Langkah besar Zeris yang sulit diimbangi oleh Aery, terbukti saat ini gadis itu ketinggalan sangat jauh dibelakang. Berkali-kali ia memanggil Zeris namun panggilan kerasnya seolah tak terdengar. Sampai akhirnya ia berdiri kesal dengan arah pandang yang menatap Zeris bingung, laki-laki itu melaju meninggalkan parkiran sekolah dengan motor sportnya tanpa menoleh kebelakang sedikitpun.
Gadis itu diam penuh amarah dengan laki-laki yang kini sudah tidak lagi terlihat. Merogoh saku baju dan roknya tergesa mencari keberadaan ponselnya. Mencari nama pada daftar kontak dan berhenti pada satu nama yang paling sering menghubunginya.
Meski kesal ia mencoba menarik napas dan menunggu sampai dering ponselnya berubah menjadi suara seseorang diseberang sana.
"Halo?" Kata itu membuatnya menghela napas pelan dan memaksakan senyuman meski orang itu tentu saja tidak dapat melihatnya.
"Aku masih di sekolah kalo kamu lupa." Kalimat yang mengakhiri sambungan telpon mereka tanpa jawaban lainnya. Gadis itu berdiri sambil menatap gerbang dimana pacarnya tadi pergi meninggalkannya.
Senyuman terpaksanya kini berubah menjadi senyuman lembut dengan sorot mata sendu setelah melihat seseorang itu datang dan menghampirinya.
"Sorry gue lupa tadi bareng lo." Ujar Zeris setelah menghentikan motornya dihadapan Aery dan menyerahkan helm yang memang biasa gadis itu kenakan. Mendengarnya Aery diam sejenak.
"Iya. Gapapa." Jawaban kikuknya menggambarkan semua yang ada dipikirannya. Perlahan menerima helm dan memakainya, kemudian mereka berlalu pergi meninggalkan sekolah.
Aery hanya diam memikirkan apa yang baru saja terjadi. Zeris terlalu asing baginya, laki-laki itu tidak pernah bersikap seperti saat ini. Kenapa Zeris berubah.
Mulai dari melupakannya dan pergi sendiri, menyebut dirinya sendiri dengan sebutan gue dan memanggil dengan lo terasa begitu asing, serta helm yang hanya Zeris sodorkan. Kemana perlakuan manis yang biasa ia terima? Dipasangkan helm seperti anak kecil, footstep yang dibuka sebelum menaiki motornya, juga memberikan jaket guna menutup rok pendek yang ia gunakan.
Ini pertama kalinya dan ia mencoba untuk memakluminya, karena perkelahian dengan Reiro tadi pasti membuat Zeris tidak dapat berpikir jernih. Namun satu hal yang benar-benar harus ia tanyakan nanti. Kenapa Zeris tidak memberi tahu apapun tentang pertunangannya.
Sampai didepan pekarangan rumahnya, Aery turun tanpa tangan yang biasa membantu memeganginya bahkan kata 'hati-hati' tidak terdengar kali ini. Sikap Zeris terlalu dingin tidak seperti biasanya. Tidak ada obrolan ringan dijalan atau sekedar basa basi, apalagi ajakan untuk keluar sore nanti.
"Zer-" Belum sempat ia menyelesaikan ucapannya, laki-laki itu langsung bergegas menancap gas setelah helm ia berikan. Lagi-lagi tanpa kata, bahkan sekedar berpamitan. Kembali untuk pertama kalinya ia merasa sangat asing dengan perlakuan Zeris, laki-laki yang selama ini hanya menatapnya seorang.
Halayacrep
Ponsel yang sedari tadi berdering tidak membuatnya bergerak dari posisinya semula. Ia duduk dipinggiran ranjang sambil menatap nama seseorang yang tertera dilayar ponselnya.
Puluhan chat bahkan telpon dari Aery ia abaikan, entah ada urusan penting apa sampai gadis itu tidak berhenti menghubunginya, padahal barusan gadis itu baik-baik saja setelah ia antar pulang ke rumahnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Halayacrep
Roman pour AdolescentsJangan bertanya apa kesalahanmu. Karena aku yang salah... percaya bahwa kau akan memperbaiki segalanya ~Ruvha Wethaloria Gadis manis itu diam dengan tatapan terluka, mati-matian menahan air mata yang akan tumpah jika saja lelaki itu tak menatapnya...
