Reiro sudah siuman dan dokter mengatakan kondisinya membaik dengan cukup signifikan. Sejak semalam Alise tidak hentinya bersyukur dan Reina terus mencoba menghubungi Ruvha. Namun sepertinya telepon gadis itu tidak aktif. Mereka akhirnya menyerah membiarkan waktu berjalan dan menunggu gadis itu datang disore hari nanti seperti biasanya.
Namun, sampai matahari terbenam Ruvha tak kunjung datang. Reina bahkan Reiro selalu berusaha menghubunginya namun nomor gadis itu tetap tidak dapat dihubungi.
Pagi ini Reiro sudah diperbolehkan pulang dan pemulihannya dapat dilakukan dirumah. Merasa ada yang janggal karena Ruvha tetap tidak terlihat, akhirnya ia meminta Forgan untuk menghubungi Raflan meski ia sendiri tidak yakin pria itu mengetahui keberadaan Ruvha.
Benar saja, setelah menghubungi laki-laki paruh baya itu juga tidak mengetahui kondisi pasti anaknya sendiri karena mengurus pekerjaannya, meski ia mengatakan pekerja di kediaman Wethaloria selalu memantau Ruvha yang katanya baik-baik saja.
Namun, tetap saja Reiro merasa tidak tenang, belum sampai dirumahnya ia langsung meminta supirnya untuk menuju rumah gadis itu. Ditengah perjalanan ia mendapat kabar kalau Raflan bergegas pulang setelah menerima telpon dari kediamannya. Dan kabar itu membuatnya semakin tidak tenang seolah ada hal buruk yang terjadi.
Sesampainya dirumah Ruvha, Reiro melihat ambulance yang datang bersamaan dengannya. Ia berharap apa yang ada dipikirannya kali ini salah.
Belum sempat masuk kerumah Ruvha yang terlihat ramai oleh pekerja dikediaman itu yang tampak panik, pandangannya menangkap seseorang didalam gendongan Raflan dengan tangan dibalut kain putih yang sudah didominasi warna merah. Tubuh lunglai tak berdaya dengan mata yang tertutup lembut terlihat lemah dan tenang berbanding terbalik dengan semua orang yang menyaksikannya disana.
Pikiran yang memproses kejadian dihadapannya dengan lambat membuat Reiro terdiam, sampai sirine ambulance yang menggema dipendengaran menyadarkannya bahwa Ruvha tidak baik-baik saja.
Dengan cepat ia meminta supirnya untuk mengikuti ambulance yang membawa Ruvha, tanpa jarak sedikit pun. Meski begitu tetap saja ia tidak bisa menolong Ruvha, gadis itu sudah terlalu nekat dan menganggap nyawanya seolah tidak berarti apa-apa.
Reiro menyesal tidak langsung mencarinya ketika dirinya sudah siuman, ia menyesal tidak datang tepat waktu untuk mencegah Ruvha melakukan hal gila.
Sejak kapan gadis itu merencanakan semua ini? Kenapa ia menyerah dengan hidupnya? Apa yang terjadi selama ia tidak sadarkan diri? Apa yang ia lewatkan kali ini?
Semua pertanyaan dalam pikiran yang tidak dapat ia temukan jawabannya. Kepalanya terasa seolah akan pecah memikirkan kemungkinan terburuk yang akan terjadi.
Bagaimana kalau Ruvha tidak selamat? Bagaimana ia menjalani harinya tanpa gadis itu? Bagaimana ia bisa hidup tanpa kehadirannya? Bagaimana kalau senyuman yang selalu ia damba tidak akan ia lihat lagi dari gadisnya...
Halayacrep
Lagi-lagi Ruvha yang terlihat sangat rapuh terbaring dengan mata yang terpejam hanya bisa ia tatap sendu. Dirinya masuk kedalam ruangan setelah dokter yang menangani Ruvha memberitahu kondisi kesehatannya. Beruntung gadis itu dengan cepat dibawa kerumah sakit dan mendapatkan pertolongan.
Raflan menunggu diluar, enggan masuk dan hanya memastikan keadaan Ruvha melalui kaca dipintu ruang rawatnya. Laki-laki paruh baya itu tidak sanggup melihat putrinya lebih lama dalam kondisi lemah seperti sekarang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Halayacrep
Teen FictionJangan bertanya apa kesalahanmu. Karena aku yang salah... percaya bahwa kau akan memperbaiki segalanya ~Ruvha Wethaloria Gadis manis itu diam dengan tatapan terluka, mati-matian menahan air mata yang akan tumpah jika saja lelaki itu tak menatapnya...
