Perjanjian

150 6 6
                                        

Mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi itu berisi dua orang yang panik karena tidak mengerti  situasi yang tiba-tiba mencekam.

Laki-laki yang mengendarai mobil tersebut terlihat takut akan sesuatu membuatnya terus melajukan mobil dengan kencang padahal saat ini hujan turun dengan sangat deras, sementara gadis disebelahnya ikut panik meski bingung dan terus bertanya apa yang menyebabkan laki-laki itu ketakutan.

"Ravan lo kenapa? Siapa yang nelpon lo? Berhenti dulu jelasin!" Gadis itu berteriak meminta penjelasan setelah terus mencoba bertanya namun tetap tidak direspon oleh laki-laki bernama Ravan, kembarannya sendiri.

"Ga bisa Vha! Lo ga liat dibelakang ada yang ngikutin kita?! Kalo gue berhenti kita mati Vha!" Kalimat tidak masuk akal yang Ruvha dengar membuatnya bingung.

"Justru kita bakal mati kalo lo ga berhenti! Lo baru bisa bawa mobil Ravan, bahkan SIM belum punya! Lo kenapa sih?! Nanti mama sama papa marah!" Ruvha tidak mau mengambil resiko dengan kecelakaan dimalam hari seperti ini.

"Lo ga paham situasinya Vha." Wajah ketakutannya tergambar jelas dan Ruvha semakin bingung dibuatnya.

"Makanya jelasin!" Bentaknya yang sudah kesal karena jawaban Ravan tidak menjelaskan apapun.

"Lo liat mobil dibelakang itu? Dia bawa pistol dan kita bakal dibunuh." Masih dalam kecepatan gila Ravan menunjuk spion dengan dagunya, memberi isyarat Ruvha untuk melihat kebelakang. Gadis itu menoleh dan benar saja ada satu mobil yang mengikuti mereka persis dibelakang mobil.

"Ga usah ngaco deh Van, lo tau dari mana dia bawa pistol?" Mengembalikan semua atensinya pada laki-laki yang sudah ia yakini kegilaannya. Apa yang Ravan katakan terlalu tidak masuk akal bagi Ruvha. Lagi pula siapa yang mau membunuh mereka berdua, anak dibawah umur yang masih sering menangis ini tidak memiliki pengaruh apapun bahkan setelah dibunuh.

"DIA YANG NELPON GUE!" Bentakan Ravan berhasil membungkam Ruvha.

"Dia nelpon gue Vha... dia ngancem gue... dia nyuruh gue kabur kalo ga mau mati. Tapi dia malah ngejar makanya gue ga bisa berhenti! Gue ga mau mati Vha." Kini air matanya luruh begitu saja, tubuhnya bergetar dan dia terlihat semakin ketakutan. Ruvha menatapnya, ia bingung harus bereaksi bagaimana, ia tidak tahu setakut apa Ravan sekarang.

"Lo kenal dia?" Tanya Ruvha mencoba tenang, berharap kepanikan Ravan berkurang.

"Ngga... tapi dia udah neror gue dari sebulan yang lalu."

Bohong. Apa yang Ravan katakan kepada Ruvha adalah kebohongan. Ia tidak pernah mendapat teror apapun, bahkan ancaman pembunuhan itu bukan ditujukan untuknya melainkan Ruvha.

Ia tidak sengaja mendengar percakapan Miltha dengan seseorang ditelpon. Mereka merencanakan pembunuhan, yang awalnya ia kira untuk rival perusahaan atau musuh ayah dan ibunya yang sering mengganggu stabilitas perusahaan tapi ternyata Ruvha adalah target pembunuhannya.

Ia sangat terkejut dan tidak menyangka kalau ibunya sendiri mau membunuh kembarannya. Tidak bisa berpikir jernih, Ravan buru-buru ke kamar Ruvha. Membangunkan gadis yang masih tertidur pulas tanpa tahu seseorang berniat membunuhnya.

HalayacrepTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang