar-benar membabi buta, Bara, Nara dan Lena mencoba untuk menghentikan cekikan tangan Lean. "Ley lepasin,"

"Kakkk sadar Kkakkkk!" Lena semakin menangis, "Tolonggggggg.." teriaknya tak berdaya.

"INI YANG LO LAKUIN KE GUE DULU KAN! SAAT GUE GAK SENGAJA NGELIAT LO SAMA PELACUR ITU. LO LANGSUNG MAU BUNUH GUE KARNA TAKUT GUE BAKAL NGADU KE IBU! KENAPA BERHENTI? APA HARUS GUE AJARIN DULU?" Lean tertawa kencang dengan tangannya yang masih mencekik Aksa kuat, kini Aksa mulai kehabisan nafas, sampai tiba-tiba security dan beberapa perawat datang untuk menghentikan aksi Lean.

"Ku-rangg aj-aaharrr uhunkkk," Aksa yang berhasil lepas dari Lean kini menarik nafas panjang, wajahnya memerah darah, dan ia menatap Lean yang kini tengah tertawa senang seakan-akan ia tengah menikmati sebuah permainan.

"Gimana rasanya, HAHAHAHAHA." Lean mengucapkan itu tanpa rasa bersalah sedikitpun, Nara yang menyadari bahwa Lean sudah kehilangan kesadarannya pun langsung menarik Lean untuk menjauh dari sana.

***

Hi, How u doing? and How's life?
untuk tau kelanjutan dari cerita ini kalian bisa bantu untuk klik logo star yang ada di halaman paling bawah.

Terimakasih sudah selalu setia menunggu aku dan Leandro untuk tampil kehadapan kalian, jangan lupa kalau ada yang ingin di sampaikan, bisa langsung comment atau dm aku di ig @silessly

Love you all🫶

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jan 14, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

LEANDRO (untuk Nara) NEW VERSIONTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang