Semalaman Ruvha tidak bisa tidur memikirkan caranya membatalkan pertunangan tanpa kekerasan. Tentu saja ia tidak ingin disiksa ibunya hanya karena menolak pertunangannya sendiri.
Pertemuan semalam mencapai keputusan yang telah final, Ruvha dan Zeris resmi bertunangan sebagai tanda kerjasama kedua keluarga. Seolah mimpi buruk untuk Ruvha. Ia terus memikirkan bagaimana cara mengatakan kepada kedua orang tuanya, mengatakan bahwa dia dan Zeris tidak menginginkan ini. Meski mustahil, Ruvha terus memikirkan jalan keluarnya.
Hanya satu yang muncul dikepalanya, ia harus membicarakannya langsung kepada mereka. Bisa saja kali ini pendapatnya didengarkan meski kemungkinan terburuknya ia akan disiksa oleh Miltha seperti biasanya. Ruvha sudah cukup mempersiapkan mentalnya, meski hal ini biasa terjadi namun tubuhnya tetap tidak bisa terbiasa dengan rasa sakit.
Keluar dari kamarnya Ruvha berjalan menuruni anak tangga menuju ruang kerja ayahnya. Mengetuk pintu sebanyak dua kali tanda permisi kemudian membuka pintunya perlahan. Didalam sana memperlihatkan sepasang suami istri itu, kedua orang tuanya, dengan tatapan dingin dan sangat jelas terdapat kebencian dimata ibunya. Ruvha hanya diam mengalihkan pandangan tanpa ekspresi.
"Nanti siang Zeris akan datang menjemputmu. Pastikan kau berdandan secantik mungkin, dan jangan melakukan hal bodoh. Gadis sial sepertimu harus bersyukur mendapatkan laki-laki dari keluarga terpandang seperti Zeris. Sekarang pergilah." Belum sempat mengatakan apapun, ibunya sudah lebih dulu berbicara dengan nada sinis, seolah didepannya sekarang bukanlah putrinya. Tak menanggapi apapun Ruvha cukup mendengar dan menurutinya lalu meninggalkan ruangan itu.
Mengurungkan niatnya karena rasa takut yang tiba-tiba muncul setelah mendengar suara ibunya. Suatu ingatan yang tertanam jelas dikepalanya. Bagaimana Miltha memukulnya, menjambak, melakukan berbagai hal kasar tergolong menyiksa terhadapnya.
Ruvha tetap tidak terbiasa dengan perlakuan itu, karena rasa sakit yang masih sama. Membuat air matanya selalu menetes ketika ingatan menyakitkan itu muncul.
•••
Seperti perkataan Miltha, ia harus berdandan cantik untuk pergi entah kemana bersama Zeris yang akan menjemputnya. Kali ini Ruvha mengenakan dress selutut berwarna pastel, dengan sneakers putih dan tas yang tersampir dibahunya dengan warna senada, gelang ditangan kiri juga kalung berliontin sederhana terpaut dileher jenjangnya, serta rambut panjang bergelombang yang dibiarkan tergerai dengan polesan make up natural, tak lupa parfum yang tercium samar.
Katakanlah ia cantik bahkan tanpa riasan dan baju mahal sekalipun. Tapi semua ini bukan untuk Zeris atau Miltha yang menyuruhnya, walaupun perintah ibunya menjadi salah satu alasan. Tapi sejatinya ia melakukan ini untuk diri sendiri, ia tidak mungkin keluar rumah dengan baju tidur, setidaknya ia harus memanfaatkan kekayaan keluarga kan.
Bel rumahnya berbunyi membuat Ruvha mau tak mau harus turun dan menghampirinya. Pintu utama sudah dibuka tapi sepertinya laki-laki itu enggan untuk masuk.
Ruvha berdiri didepan pintu menatap punggung Zeris dan memperhatikan penampilannya. Kemeja polos berlengan pendek dengan warna army serta celana hitam, sneakers putih dan jam hitam di lingkar tangannya. Terlihat rapi, tak sia-sia Ruvha sedikit berdandan, setidaknya mereka bisa berjalan berdampingan.
Ruvha menghampirinya tanpa niat memanggil dan saat itu pula baru tercium aroma parfum maskulin yang menguar dari empunya, aroma yang sama seperti pertama kali mereka bertemu.
Gadis itu memanggil pelan Zeris yang membuatnya berbalik dan diam sesaat memperhatikan penampilan gadis dihadapannya.
"Gue kira lo masih tidur, lama banget." Ucapnya ketus, langsung berjalan ke arah mobil tanpa basa basi menyenangkan lainnya. Ruvha hanya menghela napas dan mengatur emosinya.
Diperjalanan keduanya hanya diam dengan menatap keluar jendela dan fokus kedepan tanpa mau repot berkomunikasi untuk menghilangkan bosan. Sampai mobil itu berhenti didepan sebuah kafe yang familiar diingatan Ruvha, kafe dengan nuansa yang khas. Tapi kenapa mereka kesana, ia tidak merasa ini adalah kencan.
"Ngapain bengong? Turun." Zeris berkata datar namun terdengar menjengkelkan di telinga Ruvha. Gadis itu menurutinya dan mengikuti Zeris yang berjalan terlebih dahulu.
Mereka masuk kedalam dan naik keatas, ke lantai 2. Zeris melangkah kesalah satu kursi dengan posisi terbaik di cafe ini. Duduk begitu saja, mengabaikan etika seorang pria kepada wanita dari keluarga terpandang. Bukannya Ruvha gila hormat, ia hanya terbiasa dengan perlakuan sopan kolega ayahnya diacara-acara formal yang biasa ia datangi.
Kini mereka duduk disebelah jendela di sudut ruangan, disini tidak terlalu banyak meja sehingga jarak satu sama lain lumayan jauh sedikit memberi ruang untuk pembicaraan yang terbilang sensitif.
"Masih belum ngomong ke orang tua lo?" Tanya Zeris tanpa melihat kepada lawan bicaranya, ia hanya menatap keluar melihat lalu lalang orang dibawah sana, juga kendaraan yang lumayan ramai melewati jalanan didepan.
"Kenapa harus gue?" Dengan tidak bersahabat Ruvha bertanya seolah menuntut alasan masuk akal dari laki-laki didepannya, dan kalimatnya membuat tunangannya itu menoleh.
"Karena harus lo." Jawab Zeris terlihat tak suka, dia selalu memberi aura permusuhan. Apa yang salah disini? Ruvha juga tak menginginkan pertunangan ini, tapi kenapa seolah itu kesalahannya sehingga ia yang bertanggung jawab.
"Kenapa gue? Gue juga ga mau tunangan. Sepanjang malem juga gue mikirin cara buat batalin pertunangan tanpa ngerugiin gue sama sekali." Ujar Ruvha mengatakan yang sebenarnya, gadis itu sedikit kesal dengan perkataan Zeris yang seolah semua ini tanggung jawab Ruvha.
"Tanpa ngerugiin lo? Jadi lo mau ngerugiin siapa untuk itu?" Tanya Zeris dengan wajah dan nada dingin yang tampak jelas. Ruvha diam dan berpikir, sepertinya ada yang salah. Ruvha merasa kalau penyampaiannya sudah benar, tapi satu kesalahannya yaitu ia lupa kalau Zeris tak tahu yang ia alami selama ini. Jadi, bagi Ruvha penyelesaian semua ini berarti ia tak akan disiksa fisik bahkan mental oleh kedua orang tuanya, namun mungkin menurut Zeris kata itu memiliki makna berbeda seolah mengatakan kalau Ruvha akan melimpahkan seluruh tanggung jawab pembatalan pertunangan kepada orang lain dan berpotensi besar terhadap Zeris, mengingat kedua orang tua mereka sepakat dan setuju untuk itu.
"Yang penting pertunangannya batal." Jawab Ruvha sambil melepas cicin pertunangan mereka dan diletakkan diatas meja berlalu pergi meninggalkan Zeris yang diam menatap punggungnya menjauh.
Tanpa mereka berdua sadari, satu sama lain terjebak di arah yang sama. Mereka memiliki ketakutan yang sama dengan rasa sakit yang terlalu dalam terpendam.
Padahal dengan sebuah kata sederhana, mereka bisa memahami satu sama lain dengan mudah karena mereka mengalami hal serupa, dan jangan lupa, itu adalah borgol yang harus mereka buka.
Namun sekarang mereka harus memilih.
Mencari jalan dengan cara saling terbuka atau tetap diam dan sama-sama terluka.
.
.
.
.
.
.
Next...
Votenya jangan lupa-
Jangan jadi siders yaa :)
KAMU SEDANG MEMBACA
Halayacrep
Teen FictionJangan bertanya apa kesalahanmu. Karena aku yang salah... percaya bahwa kau akan memperbaiki segalanya ~Ruvha Wethaloria Gadis manis itu diam dengan tatapan terluka, mati-matian menahan air mata yang akan tumpah jika saja lelaki itu tak menatapnya...
