Perlahan Reiro mengoleskan salep luka pada bibir Ruvha yang berdarah akibat pukulan Zeris, juga pada lengannya yang terlihat lebam. Ia beruntung karena hari ini memakai mobil Reina, karena ternyata barang didalamnya cukup lengkap dan berguna. Terdapat kotak P3K, payung, bahkan sampai bantal dan selimut juga ada. Sepertinya kakak perempuannya itu suka tidur didalam mobil.
Setelah dengan telaten mengobati Ruvha, ia membereskan kotak P3K dan menaruhnya dibelakang serta mengambil selimut milik Reina. Meletakkan selimut diatas pangkuan Ruvha mengingat pendeknya rok yang gadis itu kenakan. Salahkan sekolah mereka yang memiliki seragam dengan rok sependek itu. Sepertinya ia harus mengubah peraturan seragam disekolah mereka, atau mungkin peraturan yang mengharuskan para siswi mengenakan celana.
Tapi dalam beberapa detik ia langsung mengenyahkan pikirannya, karena tentu saja itu tidak mungkin. Lagi pula dia tidak memiliki wewenang apapun untuk itu.
Setelahnya ia memakaikan seatbelt pada Ruvha yang hanya diam membiarkan Reiro melakukan semua itu untuknya. Melajukan mobil meninggalkan parkiran sekolahnya yang sudah sepi sejak tadi.
Sesekali Reiro menoleh kepada Ruvha yang masih diam menatap keluar jendela. Ia yakin gadis itu masih memiliki kenangan buruk tentang Zeris dan itu yang menyebabkan kondisinya saat ini. Ia merutuki kebodohannya yang tidak bisa menjaga Ruvha dengan benar. Seharusnya ia tidak perlu menahan pukulannya terhadap Zeris agar laki-laki brengsek itu tidak memiliki tenaga untuk melawan dan berakhir mengenai Ruvha. Ia meringis membayangkan pukulan yang terasa menyakitkan bagi Ruvha, juga lebam ditangannya yang menunjukkan betapa kuatnya Zeris menggenggam tangan mungil itu. Emosinya kembali mendidih mengingat perlakuan kasar laki-laki yang sayangnya pernah menjadi temannya.
Ia mencoba meredam amarah mengingat saat ini ada Ruvha disebelahnya. Reiro menghela napas pelan dan mencoba fokus pada jalanan.
Sampai ia menghentikan mobil itu didepan gerbang yang sangat besar dengan sebuah rumah megah. Ruvha menatap bingung rumah didepannya. Ini bukan rumahnya, kenapa Reiro membawanya kesini.
Gerbang itu dibuka oleh dua penjaga yang baru saja keluar dari pos jaga. Reiro melajukan mobilnya pelan menuju bangunan megah didepan sana.
"Rumah gue. Dari pada lo sendirian, mending gue bawa pulang." Ujar Reiro menjawab tanya yang tampak jelas diwajah gadis itu. Ruvha mengangguk mengerti seolah membenarkan perkataan Reiro.
Setelah turun dari mobil, Reiro berjalan lebih dulu dengan diikuti oleh Ruvha. Gadis itu cukup terkesan melihat isi rumah Reiro yang tampak cerah dan mewah tanpa sedikitpun hawa suram yang menyelimuti seperti dirumahnya. Ia terus berjalan masuk mengikuti langkah Reiro yang entah kemana akan menuntunnya. Sampai suara seseorang menginterupsi membuat keduanya berhenti dan menoleh.
"REIII! Kamu dari mana aja hah?! Make mobil orang ga bilang-bilang, kamu pikir mobil kakak angkutan umum apa?!! Lagian kenapa udah sore kam- eh... kaya kenal." Ocehan berisik Reina seketika berhenti ketika pandangannya jatuh kepada gadis disebelah Reiro yang hanya diam menatapnya, terlihat kaget.
Ia berjalan mendekat menatap gadis itu seksama, dengan dahi berkerut karena alis yang bertaut, Reina menurunkan pandangannya dan melihat name tag yang ada dibaju gadis itu.
"Ruvha?" Gumamnya menyebut nama yang tertera disana, ia merasa familiar dengan nama itu dan mencoba untuk mengingatnya. Sampai akhirnya...
"RUVHAAAA." Teriakan menggelegarnya memekakan telinga siapapun disana. Ia tersenyum gembira dan memeluk Ruvha dengan riang. Seolah bertemu keluarga yang sudah lama berpisah.
Sementara Ruvha kebingungan dengan gadis yang sembarangan memeluknya. Jangan lupa saat ini telinganya sakit akibat teriakan gadis itu. Namun, Ruvha hanya diam tidak merespon apapun dan membiarkan gadis itu eksited dengan kegiatannya. Karena ini rumah Reiro dan tentu saja ia tidak mau membuat masalah yang tidak berarti.
"Bisa diem ga sih?!" Reiro buru-buru menarik Reina menjauhi Ruvha. Sesenang apapun kakaknya yang super eksited itu, saat ini Ruvha belum mengenalinya.
"Vha, ini Reina, kakak gue. Sorry karena lo pasti kaget, dia emang sejenis orang utan lepas kandang jadi yah... agak ga terkontrol." Perkenalan yang Reiro katakan tentu membuat Reina tidak terima, ia langsung menginjak kaki Reiro dengan high heels lancipnya membuat laki-laki itu menarik kakinya cepat dan meringis kesakitan.
"Halo Ruvha! Aku Reina yang kebetulan kakaknya Reiro. Kamu ga perlu percaya omongan dia karena tadi pagi pun dia nipu dan bawa kabur mobil aku." Reina menyodorkan tangan kanannya untuk berkenalan dengan Ruvha, mengabaikan Reiro yang menatapnya dengan bola mata berputar jengah. Ruvha menjabat tangan Reina dan ikut menyebutkan namanya serta mengenalkan diri sebagai temannya Reiro.
"Yaudah, kalian have fun yaa... Kamu jangan macem-macem!! Awas ya, kakak aduin papa nanti!" Reina mengancam dengan menunjuk adiknya yang melirik tidak suka. Meski begitu Reiro mengiyakan perkataan Reina dengan malas dan cemberut. Terlihat lucu dimata Ruvha. Ia jadi merindukan Ravan.
Mereka berjalan semakin memasuki kediaman Rafonso hingga ke halaman belakang. Ruvha dibuat takjub ketika melihat rumah kaca didepan sana yang sangat indah dan asri. Reiro mengajaknya masuk hingga penampakan bunga-bunga cantik yang bermekaran dan terawat terlihat didepan matanya sekarang.
Seketika senyumannya mengembang dengan mata berbinar. Reiro senang melihat ekspresi Ruvha yang menggemaskan, ia sangat menyukainya. Sangat cantik, lebih cantik dari bunga-bunga dihadapannya.
Disaat gadis itu masih memperhatikan satu per satu jenis bunga didalam sana, tiba-tiba seseorang muncul lengkap dengan sarung tangan, pot kecil ditangan kiri, dan sekop mini ditangan kanannya.
Wanita paruh baya yang masih sangat cantik itu menghampiri mereka berdua dengan tersenyum. Sebelumnya anak lelakinya itu pernah mengatakan akan mengajak Ruvha ke rumah mereka dan sepertinya itu hari ini.
"Ruvha." Laki-laki itu memanggil gadis yang masih mengagumi bunga-bunga indah disekitarnya dengan pelan seolah memberi isyarat.
Ruvha yang merasa terpanggil menoleh kearah Reiro dan mengikuti arah pandangnya. Ia diam menatap seorang wanita yang berjalan mendekat.
"Mama gue." Lanjut Reiro setengah berbisik dan dibalas respon gadis disampingnya dengan tersenyum lembut menghampiri mamanya perlahan.
"Hallo tante apa kabar? Saya Ruvha tante, temennya Reiro." Sapa Ruvha dengan ramah langsung menyalami Alise yang sudah meletakkan apa yang ia pegang dan melepas sarung tangannya tepat ketika gadis itu berjalan mendekat.
"Ya ampun cantiknya. Kalian baru sampe?" Tanya Alise menatap keduanya bergantian yang dijawab anggukan pelan mereka berdua. Alise tersenyum melihatnya sampai pandangannya berhenti pada bibir Ruvha yang terluka, ia mengernyit dan menatap penuh tanya membuat gadis itu bingung harus melakukan apa.
"Bibirnya kenapa Ruvha?" Tanya Alise khawatir sambil memegang lengan Ruvha, menuntut jawab dengan tatapan yang lurus pada matanya.
"Kena pukul manusia bodoh." Jawab Reiro kesal mengingat alasan bibir Ruvha terluka dan jawaban itu mengundang pukulan Alise padanya. Alise tahu pasti siapa yang anaknya maksud, karena kedua anaknya selalu menyebut satu orang yang sama dengan julukan itu.
"Kenapa bisa?! Kamu gimana sih Rei?" Wanita itu memarahi anak laki-lakinya yang terkejut dibuatnya. Ia tahu salahnya tidak bisa menjaga Ruvha dengan benar, tapi sepenuhnya kesalahan ada pada Zeris.
"Ngga tante, bukan karena Reiro." Ruvha buru-buru mengklarifikasi berusaha menghentikan wanita yang menyalahkan anaknya sendiri, dan sayangnya Ruvha tidak memahami isi pikiran ibu dan anak itu.
Pada akhirnya Alise tetap menyalahkan Reiro karena tidak bisa menjaga Ruvha dan mengusirnya dari rumah kaca milik wanita itu. Reiro berjalan keluar dengan terpaksa dan wajah cemberutnya menunjukkan kalau ia kesal, meski begitu ia tetap membiarkan ibunya menghabiskan waktu bersama gadis manis yang ia bawa pulang.
Alise mengajak Ruvha berkeliling rumah kaca juga mengajarinya cara merawat bunga-bunga cantik yang sedang bermekaran itu. Sepanjang waktu dihiasi tawa ringan dan ceria keduanya karena tidak membutuhkan waktu lama bagi mereka untuk nyaman pada satu sama lain.
Ruvha sangat senang dengan perlakuan Alise padanya. Wanita itu menunjukkan kasih sayang seorang ibu yang tidak pernah ia dapatkan. Sangat hangat dan menenangkan.
"Apa boleh aku menganggapnya ibu?"
.
.
.
.
.
.
NEXT-
KAMU SEDANG MEMBACA
Halayacrep
أدب المراهقينJangan bertanya apa kesalahanmu. Karena aku yang salah... percaya bahwa kau akan memperbaiki segalanya ~Ruvha Wethaloria Gadis manis itu diam dengan tatapan terluka, mati-matian menahan air mata yang akan tumpah jika saja lelaki itu tak menatapnya...
