Seorang gadis duduk melamun didalam kamarnya sambil menatap keluar jendela. Ia tinggal seorang diri dirumah sederhana peninggalan kedua orang tuanya sejak lima tahun yang lalu.
Pada awalnya ia tinggal dirumah bibinya karena dia pun merasa kesulitan tinggal seorang diri diusianya yang masih belia dan terbiasa dengan kehadiran serta bantuan orang lain. Namun akhirnya ia memutuskan untuk kembali kerumahnya karena tidak tahan menjadi pembantu gratis dirumah bibinya itu.
Selama lima tahun terakhir ini dirinya dibiayai oleh kakek dari ibunya yang masih hidup walaupun tinggal di desa yang jauh darinya, dan sejak masuk SMA ia mendapat beasiswa dari yayasan Rafonso. Ya, yayasan milik keluarga Reiro. Sampai detik ini pun ia masih menikmati dana beasiswa yang cukup besar itu.
Aery gadis yang pintar, ia mendapat beasiswa karena kepintarannya dalam bidang fisika. Sudah banyak penghargaan yang ia dapatkan, tapi baginya yang hanya hidup sebatang kara semua itu percuma. Tidak ada apresiasi dari siapapun, tidak ada senyuman hangat yang menyambutnya dengan penghargaan yang ia bawa pulang. Hanya kekosongan nanhampa.
Sampai ia mengenal Zeris. Laki-laki yang selalu mendukungnya dan mengapresiasi semua pencapaiannya. Meski selalu dibully oleh beberapa gadis yang iri karena perhatian yang Zeris itu tunjukkan disekolah, ia sama sekali tidak keberatan.
Tapi itu tidak berlangsung lama, karena tiba-tiba ia mendengar kabar pertunangan Zeris dengan gadis bernama Ruvha.
"Aery?" Lamunannya seketika buyar saat seseorang memanggil namanya dari belakang. Ia menoleh dan mendapati sahabatnya berdiri diambang pintu tidak jauh darinya.
"Lusita, kapan lo sampe?" Tanya Aery ceria dan berjalan mendekat, mempersilahkan sahabatnya itu untuk duduk diranjang bersamanya.
"Udah dari tadi, tapi lo gue panggil ga nyaut-nyaut." Jawabnya yang sudah lama berdiri didepan pintu rumah Aery yang terbuka, karena gadis itu tidak kunjung keluar ia memutuskan untuk masuk dan mendapati Aery sedang melamun didepan jendela kamarnya.
"Sorry, suara lo ga kedengeran." Jawab Aery sekenanya.
"Lagian lo mikirin apaan sih? Bengong aja didepan jendela." Lusita tertawa sambil memukul pelan lengan Aery dengan bercanda.
"Ruvha." Jawaban singkat itu membuat Lusita terdiam. Ia menatap Aery dalam penuh makna, menghela napasnya tenang dan berbicara.
"Berhenti Ry. Lo ga bakal bisa ngelawan keluarga Ruvha. Bahkan Zeris ga mungkin bantuin lo." Lusita paham betul apa yang sahabatnya pikirkan saat ini. Aery pernah memberitahu niatnya untuk menghancurkan kehidupan Ruvha dan Lusita pun sempat beberapa kali ikut andil menyebarkan rumor tidak benar tentang gadis itu.
"Mungkin. Buktinya pertunangan mereka batal." Lusita kaget mendengarnya, ia sedikit tidak percaya perkataan gadis didepannya ini.
"Terus keuntungannya buat lo apa? Menurut gue mending lo berhenti deh. Terserah mereka masih tunangan atau ngga tapi lupain Zeris, laki-laki ga cuma dia. Lo ga bakal bahagia kalo gini terus!" Lusita sebenarnya sudah capek dan muak berulang kali mengatakan hal yang sama, meminta temannya itu untuk berhenti dan menjalani hidup dengan tenang namun perkataannya seolah tidak pernah didengarkan.
"Gue ga bisa Lus... Zeris satu-satunya orang yang ngedukung gue, dan lo tau kenapa orang tua gue meninggal? Malem itu mereka seharusnya pulang setelah jualan dari pagi sampe malem. Tapi mereka ditabrak truk dan ga dapet kompensasi atau keadilan apapun! Lo pikir gue bisa lupa?! Disaat orang yang seharusnya mati malem itu masih bisa hidup dengan tenang sampe sekarang!" Kalimat Aery membuat Lusita bingung dengan alis yang bertaut, ada kejanggalan dalam kalimatnya. Sebenarnya Aery menganggap dirinya apa? Apa dukungan dan apresiasinya selama ini tidak cukup sehingga dengan mudahnya dilupakan? Meski begitu Lusita berpikir sejenak dan kembali bersuara.
"Terus apa hubungannya dengan Ruvha? Cuma karena dia bahagia dan jadi tunangannya Zeris, lo mau lampiasin seluruh kekecewaan lo biar dia setidaknya ngalamin rasa sakit yang sama?! Dia ga tau apa-apa Ry, lo juga tau pertunangan mereka bukan atas kemauan Ruvha ataupun Zeris. Dan lo dulu ga gini, lo udah terima kematian orang tua lo, kenapa sekarang lo jadiin itu alasan untuk perbuatan lo ke Ruvha?" Masih mencoba menyadarkan Aery yang seolah dibutakan oleh kesedihan atas meninggalnya kedua orang tua yang sebelumnya sudah ia terima, lantas kenapa sekarang kembali mengingat kejadian itu dengan cara menyedihkan.
"Iya. Dulu gue dengan bodohnya mau nyerah dan mundur gitu aja, ngebiarin Ruvha dapetin Zeris sepenuhnya. Tapi gue ga bisa setelah tau semuanya."
"Semuanya?" Lusita semakin bingung dibuatnya. Seolah banyak sekali teka-teki disetiap kalimat yang Aery ucapkan.
"Waktu itu Zeris cerita tentang keluarga Ruvha, yang ternyata Ruvha punya kembaran dan udah meninggal lima tahun yang lalu karena kecelakaan. Beritanya sempet heboh karena mereka keluarga terpandang, dan setelah gue cari tahu, lo tau lus... ternyata itu kecelakaan yang sama, yang merenggut nyawa orang tua gue." Lusita baru mengetahui fakta itu. Sudah pasti ia sangat terkejut, namun tetap saja Aery tidak bisa menyalahkan Ruvha karena gadis itu pun kehilangan kembarannya, sama seperti kehilangan yang Aery rasakan, hanya karena kecelakaan yang tentu saja sama sekali tidak mereka inginkan.
"Tunggu... maksud lo? Gue bener-bener ga paham." Tetap menuntut jawab dari orang didepannya itu, Lusita semakin bingung dengan alasan Aery yang ingin menghancurkan kehidupan Ruvha. Semua alasannya terlalu ambigu dan tidak masuk akal. Bagaimana bisa Aery sebenci itu hanya karena Ruvha juga dalam kecelakaan yang sama dan tetap hidup.
"Zeris tau tentang kecelakaan itu dan nyeritain semua kejadiannya. Dia ga sengaja denger percakapan papanya dan orang lain lewat telpon. Ternyata mereka berniat ngebunuh Ruvha, entah karena apa. Setelah itu papanya buru-buru pergi sambil bawa pistol." Dengan pasti Aery mulai menceritakan alasannya melakukan semua itu kepada Ruvha, alasannya yang selama ini membenci Ruvha dan selalu ingin orang-orang ikut membenci gadis itu.
"Terus besok paginya, muncul banyak berita tentang anak dari keluarga Wethaloria yang meninggal dan koma. Zeris udah bisa nebak kalau itu karena ulah papanya, tapi ternyata dia salah. Yang meninggal bukan Ruvha, tapi kembarannya dan itu murni karena kecelakaan. Bisa dibilang rencana papa Zeris yang mau bunuh Ruvha malem itu gagal."
"Penyelidikan hanya berfokus pada Ruvha dan kembarannya. Ga ada yang menuntut keadilan buat orang tua gue... padahal seharusnya cuma Ruvha yang mati malam itu, tapi kenapa orang lain yang harus jadi korban. Kenapa orang tua gue yang harus pergi untuk selamanya!" Aery menangis histeris setelah menceritakan semua yang ia pendam sendirian selama ini, membuat Lusita terkejut karena ia sama sekali tidak menyangka ada kejadian mengerikan dibalik rencana temannya yang seolah menyimpan dendam pada Ruvha.
Lusita memeluk Aery yang menangis sesegukan, berusaha menenangkannya walaupun ia tahu itu percuma. Kejadian yang begitu membekas dan menyakitkan bagi Aery. Namun tetap saja rencananya untuk menghancurkan Ruvha tidak bisa dibenarkan, bahkan mereka tidak tahu kenapa gadis itu berniat dibunuh oleh ayahnya Zeris. Bahkan kecelakaan itu mungkin saja hanya kebetulan.
Ia berpikir lama, mencerna semua hal yang baru ia ketahui dan apa yang akan ia lakukan selanjutnya.
'Ternyata lahir dikeluarga kaya dan terpandang tidak semenyenangkan itu.' Batin Lusita menepis pandangannya yang selama ini salah.
Disaat suasana sudah lebih tenang, tiba-tiba ponsel Lusita berbunyi. Gadis itu mengangkat telponnya dan menunggu orang diseberang sana untuk bicara. Namun ekspresi yang Lusita tunjukkan membuat Aery bingung. Lusita tampak kaget, entah apa yang gadis itu dengar melalui telponnya.
"Kita ke pemakaman sekarang." Ujarnya dengan tiba-tiba dan langsung beranjak menimbulkan tanda tanya dikepala Aery.
Aery ikut beranjak dengan bingung dan bertanya, "Siapa yang meninggal?"
.
.
.
.
.
.
Next~
KAMU SEDANG MEMBACA
Halayacrep
Teen FictionJangan bertanya apa kesalahanmu. Karena aku yang salah... percaya bahwa kau akan memperbaiki segalanya ~Ruvha Wethaloria Gadis manis itu diam dengan tatapan terluka, mati-matian menahan air mata yang akan tumpah jika saja lelaki itu tak menatapnya...
