Gadis itu duduk diam dikelas dengan guru yang mengajar didepan. Ia menatap kedepan tapi pandangannya seolah kosong pikirannya melayang jauh.
Sudah satu bulan sejak kepergian Foral, dirinya masih belum bisa percaya. Semuanya seolah mimpi dan ia berharap suatu saat dirinya akan terbangun. Namun seberapa keras pun ia mengelak, Foral tetap tidak pernah terlihat lagi. Meninggalkannya sendirian.
Sementara Reiro masih dirumah sakit, memejamkan matanya seolah tidak mau bangun lagi. Setelah berhasil melewati kritisnya dihari itu, Reiro tidak kunjung bangun dan dokter menyatakan dirinya koma. Setiap pulang sekolah Ruvha selalu mampir ke rumah sakit, hanya duduk diam disamping ranjang Reiro. Membujuk laki-laki itu untuk membuka matanya, namun sepertinya Reiro enggan, mengingat selama ini ia sama sekali tidak pernah meresponnya.
Disekolah tidak ada hal istimewa yang terjadi, pembullyan yang sebelumnya sempat terhenti kini mulai ia rasakan kembali. Bahkan beberapa orang yang tadinya tidak pernah mengganggu, sekarang ikut membully karena sebenarnya mereka hanya takut kepada Foral dan Reiro yang selalu disampingnya, dan faktanya saat ini mereka berdua tidak ada.
Bel istirahat baru saja berbunyi membuat guru yang tadinya mengajar kini beranjak meninggalkan kelas. Jika sebelumnya Foral akan memaksanya ikut ke kantin, kini dirinya tidak perlu memaksakan diri dan tetap berdiam dikelas tanpa melakukan apapun.
Ketika Ruvha menundukkan kepalanya diatas meja tiba-tiba air mengguyurnya dan tawa keras terdengar dari beberapa orang. Ember kosong ditangan seseorang itu ia tatap dalam diam, bersyukur karena itu bukan susu basi atau air kotor.
Masih terdengar tawa mereka, Ruvha berjalan keluar kelas dengan seragam yang basah. Cemoohan dia dengar disepanjang koridor, entah kenapa mereka sangat suka menggunjing seperti gonggongan segerombolan anjing.
Loker yang terkunci menjadi tujuannya kali ini, tempat para siswa menyimpan barang yang sekiranya tidak perlu dibawa pulang.
Membuka dengan kuncinya dan seketika tumpukan kertas jatuh berserakan. Sampah-sampah yang sengaja dimasukkan melalui celah dilokernya berhamburan dilantai. Lagi-lagi ia harus bersyukur karena itu hanya berupa sampah kertas, bukan sampah berbau busuk dan sejenisnya.
Memilih untuk mengabaikannya, Ruvha hanya mengambil seragam lain dari dalam sana. Ia memang sudah menyiapkannya, mengingat sekarang Reiro tidak ada disana untuk meminjamkan baju padanya.
Setelah berganti ia kembali kekelas, tetap mengabaikan semua perkataan orang-orang yang ia dengar disepanjang koridor sekolahnya.
"Liat wajahnya bikin muak ga sih."
"Bahkan Foral ga bisa bantuin dia lagi hahaha."
"Katanya pertunangan dia dengan Zeris dibatalkan."
"Ya iyalah, siapa sih yang mau tunangan sama dia? Apalagi sekelas Zeris pastinya ogah."
"Reiro jadi koma kan gara-gara dia."
"Orang tuanya aja kayanya ga nganggep dia anak lagi deh." Ruvha terhenti setelah mendengar kalimat itu dari seseorang yang tidak jauh darinya.
Kalimat-kalimat sebelumnya dapat langsung ia abaikan, tetapi kalimat barusan entah kenapa sedikit mengalihkan perhatiannya. Menoleh pada seorang gadis yang tertawa bersama yang lainnya, semakin mengejek ketika mata mereka bertemu tatap. Ia tidak mengenalnya, namun perkataan mereka sepenuhnya benar. Meski begitu ia memilih kembali pada tujuan awal, kembali kekelasnya.
Mejanya kembali dipenuhi sticky note berisi umpatan dan makian membuatnya mau tidak mau mengambilnya satu-persatu dan membuangnya kedalam tong sampah, karena sejujurnya ia merasa sedikit terganggu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Halayacrep
Teen FictionJangan bertanya apa kesalahanmu. Karena aku yang salah... percaya bahwa kau akan memperbaiki segalanya ~Ruvha Wethaloria Gadis manis itu diam dengan tatapan terluka, mati-matian menahan air mata yang akan tumpah jika saja lelaki itu tak menatapnya...
