Akhir?

176 6 1
                                        

Gadis manis itu duduk diatas kursi roda dibalik jendela yang menampakkan taman rumah sakit dengan beberapa orang dengan baju serupa dirinya. Berjalan santai dengan infus yang dibawa, namun membuatnya bertanya bagaimana mereka masih bisa tersenyum lebar dan tertawa dengan orang disebelahnya. Apakah karena mereka tidak sendirian?

Berbeda dengannya yang hanya diam bersama sepi, tanpa seorangpun yang menghawatirkannya. Ia tahu bagaimana takut dan khawatirnya Foral yang merupakan sahabatnya, namun rasa khawatir yang ditunjukkan oleh orang yang disebut keluarga bukankah lebih indah. Walaupun mustahil ia akan sangat senang bila hal itu terjadi.

"Tapi setelah dipikir-pikir, sendiri tidak seburuk itu." Pikirnya dan kembali menikmati pemandangan yang terbilang membosankan. Sudah beberapa hari ia berada dirumah sakit dengan ruangan yang sama dan rutinitas yang tidak jauh berbeda. Ia hanya akan makan, minum obat, istirahat, infus yang diganti secara berkala dan begitu seterusnya. Sebentar lagi seorang perawat akan datang dan mengganti infusnya yang hampir habis.

Cklekk...

Benar saja, pintu ruang rawat ini terbuka dan menampakkan seorang...

"Mama?" Gumam Ruvha setelah melihat sosok yang sama sekali tidak ia bayangkan.

Ada sedikit rasa senang ketika wanita paruh baya itu berjalan mendekatinya meski dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Senyuman ringan nan tulus terbit begitu saja diwajah manis gadis yang masih terlihat pucat itu, setidaknya ia masih memiliki harapan seperti orang-orang ditaman.

Namun, seketika senyuman itu luntur dan kembali raut kecewa yang dominan ketika jemari lembut yang sudah sedikit keriput itu mencengkeram dagunya kencang bahkan kuku-kuku panjang yang indah terawat itu menancap dipipi mulusnya.

Gadis itu meringis dengan memegang lengan wanita yang dipanggilnya mama. Sakit akibat kuku tajam dan cengkeraman kuat itu tidak seberapa dibandingkan sakit hatinya yang kembali kecewa.

Bodoh memang berharap pada apa yang sudah jelas tidak akan sesuai harapannya. Untuk apa membung waktu dan pikirannya pada harapan yang tak pernah nyata. Ia sudah terbiasa namun rasa kecewa itu tetap ada.

"Sudah kukatakan jangan membuat masalah apapun! Tapi kau malah mengacaukan segalanya!" Tatapan nyalang menyiratkan amarah yang tak pernah padam. Wanita itu melupakan fakta bahwa gadis yang ada dihadapannya ini adalah putrinya, gadis lemah diatas dikursi roda dengan infus yang masih terpasang serta wajah pucat yang sangat kentara.

Tatapan benci kini terlihat jelas diwajah Ruvha setelah mendengar kalimat yang Miltha lontarkan. Tidak bisakah ia menunjukkan sedikit saja rasa kemanusiaan. Bahkan hewan sekalipun tidak akan menyakiti anaknya.

"Kenapa?! Kau mulai berani hah?!! Singkirkan tatapan menjijikkanmu itu!!"

PLAKK

Tamparan kencang yang membuat Ruvha jatuh bersama kursi rodanya. Pusing melanda namun kalimat-kalimat kasar yang biasa ia dengar terus saja dilontarkan seperti nyanyian neraka baginya. Miltha tidak berhenti sampai disana, ia menarik paksa selang infus yang masih tertanam ditangan Ruvha membuat gadis itu meringis memegangi tangannya yang mulai mengeluarkan darah. Ia ingin melawan namun untuk bangkit saja ia tidak sanggup.

Ia hanya tertunduk menahan rasa sakit yang menyerangnya bersamaan, dan kali ini air mata yang tidak pernah menetes dari kedua matanya luruh begitu saja tanpa bisa ia tahan.

Suara nyaring akibat vas bunga yang Miltha lempar membentur dinding terdengar jelas. Menghujani gadis itu dengan pecahan kacanya.

Seketika pintu terbuka dan mengalihkan atensi keduanya. Foral dibuat terkejut dengan pemandangan didepannya. Segera ia berlari menghampiri Ruvha. Dirinya yang masih mengenakan seragam sekolah dibuat panik dengan kondisi didalam sana.

"Ruvha... kenapa bisa?..." Raut khawatir yang sangat jelas diwajahnya dengan memperhatikan keseluruhan tubuh temannya yang tak berdaya itu, bahkan ia takut untuk menyentuhnya, takut kalau gadis itu bisa hancur ketika ia sentuh. Sampai pandangannya berhenti pada tangan kiri Ruvha yang mengeluarkan darah, ia tahu pasti alasan kenapa darah itu mengalir.

Foral berdiri dan berbalik menatap nyalang wanita paruh baya yang berdiri tak jauh darinya.

"Tante Miltha!! Ga cukup selama ini udah nyiksa Ruvha, bahkan disaat dia sekarang hampir mati tante tetep belum puas?!!" Bentaknya tanpa rasa takut sedikitpun. Selama ini ia hanya diam karena keinginan Ruvha, ia selalu mencoba menutup mata atas seluruh penyiksaan yang dilakukan Miltha kepada Ruvha semata karena menghormati sahabatnya itu. Tapi kali ini sungguh sudah sangat kelewatan.

Namun, bukannya sadar dengan apa yang telah ia perbuat Miltha justru menatap kesal gadis dihadapannya. Ia menunjuk tepat didepan wajah Foral yang tidak mundur sesenti pun.

"Kamu tidak usah ikut campur urusan saya. Dia anak saya, jadi terserah mau saya apakan." Ujarnya seolah perkataannya adalah fakta mutlak yang tidak bisa ditentang siapapun. Foral tak habis pikir dibuatnya.

"Tante ga pantes disebut ibu. Setidaknya perlakukan Ruvha sebagai manusia!" Balas Foral tajam tetap menatap lurus dengan penuh amarah.

"Tidak ada yang meminta pendapatmu. Keluar dari sini!" Perintah Miltha dengan menunjuk pintu, namun Foral tetap diam enggan menurutinya.

"Tante yang harusnya kelua- PLAKK"

"MA!" Teriak Ruvha setelah melihat Miltha yang menampar Foral. Ia sangat terkejut, bagaimana bisa Miltha dengan berani menampar sahabatnya itu. Meski tak mudah Ruvha mencoba berdiri dengan sisa tenaganya, mencoba meraih tangan Miltha yang langsung ditepis oleh wanita itu.

Foral tetap ditempat dan kembali akan bersuara namun dengan cepat Miltha memotongnya, menunjuk wajah gadis itu serta menatapnya nyalang.

"Kamu siapa berani mengatur saya?! Saya tidak akan segan memukul gadis kurang ajar seperti kamu!" Terlihat jelas amarah diwajahnya, tanpa memikirkan kekacauan yang telah ia lakukan. Mendengar penuturan barusan, Foral tersenyum remeh dan maju selangkah tanpa rasa takut.

"Anda pikir saya takut?" Ia sudah muak dengan wanita tidak punya hati dihadapannya itu. Ingin rasanya ia mengamuk dan memukulinya membabi buta, namun ia masih memikirkan Ruvha.

Dengan kesadaran penuh ia melihat bagaimana tangan wanita itu kembali terangkat mencoba untuk kembali menamparnya. Namun hal itu tidak terjadi karena teriakan seseorang yang tak lain adalah Ruvha.

"MA! PLEASE... cukup." Gadis lemah itu terduduk dihadapan Miltha, memegang kaki wanita yang masih ia anggap ibu dengan kedua tangannya.

"Ruvha... jangan orang lain. Mama mau mukul? Pukul Ruvha. Nampar? Tampar Ruvha. Mama juga boleh bunuh Ruvha kalo itu yang mama mau." Ujarnya sudah tidak sanggup menahan gejolak hatinya yang sudah hancur. Bahkan ia tidak peduli jika harus mati ditangan ibunya sendiri.

"YA! Memang itu yang harus kamu lakukan. Menuruti semua perintahku dan nyawamu ada ditanganku." Ucapan angkuh yang siapapun tidak akan mengira kalau kalimat itu keluar dari mulut seorang ibu. Dada gadis itu sesak mendengar penuturan tak berperasaan yang sekali lagi berasal dari ibunya sendiri.

Cklekk...

Pintu ruang rawat inap yang berantakan itu kembali terbuka dan menampakkan seorang pria paruh baya yang barparas tampan meski sedikit terlihat kerutan diujung matanya. Ia berjalan mendekat dengan tatapan tajam yang menusuk. Menelisik keadaan dihadapannya yang cukup berantakan.

Menyadari batasannya, Foral memilih keluar dan membiarkan urusan keluarga itu selesai tanpa dia harus melibatkan dirinya.

"Miltha..." Terdapat jeda pada kalimat pria itu setelah memanggil nama istrinya yang kini masih diliputi emosi.

"Kau sudah kelewatan." Ujarnya yang sangat tidak terduga. Ruvha yang awalnya mengira pria itu juga akan meluapkan emosinya sangat kaget karena malah sebaliknya Raflan seolah membelanya, untuk pertama kali setelah kematian Ravan. Sama halnya dengan Ruvha, Miltha pun kaget dengan perkataan suaminya barusan.

"Penerbanganmu ke Kanada pukul 10.00, jangan kembali sebelum aku memintanya." Ucap Raflan dingin menatap lurus kepada istrinya yang menatap dengan tidak percaya.

"Kenapa? Kau mengusirku lagi demi anak perempuan itu?!"

.
.
.
.
.
.

Next~

HalayacrepTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang