SELAMAT MEMBACA
Nara Pergi
26 July 2021
"Kenapa aku ikutan di skors, Ley?" Lean keluar dari kamar mandi, dan tiba-tiba mendapat pertanyaan seperti itu.
"Aku bukan guru."
"Ya terus?"
"Ya aku gatau, Anna."
Nara berdecak kesal, ia tak suka jika urusan sekolah nya ikut terganggu karna masalah pribadinya.
"Nanti kalo aku di marahin mama gimana, Ley?" Ucapnya gusar lalu kembali duduk di tepi kasur.
"Ya gue gatau! Bukan gue juga kan yang skors lu!"
Nara terpekik kaget mendengar bentakan dari Lean. Setitik air mata menuruni pipinya yang mulus, "Kenapa kamu makin kasar sih ke aku?" Lirihnya.
"Udahlah An! Gue capek." Membuka pintu lalu ia keluar setelah mengatakan itu.
Nara menunduk, ia menangis. "Terus kalo kamu capek ... aku apa lagi, Ley?" Dialog nya dengan air mata deras.
Ia menghapus air matanya, berdiri lalu merapikan baju dan barang-barang nya. Nara ingin pulang, ia butuh waktu untuk menenangkan diri.
***
Lean saat ini sudah ada di sebuah rumah besar dengan nuansa putihnya yang indah. Ia memasuki rumah itu tanpa ragu, berlari kecil ke atas tangga, laku menuju ke dalam kamar.
"Lo bilang apa aja ke Pak Anto?" Tanyanya tiba-tiba.
Lama tak mendengar jawaban Lean kembali bersuara, "Jawab anjing!"
"Apasih lo! Berisik tau gak."
"Jangan pikir karna lo cewek, gue bakal diem aja kalo lo gangguin Nara. Ini peringatan buat lo, gapeduli lo adik gue ato bukan, lo tetep bakal ancur di tangan gue." Setelah mengucapkan itu, dia keluar kamar dan berlalu pergi.
"Kak! Kakakkkk!" Teriak seseorang dari kamar itu.
Sesampainya Lean di bawah, ia disambut oleh sang Ibu, "Nak kapan kamu dateng, kok Ibu ga denger suara kamu."
Lean mencium tangan Ibunya laku mencium pipi kanannya juga, "Lean ga lama Buk, kesini cuman mau ngobrol sama Lena."
"Loh kamu nggak mau ketemu Ibu? Kenapa cuman Lena yang diajak ngobrol."
"Lena gangguin Anna lagi, makanya Lean tegur." Jelasnya singkat.
"Aduh anak itu emang sukanya cari gara-gara, maafin adekmu ya Ley." Ucap Ibu Lean sambil mengusap-usap rahang Lean lembut.
Lean mengangguk sebagai jawaban, takningin memperpanjang dengan membantah perkataan Ibunya, "Buk, Lean mau pulang, kasian Anna dirumah sendiri."
"Oh, iya Nak. Besok Anna nya di ajak kesini lagi ya, Ibuk udah kangen banget."
Lean tersenyum, "Iya Buk ... kalo gitu Lean pamit." Mencium tangan Ibunya juga mencium pipi sang Ibu.
***
Nara saat ini sudah berada di stasiun, menunggu kedatangan kereta yang akan membawanya pergi jauh dari kota. Ia akan pulang, ke tempat dimana memang seharusnya tak pernah ia tinggalkan. Tak berpamitan pada Lean, juga sudah memblokir seluruh akses untuk Lean dapat menghubungi atau menemukan nya.
Sikap kasar Lean rupanya mampu membuat nya merasa lelah, lama Nara menunggu akhirnya keretanya datang. Ia segera berdiri dan membawa bawaannya untuk segera masuk ke kereta.
Hingga ketika saat langkah kakinya hampir menyentuh sisi pintu dari kereta, ternyata sudah ada Lean yang menariknya kencang, membawa Nara mundur dan memeluk Nara erat.
"Jangan tinggalin aku Anna." Ucap Lean sendu.
"Aku capek Lean!" Teriaknya di depan umum, melepas pelukan Lean, lalu kembali berucap, "Aku capek sama sikap kamu, tingkah kamu, kekasaran kamu! Aku capek."
"Maaf maaf maaf."
"Aku mau pulang, pliss ijinin aku pulang." tetesan air mata Nara mulai berubah menjadi aliran air mata.
"Nggak Anna, plis plis jangan tinggalin aku Anna."
Tidak tega melihat Lean yang memohon-mohon padanya, ia mendekat lalu memeluk Lean erat, "Jangan kasar lagi." Paraunya dalam pelukan itu.
Lean mengangguk, memeluk Nara erat, mencium-cium pucuk kepala Nara. Mereka berdua larut dalam pelukan hangat nya, tak tau betapa-
"Mbak, mbak bangun mbak." Suara asing itu membangunkan Nara dari tidurnya. "Emhh." Lenguh nya.
"Kita udah sampai tujuan mbak." Ucap pramugari kereta itu pada Nara.
Sadar akan dimana nya dia saat ini, Nara mengangguk canggung, "Ah iya mbak, terimakasih."
Pramugari kereta itu mengangguk, lalu mencoba mengambilkan barang-barang Nara, "Mari saya bantu."
✄✄✄
To be continue (☞゚ヮ゚)☞
press the star button (vote), to support me.
thankyou :*
KAMU SEDANG MEMBACA
LEANDRO (untuk Nara) NEW VERSION
Teen Fiction"NARA CUMAN PUNYA GUE ANJING!" Sentak Bara. "BACOT BANGSAT!" Mereka tetap saling pukul satu sama lain, wajah mereka juga sudah babak belur, hingga pelukan seorang gadis di salah satu punggung mereka, membuat jeda di antaranya, "Bara, udah Bara. St...
