Siang yang terasa menakutkan bagi Ruvha, Reina, dan Zeris yang masih berada didalam ruang rawat yang Reiro tempati. Mereka berdoa dan memohon dengan sungguh-sungguh berharap Reiro baik-baik saja.
Setelah menit demi menit berlalu akhirnya kondisi Reiro kembali stabil membuat mereka bisa bernapas lega. Dokter mengatakan agar tidak terlalu banyak yang menemani pasien untuk menjaga kondisi tetap tenang. Mereka mengerti dan membiarkan Reina berada didalam untuk menemani Reiro.
Waktu berlalu tetapi Ruvha dan Zeris hanya duduk diam diluar tanpa repot untuk bicara atau melakukan hal lain. Beberapa menit lalu Alise serta Forgan baru kembali dari kantin rumah sakit dan sepertinya Reina memilih untuk tidak mengatakan hal menegangkan tadi, agar tidak menambah kekhawatiran Alise.
Tiba-tiba ponsel Ruvha berdering, ia melihat nomor tak dikenal menelponnya. Setelah menggeser ikon hijau ia dapat mendengar suara orang diseberang sana.
"Halo." Suara laki-laki tertangkap oleh pendengaran Ruvha, ia merasa tidak mengenalnya.
"Halo, ini siapa?" Tanya gadis itu.
"Gue Ruan, sepupu Foral." Jawaban itu membuat kernyitan didahinya, bertanya-tanya ada urusan apa sepupu temannya itu menelpon.
"Oh iya, kenapa?" Tanya Ruvha menanti jawab.
"Lo dimana?" Kali ini Ruvha semakin bingung dibuatnya, karena bukannya mengatakan kepentingannya menelpon, laki-laki itu malah seolah mengabaikan pertanyaannya.
"Rumah sakit." Meski begitu Ruvha tetap menjawab dengan singkat.
"Siapa yang sakit?" Kenapa laki-laki itu begitu penasaran, seharusnya langsung saja katakan apa yang ingin ia sampaikan.
"Reiro kecelakaan." Sedikit ketus Ruvha menjawab, saat ini ia sangat lelah dan Reiro yang sempat kritis tadi sungguh membuatnya kalut.
"Kayanya lo emang belum tau ya." Semakin tidak jelas, Ruvha mulai jengah dengan orang diseberang telpon ini.
"Belum tau apa?" Dengan malas ia menanggapinya.
"Foral meninggal." Dua kata barusan membuat Ruvha diam dan terkejut. Ia melotot tidak percaya, omong kosong apa yang baru saja ia dengar. Kali ini ia kesal dengan Ruan yang sudah kelewatan, jika ingin bermain-main laki-laki itu tidak seharusnya mengatakan hal itu sebagai bahan candaan.
"Lo pikir gue percaya?! Ga semua hal bisa lo bikin bercandaan." Ucapannya yang terdengar kesal itu berhasil mengalihkan atensi Zeris sepenuhnya, ia penasaran siapa yang menelpon Ruvha dan apa yang membuat gadis itu kesal.
"Dia ikut study tour peserta olimpiade ke Singapura sebagai perwakilan dari sekolah kalian. Gue rasa lo tau berita tentang kecelakaan pesawat semalem, dia ada dipenerbangan itu." Penjelasan Ruan tidak mendapat tanggapan apapun, Ruvha sungguh tidak percaya. Tidak mungkin temannya meninggal, sangat tidak masuk akal. Begitu pikirnya.
Namun ia mengingat beberapa hari yang lalu Foral sempat mengatakan kalau akan ikut study tour, tapi itu seharusnya bulan depan setelah olimpiade dilaksanakan. Lantas apa maksud Ruan barusan.
"Kenapa?" Zeris bertanya setelah melihat wajah Ruvha yang begitu syok diam membatu dengan ponsel masih ditelinganya.
Tidak mendapat jawaban apapun, Zeris mengambil alih ponselnya yang terlepas begitu saja dari tangan Ruvha.
"Halo? Lo siapa?! Lo ngomong apa ke Ruvha?!" Kesalnya karena mengira kalau orang itulah yang membuat Ruvha seperti ini, entah hal buruk apa yang ia katakan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Halayacrep
Roman pour AdolescentsJangan bertanya apa kesalahanmu. Karena aku yang salah... percaya bahwa kau akan memperbaiki segalanya ~Ruvha Wethaloria Gadis manis itu diam dengan tatapan terluka, mati-matian menahan air mata yang akan tumpah jika saja lelaki itu tak menatapnya...
