SELAMAT MEMBACA
Gelap
20 Maret 2022
"Bara! Bara bangun Bara, ini aku, Bara aku mohon bangun...," tangisan gadis manis itu semakin menjadi saat darah yang keluar dari mulut bara semakin mengucur, Nara khawatir, ia ketakutan dalam gelapnya malam, gadis itu mencoba untuk mengusap air matanya, menarik nafas dalam, lalu menyentuh tubuh Bara.
"Bara kamu gak sendirian Bara, ada aku disini, aku gak akan tinggalin kamu Bara, emhhh," gadis dengan tangan gemetar itu mencoba sekuat tenaga untuk menjunjung tubuh Bara, berat yang Nara rasakan terkalahkan oleh rasa takut bahwa Bara nya akan terluka.
Nara masih menangis, perlahan ia membopong lengan bara di pundaknya, "Bara aku takut Bara, kamu tau aku gak suka gelap, buka mata kamu Bara, please, temenin aku bentar aja Bara," isakannya semakin terdengar, ia berjalan dengan sangat perlahan, tak menyerah walau dirinya begitu mungil bila harus membopong tubuh atletis seorang Bara Nakula.
Bara mengenal isakan itu, alam bawah sadarnya meraung ingin bertemu dengan sosok yang telah membuat gadis nya menangis seperti yang di dengarnya saat ini, "Eungh," Bara sadar, selalu seperti Bara yang sebelumnya, tidak penah berubah, Bara Nakula adalah seseorang nomor satu yang tidak akan pernah bisa membiarkan Nara Kalyana menangis sendirian.
Nara menghela nafasnya lega, sebelumnya Nara berhasil mengeluarkan dirinya dan Bara dari ruangan perpustakaan itu, "Bara," sendunya, gadis itu bersimpuh di bawah Bara yang tengah terduduk di depan ruangan perpustakaan.
Gadis manis itu menatap mata Bara yang baru saja terbuka, air mata nya mengalir deras tanpa suara, Bara mengetahui situasi ini, mungkin dirinya tak sadar, tapi sekali lagi alam bawah sadarnya mengenal situasi yang baru saja mereka alami.
Bara Nakula, lelaki manis itu, merenggut tubuh Nara dalam pelukannya, menenangkan ratu nya, memberi Nara kehangatan dalam kegelapan yang begitu menakutkan bagi Nara. Nara menangis dengan amat, hatinya masih tak terima dengan apa yang baru saja ia alami, "Aku disini," suara itu masuk dengan begitu sopan di telinga Nara.
Nara berteriak dalam pelukan itu, "Aaaaaaaaaaaaaaaaaaa," tangisnya pecah.
"Hust hust, it's okay, aku disini."
"Mereka jahat Bara, ak-aku gak jahatin mereka," gadis dengan mata merah sayu itu mengangkat kepalanya, mengarahkan pandangannya tepat ke arah mata Bara, "Ta-tapi mereka selalu nyakitin aku Bara," ia mengadu seperti anak kecil yang telah kehilangan mainan karna telah berebut dengan temannya sendiri.
Bara mengusap lembut rambut Nara, mengangguk-angguk mengerti, membiarkan ratu nya melepas beban yang begitu menyakiti hatinya, "Sa-sakit Bara, ha-hati Nara sakittt."
Kembali memeluk kepala Nara dalam pelukannya, "Aku tau, aku tau," Bara ikut terisak, namun isakannya tak melebihi Nara, "Aku juga sakit, Nar...," kalimat itu terdengar begitu pilu.
Nara mengusap air matanya, "Bara sakit, mana yang sakit Bara?" Nara dengan sigap kembali berdiri, mencoba untuk melawan hatinya yang lemah, Bara adalah prioritasnya sekarang, ia tak mau ada yang lain menggangunya.
"Ayo kita ke rumah sakit, aku bisa bawa mobil, kemarin di ajarin om."
Bara tersenyum, bagaimana bisa gadis manis di depannya yang baru saja berteriak karna hatinya begitu kesakitan ini, tiba-tiba berubah menjadi gadis lugu dan bahkan bisa menghilangkan air matanya dengan begitu cepat.
KAMU SEDANG MEMBACA
LEANDRO (untuk Nara) NEW VERSION
Teen Fiction"NARA CUMAN PUNYA GUE ANJING!" Sentak Bara. "BACOT BANGSAT!" Mereka tetap saling pukul satu sama lain, wajah mereka juga sudah babak belur, hingga pelukan seorang gadis di salah satu punggung mereka, membuat jeda di antaranya, "Bara, udah Bara. St...
